Doa Witir di Pojok Masjid Bawa Santri Yogya ke Harvard

Reporter : Eko Huda S
Rabu, 20 April 2016 09:29
Doa Witir di Pojok Masjid Bawa Santri Yogya ke Harvard
"Man jadda wa jada, sering kali diucapkan oleh kyai saya untuk memberi semangat kepada para santrinya agar terus berusaha sekuat tenaga untuk mencapai mimpinya," ujar Waskito.

Dream - Waskito Jati. Dialah santri Indonesia yang tengah merajut asa di Universitas bergengsi, Harvard. Alumni Madarasah Aliyah Ali Maksum, Pondok Pesantren Krapyak, Bantul, Yogyakarta, itu meraih beasiswa untuk melanjutkan studi di Program Master of Theological Studies (MTS) di Harvard Divinity School.

Pemuda 26 tahun ini memang punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke program master di universitas terbaik dunia itu. Namun semula, dia menganggap keinginan itu hanya mimpi, ragu apakah keinginan itu bisa digapai. Meski begitu, dia tak patah arang dan terus berdoa.

“ Tujuh tahun yang lalu, setelah membaca doa witir di pojok Masjid al Munawwir di Pondok Pesantren Krapyak, saya menggumamkan doa yang saya sendiri sedikit tidak yakin jika doa ini masuk akal,” kata Waskito, sebagaimana dikutip Dream dari laman nu.or.id, Selasa 19 April 2016.

Bintik keraguan itu membayanginya, karena tak ada ‘tradisi’ sekolah tinggi di dalam keluarganya. Namun dalam doa itu, Waskito memohon kepada Allah agar memberinya kesempatan belajar di Harvard.

“ Mengingat ibu saya yang hanya lulus SD dan ayah saya yang hanya lulus SMP, wajarlah jika saya berpikir mungkin doa ini agak terlalu berlebihan,” tambah dia.

Meski ragu, bukan berarti Waskito menyerah. Dia terus melambungkan permohonan itu pada yang Maha Kuasa. Dan tentu dengan kerja keras, belajar tanpa kenal lelah. Hingga akhirnya doa itu terjawab.

Man jadda wa jada, sering kali diucapkan oleh kyai saya untuk memberi semangat kepada para santrinya agar terus berusaha sekuat tenaga untuk mencapai mimpinya,” ujar Waskito.

Dan kini, dia sudah mendapat email dari Harvard University. Dia menjadi salah satu dari sedikit mahasiswa yang lolos dalam program Master of Theological Studies (MTS) di Harvard Divinity School dengan jurusan Islamic Studies.

“ Ternyata doa saya menjadi kenyataan, dan ternyata usaha saya adalah tidak sia-sia,” ucap Waskito.

Baca selengkapnya di tautan berikut ini.

1 dari 2 halaman

Mahasiswa Universitas Indonesia Kalahkan Harvard

Dream - Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) menyabet prestasi gemilang. Mereka menjadi jawara di ajang the 21st Willem C Vis International Commercial Arbutration Moot (Vis Moot).

Prestasi itu diraih dengan menyisihkan 291 univeritas ternama dari 67 negara. Sebut saja seperti Yale Universitu, Harvard University, University Collage London, King's College London, Leiden University dan University of Washington.

Kompetisi bergengsi ini merupakan ajang pembuktian bagi para mahasiswa yang menjadi calon advokat. Mereka melakukan simulasi layaknya ruang persidangan. Acaranya digelar 6 April 2014 di Praha, Republik Cheko.

" Ini bukan teori. Betul-betul praktek, ada kasus lalu dipelajari dan diperdebatkan," kata Farida Haryoko, Kepala Kantor Komunikasi UI, 25 April 2014.

Tim FHUI bukan hanya menang di satu ajang kompetisi. Mereka juga meraih posisi 2 dalam The 4th Budapest (CEU) Vis Pre-Moot and Conference on International Commercial Law and Arbitration, 9 April 2014 di Budapest, Hungaria.

Serta mendapat Honorable Mention of Frederic Eisemann Award. Tim ini terdiri dari 5 mahasiswa FHUI. Mereka adalah Jeremiah Purba mahasiswa FHUI angkatan 2010, Artika Nuswaningrum mahasiswa angkatan 2013, Putri Meisita Kusuma mahasiswa FHUI angkatan 2010, Kezia Minar Paladina mahasiswa FHUI angkatan 2012, dan Asri Rahimi mahasiswa FHUI angkatan 2011.

Sebagai individu, Asri Rahimi, juga membawa pulang Honorable Mention of Martin Domke Award, 17 April 2014. Dia terpilih sebagai oralist terbaik pada ajang yang berlangsung di Wina, Austria.
Menurut Farida, Tim FHUI selama dua tahun terakhir selalu masuk dalam jajaran 64 fakultas hukum terbaik dunia.

Prestasi tim kali ini akan makin mengukuhkan nama besar UI. Sebab Willem C Vis International Commercial Arbitration Moot merupakan ajang kompetisi arbitrase internasional terbesar dan paling bergengsi di dunia. (Ism) 

2 dari 2 halaman

Dua Mahasiswa ITS Sabet Penghargaan Bergengsi di Harvard

Dream - Dua mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember  Surabaya (ITS) berhasil menyabet penghargaan bergengsi dalam kompetisi Harvard National Model United Nations (HNMUN) 2015 di Harvard University, Ameriksa Serikat. Kompetisi ini merupakan ajang simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang paling bergengsi di dunia.

Dikutip Dream dari laman its.ac.id, Selasa 3 Maret 2015, kedua mahasiswa itu adalah R Aditya Brahmana dari jurusan Teknik Informatika dan Yabes David Losong dari Teknik Mesin. Keduanya berhasil meraih The Best Social Venture Challenge, meski datang dengan predikat pendatang baru dalam ajang dunia ini.

Aditya dan Yabes berhasil menyisihkan sekitar 3.000 mahasiswa dari 70 negara. Mereka berdua dianugerahi satu dari lima penghargaan yang diperebutkan dalam kompetisi tersebut. Dengan penghargaan ini, Aditya dan Yabes menempatkan nama ITS di posisi puncak di antara pemenang lain.

Penghargaan Social Venture Challange (SVC) merupakan gelar juara yang diberikan kepada tim yang memiliki proyek sosial berdampak paling besar bagi perekonomian masyarakat.

Lantas, proyek apa yang diangkat oleh Aditya dan Yabes? Proyek sosial yang mereka angkat adalah memberdayakan petani dan peternak di Desa Mojosari, Kabupaten Mojokerto, untuk membuat vermikompos berbahan dasar cacing tanah dan limbah kotoran sapi. “ Vermikompos tersebut kemudian dijadikan sebagai pupuk untuk meningkatkan produktivitas jagung saat kemarau,” ujar Yabes.

Proyek tersebut kemudian mereka bawa ke Harvard untuk dipresentasikan di HNMUN. Hasilnya, karya dua mahasiswa angkatan 2011 ini mendapat tempat di hati dewan juri. Menurut Yabes, juri sangat terkesan dengan proyek mereka karena berhasil mengubah sesuatu yang dianggap jorok oleh orang banyak, menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis tinggi. “ Orang bule itu bakalan terbuka pikirannya dengan hal yang menjijikkan, tapi bisa menghasilkan uang,” terang Yabes.

Dalam kompetisi itu, para kontingen mewakili sebuah negara. Sehingga negara akan dinilai keaktifannya dalam berdiplomasi dengan negara lain untuk memberikan resolusi terhadap permasalahan dunia yang sedang terjadi. Dalam hal ini, ITS berperan menjadi representasi dari negara Tanzania. “ Adapun SVC adalah cabang perlombaan dari HNMUN itu sendiri,” jelas mahasiswa asal Makassar itu.

Menurut Yabes, ITS tak main-main dalam bersiap mengikuti kompetisi ini. Tiga tim yang dikirim oleh ITS telah mempersiapkan diri sejak Oktober 2014. Meski baru pertama kali ikut dalam HNMUN, anggota tim yang berangkat telah memiliki berbagai prestasi dalam ajang MUN lainnya. “ HNMUN itu paling keras, seperti di PBB beneran, istilahnya the mother of MUN,” ujar Yabes.

Sementara, Aditya mengatakan, dengan prestasi ini ITS tidak hanya berprestasi di bidang teknik, tetapi juga bidang sosial yang bergengsi. Karena permasalahan yang dibahas di PBB tidak hanya berkutat mengenai sosial dan hubungan internasional saja, tetapi juga permasalahan alam dan eksakta yang membutuhkan campur tangan orang-orang teknik.

Beri Komentar
Umroh Bareng Pasangan, Foto Sweet Selebritis Saat di Mekkah