Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Kemiskinan Tak Menyurutkan Niatnya Untuk Mencapai Prestasi Terbaik (foto Ilustrasi)
Dream - Kerja keras hijaber bernama Zumrotul Choiriyah (23) terbayar sudah. Setelah ia berhasil menjadi wisuda Sarjana ke-LXV Diploma XV Magister (S2) XXXII Doktor (S3) VIII IAIN Walisongo.
Zumrotul diwisuda bersama 1.114 mahasiswa program Sarjana, Magister dan Doktor di universitas tersebut, pada Rabu kemarin. Saat diwisuda, gadis asal Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur itu, ditemani kedua orangtuanya.
Ia merupakan mahasiswa pertama yang mendapatkan Beasiswa Pendidikan Miskin Berprestasi (Bidikmisi), untuk Angkatan Tahun 2010. Sejak 2010-2013 lalu, jumlah mahasiswa miskin di IAIN Walisongo yang mendapatkan beasiswa telah mencapai 360 orang.
Kepala Bagian Akademik dan Kemahasiswaan IAIN Walisongo, Siti Nurfaizah mengatakan, Zumrotul mendapat predikat wisudawan terbaik karena mampu meraih nilai indeks prestasi 3,93.
Atas raihan prestasi tersebut, gadis kelahiran 11 November 1991 silam itu bisa melanjutkan kuliah S2 di IAIN Walisongo.
Pencapaian prestasi Zumrotul kali ini diluar dugaan dan terbilang istimewa. Sebab, Zumrotul merupakan anak buruh tambak ikan di Bojonegoro yang tidak terlalu menonjol di kampus.
" Jadi dia anak buruh tani yang terkadang juga membantu mencari ikan di tambak milik warga desanya. Ekonominya memang pas-pasan sekali. Saking miskinnya dia tidak pernah punya handphone," ujar Siti kepada Merdeka.com dikutip Dream.co.id.
Bagi mahasiswa jurusan Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi ini, berkuliah merupakan kebutuhan mewah. Namun siapa sangka, dari latarbelakang keluarga kurang mampu, prestasi akademik bisa diukir Zumrotul. Kemiskinan tidak menyurutkan niatnya untuk mencapai prestasi terbaik.
" Selama kuliah di sini, dia mondok di Ponpes As-Salawi Mangkang. Tapi kalau waktu libur kuliah dia memilih pulang ke Bojonegoro untuk mengajar TPQ di desanya," kata Siti.
Mengajar mengaji, kata Siti, merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan Zumrotul di desanya untuk menggerakan warga setempat mendalami pendidikan agama. " Bahkan, dia juga mengisi waktu luangnya dengan menjadi hafitz atau penghafal Alquran," urainya. (Ism)
Advertisement

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya

JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha