'Insinyur Tanpa Gelar, Muslim Tanpa Pamrih'

Reporter : Eko Huda S
Kamis, 22 Desember 2016 14:01
'Insinyur Tanpa Gelar, Muslim Tanpa Pamrih'
"Saya sampai belum sempat menyelesaikan rumah saya sendiri, karena banyak yang membutuhkan bantuan saya," ujar Sudiyo.

Dream - Satu desain bangunan tergambar di atas selembar kertas putih. Garis-garis ini rumit dengan hitungan angka-angka pasti. Gambar itu adalah sebuah desain perpustakaan impian yang sedari dulu dicita-citakan.

Dengan lihai tanganya menggambar garis-garis lurus dan presisi. Garis-garis yang menggambarkan pondasi dan sisi-sisi perpustakaan, dengan perhitungan matematis. Namun, siapa sangka pemilik pena itu bukan seorang sarjana teknik sipil. Melainkan, hasil seorang lelaki paruh baya bernama Sudiyo.

Ia merupakan salah satu warga kampung Rukem, Sidomulyo, Purwerejo, Jawa Tengah. Sudiyo bukan warga asli, namun ia sudah berdiam di Rukem beberapa tahun. Sejak ia menikah dengan seorang gadis Rukem.

Kini, kesehariannya bekerja sebagai buruh bangunan di kota maupun di desa-desa lain, dengan upah yang tak seberapa. Setiap hari, Sudiyo berangkat pagi buta dan pulang menjelang malam, untuk menghidupan istra dan kedua putra-putrinya. Seorang putri telah lulus sekolah kebidanan dan putra terakhirnya telah lulus SMA.

Lelahnya bekerja, tak membawa ia melupakan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Ia gemar menggemakan adzan dan iqomah.Sudiyo pun seringkali menjadi imam sholat Maghrib maupun Isya di Mushola Miftahul Huda.

Sebuah mushola dengan lebar 4x4 meter, dengan berbagai kegiatan di dalamnya setiap hari. Sudiyo menceritakan, pada awalnya mushola tersebut hanya berupa pos ronda seadanya. Kini, dengan berjajarnya sajadah tempat itu menjadi lebih layak dari sebelumnya.

Usai sholat, ia terbiasa memberikan tausyiah dan belajar mengaji Alquran bersama warga lainnya. Alhamdulillah, perlahan-lahan murid-muridnya mampu membaca Alquran dengan lancar. Ia pun berharap, dapat menularkan semangat membaca kepada mereka.

Karena baginya, buku adalah pengetahuan. Meskipun, ia tidak menuju pendidikan tinggi, tetapi ia faham tentang wahyu pertama kepada Rasulullah SAW adalah Iqro' (bacalah). Keterbatasan tidak menghalanginya keinginan mulianya itu. Kini, ia dikenal masyarakat sekitar sebagai ‘Kaum’, seseorang yang dituakan dalam urusan agama.

Enam bulan lalu, longsor meluluhlantakkan desa tempatya berdiam. Tak sedikit rumah yang roboh dan hancur tertmbun tanah akibat longsor, musim penghujan lalu. Tempat tinggalnya pun menjadi salah satu yang rusak parah.

Namun, ia tak sempat membetulkan tempat tinggalnya, karena harus membantu membuat rumah warga lainnya. " Saya sampai belum sempat menyelesaikan rumah saya sendiri, karena banyak yang membutuhkan bantuan saya," ujarnya.

Sambil membangun gotong royong, Sudiyo sudah dimintai tolong banyak warga untuk menggambar desain rumah yang akan dibangun. Alhamdulillah, ada bantuan pemerintah dan lemabaga swadaya masyarakat lain.

Tidak sampai tiga bulan, gambar-gambar yang diukirnya itu telah berubah menjadi puluhan rumah limasan khas Purworejo. Selama itu pula, tim Program PPPA Daarul Qur’an mendampingi Sudiyo untuk terus “ menjadi Muslim” dengan akhlak terbaiknya.

Paskalongsor, ikhtiar terus berlanjut, Sudiyo, warga, dan PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta terus berbenah. Menjadi hikmah, kerugian materi diganti materi, kesedihan diganti kebahagiaan. BNI Syariah dan Yayasan Hasanah Titik melalui PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta bekerjasama membangun Taman Baca Hasanah.

Rencananya, perpustakaan itu dibangun tepat di samping Musholla Mifathul Huda. Visinya adalah agar mushola menjadi pusat ibadah dan pembelajaran bagi masyarakat. Buku-buku pun telah dipersiapkan oleh Tim Program PPPA Daarul Qur’an sebanyak lebih dari 300 eksemplar dari berbagai kajian ilmu.

Sekarang, perpustakaan itu sedang dirampungkan pembangunannya. Sengaja dikebut, meski Sudiyo beserta warga lain harus tetap bekerja pada siang harinya. Sejak proposal disetujui, ia telah menyisakan waktu di malam-malam sebelum tidurnya agar anak-anak dan para warga bisa segera membaca, mengaji, dan mengkaji buku-buku.

Perlahan, lembar putih bergambar desain perpustakaan impian Sudiyo kini sudah terlihat meninggi dengan batu bata yang disusun bersama pasir dan semen. Bismillah, ini adalah hadiah akhir tahun yang mengagumkan untuk Sudiyo dan warga Kampung Rukem.

Semoga lekas memberi harapan perubahan yang lebih baik untuk saudara Muslim di Kampung Rukem, Purworejo, kampung segera bangkit setelah longsor dan trauma berkepanjangan. Insya Allah.

Sumber: pppa.or.id

Beri Komentar