Jody Broto Suseno dan Warung Kesuksesan Akhirat

Reporter : Puri Yuanita
Rabu, 10 Februari 2016 20:01
Jody Broto Suseno dan Warung Kesuksesan Akhirat
Ia memutuskan melakukan satu `langkah kecil`.

Dream - Pria itu tampak sibuk di dapur. Tangannya terampil meracik satu demi satu pesanan masakan pelanggan. Begitu hidangan selesai dibuat, dengan sigap ia antarkan sendiri ke meja pembeli.

Tak lama, satu per satu pembeli lain datang. Bukannya sebal, wajah pria itu mendadak sumringah. Kelelahannya sirna melihat wajah pembeli. Segera Ia bergegas menghampiri mereka.

" Selamat datang," sapanya ramah kepada pengunjung yang baru datang itu. Dengan cekatan ia menuliskan satu per satu menu pesanan pelanggan.

Tak jauh dari meja, di salah satu sudut restoran, sang istri tak kalah sibuknya. Di belakang meja kasir, wanita itu menghitung dan merinci angka demi angka total pembelian pengunjung.

Begitulah kesibukan pasangan suami-istri ini sehari-hari. Mengelola warung makan sederhana milik mereka. Bergulat berdua tanpa ada yang bala bantuan tambahan. 

Bukannya tak ada orang yang membantu, mereka memang sedang merintis bisnis warung makan. Belum terlintas di kepala mereka merekrut orang sebagai karyawan. Melihat warungnya tak sepi pengunjung saja, sudah syukur.

Namun perjuangan dan lelah seolah terbayar. Warung itu semakin membesar. Sosok pria yang cuma pemilik warung makan sederhana berubah menjadi pengusaha kuliner sukses. Tak dipandang sebelah mata, warung makan kecilnya kini jadi gerai kuliner populer nyaris di seluruh wilayah Indonesia.

Pria dengan senyum ramah dan seorang istri yang setia menemani itu adalah Jody Broto Suseno. Dia pemilik Waroeng Steak & Shake (WS). Tempat makan yang tak asing bagi para pecinta kuliner. Gerainya tersebar di mana-mana. Puluhan pengunjung menyemut tiap harinya. Tumpukan makanan bersertifikat halal senantiasa ludes dipesan.

Antrean pun tak jarang mengular. Bersabar menanti hanya untuk dapat tempat duduk di gerai WS. Seiring waktu, usaha milik Jody ini kian maju.

Dimulai dari sebuah mimpi, Jody nekat mewujudkannya. Di tahun 2000, sebuah gerai sederhana dibangun.

“ Setiap orang yang sukses itu dimulai dari impian yang kuat dan sungguh-sungguh,” kata Jody Broto Suseno.

 

1 dari 2 halaman

Berawal dari Impian yang Kuat

Pria yang sekarang sudah memiliki empat orang anak itu mengatakan, terkadang seseorang lupa dengan impiannya. Padahal, impian tersebut harus tertanam kuat, tak boleh pergi kemana-mana. “ Karena impian itu sama dengan niat,” tutur Jody.

Namun, impian itu mustahil akan berbuah keberhasilan jika tak dibarengi dengan kerja keras dan keyakinan pada Sang Pencipta. Berangkat dari prinsip itu, Jody pun memberanikan diri untuk memulai usahanya kala itu.

Ia memutuskan untuk melakukan satu “ langkah kecil”. Dengan harapan langkah kecil itu dapat berujung pada pencapaian yang besar.

Sebuah sepeda motor satu-satunya ia jual. Bekal untuk membuka usaha sendiri. Jatuh bangun, berbagai usaha dilakoni. Dari jual beli koran, parsel, susu segar, roti BBQ Bebakaran, kaos partai, Obonk Steak hingga akhirnya mendirikan usaha Waroeng Steak & Shake.

Kala itu tahun 2000. Uang Rp 8 juta sudah ada digenggamannya. Dari uang itu Waroeng Steak & Shake dibangun. Karyawannya pun cuma dia. Jody dan istrinya. 

“ Masa awal ini lebih banyak dukanya daripada sukanya,” kata Jody.

Namun, usaha ini tetap jalan. Jody bertugas memasak di dapur, istrinya melayani tamu sekaligus menjadi kasir, dan dua karyawannya menangani tugas lainnya.

“ Alhamdulillah, di tahun pertama masih bisa menggaji karyawan dan memenuhi kebutuhan keluarga, meski pas-pasan,” jelas Jody.

Interaksinya dengan pelanggan dan masukan yang mereka berikan membuat Jody terus berbenah. Ia berinisiatif membuat daftar harga dan dipasang di depan warung miliknya. Ternyata cara ini efektif. Tak lama berselang, banyak pengunjung datang dari berbagai kalangan memenuhi gerainya.

Tahun kedua, usahanya mulai menampakkan hasil. Pengunjungnya semakin stabil, bahkan ia tidak mampu melayani seluruh pengunjung. Maka Jody pun “ menggandeng” keluarganya untuk berinvestasi mengembangkan usaha ini. Ayah, ibu, paman hingga anggota keluarga lain diajaknya untuk berinvestasi dengan sistem bagi hasil.

Akhirnya usaha ini terus berkembang hingga memiliki 7 gerai. Barulah pada gerai ke-8 dan seterusnya Jody mampu mendanai sendiri gerainya, tanpa menerapkan pola franchise.

Belakangan, Jody juga kerap mengajak investor dari kalangan ustaz untuk turut terlibat mengembangkan usahanya di berbagai daerah di Jawa, Bali dan Sumatera. Sebut saja Ustaz Yusuf Mansur, Ustaz Edi Mustofa, dan Ustaz Endang ikut berinvestasi dalam bisnis ini.

“ Para ustaz itu saya ajak bergabung dengan usaha kuliner ini dengan harapan usaha ini memperoleh doa dari mereka,” terang Jody.

2 dari 2 halaman

Memegang Prinsip 'Spiritual Company'

Kini warung WS sudah semakin besar. Mengelola lebih dari 1.000 karyawan bukan urusan sepela. Tak sekadar memberdayakan para karyawan, Jody juga merasa berkewajiban ikut membangun spiritualitas orang-orang yang bekerja dengannya.

Awalnya, Jody hanya berpikir praktis dengan mengikutkan hampir seluruh karyawannya training ESQ. Namun atas masukan beberapa ustaz, Jody akhirnya menerapkan prinsip “ spiritual company”. Konsep bisnis yang jarang dipakai perusahaan.

Jody berniat membangun bisnis sekaligus meningkatkan religiusitas para karyawan. Tak hanya berorientasi pada keuntungan dunia, Jody ingin menjadikan bisnisnya sebagai media dakwah.

Setiap hari, absensi yang menunggu para karyawan untuk diisi adalah absensi Salat Duha. Jody juga menyediakan form khusus untuk hafalan satu juz ayat-ayat Alquran atau surat-surat pilihan. Bagi karyawan yang mampu menghafal satu juz, Jody akan memberikan penghargaan berupa hadiah Umrah.

Aturan spiritual company yang ia buat juga mewajibkan karyawan untuk berhenti merokok, menunaikan salat wajib tepat waktu, dan membaca Alquran satu hari satu juz. Ia juga menggelar pengajian rutin bagi para karyawan Waroeng Steak & Shake.

“ Bagi seorang pengusaha muslim tidak bisa tidak memegang etika bisnis yang Rasulullah SAW contohkan pada kita, yakni Sidiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah. Dan yang paling penting juga adalah jangan pernah melupakan Allah,” tegas Jody.

Cara berbisnis yang berorientasi pada 'kesuksesan akhirat' ini telah membawa usahanya berkembang pesat. Kini usaha Jody sukses merambah berbagai daerah di Jawa, Bali, dan Sumatera. Bahkan berkembang ke berbagai lini, seperti Bebaqaran untuk ikan bakar, Bebek Goreng H. Slamet, dan Festival Kuliner (Feskul).

Kini, selain sibuk mengurus usahanya, Jody bersama Ustaz Yusuf Mansur aktif pula mendirikan Rumah Tahfizh di berbagai penjuru Indonesia dan mengasuh ratusan anak untuk menghafal Alquran.

“ Saat ini sudah berdiri empat Rumah Tahfizh yang mengasuh 83 santri mukim dan 60 santri kalong, satu di antaranya adalah Rumah Tahfizh Waroeng Group. Alhamdulillah, usaha saya terbukti semakin meningkat,” ujar Jody yakin.

Beri Komentar