Kisah Dramatis Nelayan Aceh Selamatkan Pengungsi Rohingya

Reporter : Sandy Mahaputra
Rabu, 20 Mei 2015 13:43
Kisah Dramatis Nelayan Aceh Selamatkan Pengungsi Rohingya
Kapal nyaris tenggelam. Pengungsi melompat ke laut sambil histeris dan berteriak Allahu Akbar. "Mereka meminta tolong dengan bahasa mereka. Sedih kami melihatnya."

Dream - Aksi nelayan Aceh menyelamatkan ratusan pengungsi Bangladesh dan Myanmar yang mengundang simpati banyak orang.

Proses penyelamatan itu cukup dramatis karena kapal yang ditumpangi para pengungsi hampir saja tenggelam. Terlambat sebentar saja, korban jiwa bisa berjatuhan.

Ar Rahman, salah satu nelayan Aceh yang turut membantu proses evakuasi mengatakan, awalnya ia bersama nelayan lainnya mendapatkan informasi dari radio komunikasi mengenai kapal nyaris tenggelam di perairan Aceh Timur, Kamis 14 Mei 2015.

" Lalu saya dan kawan-kawan menuju lokasi untuk menolong mereka. Ketika sampai di sana kami melihat ratusan orang, laki-laki dan anak-anak, perempuan dan orang lanjut usia. Ketika melihat kami laki-laki melompat ke laut dan berenang, sedih kami melihatnya," kata Ar Rahman yang biasa disapa Pak Do.

Lebih dari enam kapal nelayan dari Langsa bergerak cepat memberikan pertolongan.

" Laki-laki melompat ke laut sambil histeris dan berteriak Allahu Akbar. Mereka meminta tolong dengan bahasa mereka," tutur Ar Rahman lirih kepada jurnalis BBC Indonesia dikutip Dream.co.id, Rabu 20 Mei 2015.

Mohamad Rofiq, salah satu pengungsi Rohingya dari Myanmar yang diselamatkan nelayan mengatakan, ketika ditolak masuk ke perairan Indonesia dan Malaysia, mereka diberi bekal makanan dan bahan bakar oleh angkatan laut kedua negara.

" Makanan hanya sedikit dan kami berikan untuk bayi terlebih dahulu. Kami sangat kelaparan dan lelah setelah terombang ambing di laut selama empat hari," kata pria berusia 21 tahun itu

Rofiq mengaku sempat mengungsi ke Bangladesh melalui jalan darat yang berbatasan dengan Myanmar.

Di sana, dia bertahan selama beberapa tahun sampai mendapatkan kartu pengungsi dari Badan PBB yang mengurusi masalah pengungsi (UNHCR).

Mohamad Rofiq asal Myanmar, memulai perjalanan dari Bangladesh ke Malaysia dua bulan lalu, dan kini terdampar di Aceh.

" Kami berada di laut selama dua bulan ke Malaysia, lalu ke Thailand dan bertahan di perairan negara itu selama kurang dari dua bulan. Kemudian kami disatukan ke kapal yang lebih besar menuju Malaysia. Tetapi di perjalanan kapten kapal meninggalkan kami," kata Rofiq yang keluarganya masih berada di pengungsian Bangladesh.

Nelayan aceh berhasil menyelamatkan 421 pengungsi merupakan warga Bangladesh yang semuanya laki-laki. Sementara pengungsi Rohingya berjumlah 256 orang terdiri dari laki-laki, perempuan dan anak-anak.

(Ism, Sumber: BBC Indonesia)

1 dari 4 halaman

Bertahan di Lautan, Pengungsi Rohingya Minum Air Seni

Bertahan di Lautan, Pengungsi Rohingya Minum Air Seni

Dream - Ratusan pengungsi muslim asal Rohingya terombang-ambing di lautan selama satu minggu dalam upaya mencari suaka ke beberapa negara seperti Thailand dan Malaysia. Mereka tidak memiliki bekal makanan dan minuman, sehingga harus meminum air seni untuk bisa bertahan hidup.

" Mereka memohon kami memberikan makanan dan air," kata wartawan BBC Jonathan Head saat melihat langsung kondisi para pengungsi itu. " Kami melihat mereka minum air seni mereka sendiri dari botol. Kami sudah melemparkan botol air untuk mereka, semuanya yang di kapal kami," tambahnya.

Sedikitnya 10 pengungsi tewas akibat kelaparan selama berada di Laut Andaman. Tidak ada satu negara pun, seperti Malaysia dan Thailand mau menerima mereka.

Diperkirakan sekitar 6.000 pengungsi muslim Rohingya melarikan diri dari negaranya dengan sejumlah perahu, terkatung-katung di tengah laut. Mereka tidak diakui oleh otoritas Myanmar sebagai warga negaranya, sehingga kerap mendapat kekerasan.

Disebut PBB sebagai minoritas yang paling teraniaya sedunia, muslim Rohingnya menghadapi diskriminasi di negaranya sendiri.

Meski PBB dan badan-badan bantuan internasional menyerukan pihak berwenang di Thailand dan Malaysia untuk menyelamatkan para pengungsi itu, namun sepertinya tidak ada yang peduli.

Phil Robertson, Wakil Direktur Human Rights Watch wilayah Asia mendesak komunitas internasional untuk menyelamatkan para pengungsi muslim Rohingnya.

" Mereka (Malaysia, Thailand dan Indonesia) sedang bermain ping pong karena saling tidak ingin menyelamatkan para pengungsi Rohingnya," ungkapnya.

(Sumber: Onislam.net)

2 dari 4 halaman

Filipina Hanya Mau Tampung Pengungsi Rohingya Berdokumen Resmi

Filipina Hanya Mau Tampung Pengungsi Rohingya Berdokumen Resmi

Dream - Filipina menyatakan bersedia memberi suaka kepada para pengungsi Rohingya. Hal ini merupakan bagian dari komitmen Filipina terhadap konvensi PBB tahun 1951 tentang Status Pengungsi.

" Filipina, sebagai negara yang patuh terhadap instrumen seperti Konvensi 1951 tentang Status Pengungsi, secara nyata terwujud dalam bentuk kerjasama dengan PBB dalam memberikan pertolongan terhadap orang-orang yang mengungsi dari kampung halaman mereka akibat konflik politik," ujar Sekretaris Bidang Komunikasi Pemerintah Filipina, Herminio Coloma Jr, dikutip dari abs-cbnnews.com, Selasa, 19 Mei 2015.

Sayangnya, Coloma tampak tidak sepenuh hati mengeluarkan pernyataan tersebut. Ini lantaran Filipina menerapkan syarat bagi mereka yang bisa mendapat suaka, yaitu harus memiliki dokumen perjalanan, dan bagi yang tidak memenuhi syarat akan ditolak masuk.

Kebijakan tersebut langsung menuai kecaman dari Human Right Watch. LSM internasional itu menyebutnya sebagai sikap dua muka yang tidak berperasaan.

" Kebijakan tidak berperasaan ini sama saja dengan mengutuk mati orang-orang perahu yang sudah putus asa, yang sudah sakit, kelaparan, kehausan, yang masuk ke perairan Filipina untuk mencari bantuan," kata Wakil Direktur Human Right Watch untuk Asia Phelim Kline.

Phelim mendesak Filipina berbuat jauh lebih baik bagi para pengungsi. Ini mengingat Filipina sebagai negara yang memiliki komitmen penuh terhadap Konvensi PBB.

" Filipina harus berbuat lebih baik lagi untuk orang-orang yang putus asa, wanita dan anak-anak yang terpaksa melaut akibat mengalami kekerasan di tanah kelahiran mereka, Myanmar," ungkap dia.

3 dari 4 halaman

Derita Rohingya, Ditolak Malaysia Diselamatkan Nelayan Aceh

Derita Rohingya, Ditolak Malaysia Diselamatkan Nelayan Aceh

Dream - Ratusan bahkan ribuan pengungsi muslim Rohingya, termasuk wanita dan anak-anak, terombang-ambing di lautan. Mereka mencoba mencari pertolongan agar terhindar dari kekerasan di tanah kelahirannya.

Harapan untuk bebas dari penderitaan adalah mengungsi. Malaysia dan Thailand adalah negeri yang ramah dalam pikiran mereka.

Berbondong-bondong mereka menuju dua negara itu, menggunakan perahu seadanya. Tanpa makan, tanpa minum, dan tanpa perbekalan yang memadai.

Mimpi mereka untuk mendapat perlindungan dan kebebasan harus pupus. Militer Malaysia dan Thailand menghadang perahu dan meminta mereka menjauh dari daratan negaranya.

Alhasil, mereka harus terkatung-katung di tengah lautan dan mulai kelaparan dan kehausan. Tidak sedikit dari mereka harus merenggang nyawa akibat tidak kuat menahan lapar dan dahaga.

Sedih, kecewa, putus asa menjadi hiasan mereka dalam melewati hari-hari. Selama seminggu lebih, mata mereka hanya melihat hamparan air Lautan Andaman.

Secercah harapan hidup kembali muncul ketika sejumlah nelayan Aceh menemukan mereka di tengah lautan. Para nelayan itu segera mendekat perahu para pengungsi, dan segera menyalurkan makanan.

Mereka lalu mengaitkan tali ke kapal para pengungsi itu. Tali terikat kuat, mesin menyala, dan kapal itu melaju menuju tanah harapan.

" Mereka mengarungi lautan selama beberapa hari, mungkin lebih, tanpa makanan maupun air. Kebanyakan mereka putus asa dan tertekan. Ada juga anak-anak yang masih sangat kecil," ujar Petugas Kantor Imigrasi Aceh Utara, Tegas, dikutip daricnn.com, Rabu, 20 Mei 2015.

Para pengungsi tersebut ditampung beberapa penampungan dengan pasokan logistik memadai dari pemerintah daerah setempat. Tetapi, lambat laun penampungan kian sesak, menyusul datangnya para pengungsi secara berangsur-angsur.

" Kami lakukan yang terbaik yang kami bisa tapi pasokan kami juga terbatas dan ini menimbulkan ketegangan di antara mereka," ungkap Tegas.

Kelompok pengungsi pertama ditemukan berada dalam enam perahu di dekat Lhokseumawe. Tidak jauh dari lokasi tersebut, ada perahu yang memuat 400 orang berusaha mendekat ke pantai Aceh.

" Kami mengirim beberapa tim untuk mengevakuasi perahu tersebut," kata Kepala SAR Aceh Budiawan.

Para pengungsi tersebut hingga kini masih berada di Aceh. Mereka mengharap bantuan untuk bisa lepas dari tekanan. 

 

4 dari 4 halaman

FOTO: Derita Pengungsi Rohingya

FOTO: Derita Pengungsi Rohingya

Dream - Sedikitnya ada 370 etnis Rohingya asal Myanmar dan 420 pengungsi Bangladesh terdampar di perairan pantai Langsa, Aceh pada Jumat 15 Mei 2015 lalu. Mereka yang ditemukan nelayan Aceh itu kini berada di penampungan sementara Kuala Langsa, Aceh.

Petugas medis memeriksa kondisi kesehatan pengungsi Bangladesh dan Rohingya yang mendapatkan perawatan di tempat penampungan sementara Kuala Langsa. Banyaknya keluhan kesehatan dari imigran membuat petugas medis kewalahan selama merawat mereka.

Sejumlah relawan sempat melakukan cukur rambut massal kepada warga etnis Rohingya di lokasi penampungan sementara Kuala Langsa, Aceh, Selasa 19 Mei 2015. Dari berbagai pihak relawan dan bantuan logistik maupun kebutuhan lainya untuk warga etnis Rohingya dan pengungsi Bangladesh terus berdatangan ke lokasi penampungan sementara. Berikut foto-foto di pengungsian. FOTO: Derita Pengungsi Rohingya

 

(Ism, Sumber: Antara Foto/Rony Muharrman)

Beri Komentar