Hijaber Malaysia Bantu Pengungsi Rohingya di Aceh

Reporter : Syahid Latif
Rabu, 20 Mei 2015 11:46
Hijaber Malaysia Bantu Pengungsi Rohingya di Aceh
Hanya dalam waktu semalam, Telekung Project mampu menghimpun dana Rp 60 juta.

Dream - Aksi heroik nelayan Aceh jemput 800 warga etnis Rohingya yang terkatung-katung di laut Indonesia segera sampai ke telinga Norazila Azis, founder organisasi non pemerintah asal Malaysia, Telekung Project. Lewat media sosial, perempuan asal Selangor, Malaysia ini menyebarluaskan kabar serta niatan untuk pergi ke Indonesia untuk melaksanakan misi kemanusiaan.

Norazila tak menyangka, sejumlah rekanan di Facebook menyambut baik niatan tersebut dan mendukung misi kemanusiaannya secara finansial.

“ Hanya dalam waktu semalam terkumpul donasi sebanyak 20.000 ringgit atau Rp 60 juta,” ungkapnya sumringah usai acara pembentukan Komite Nasional Solidaritas Rohingya (KNSR), Selasa, 19 Mei 2015, di Jakarta.

Donasi dari masyarakat Malaysia itu kemudian ia bawa dalam humanity journey-nya untuk diberikan kepada para pengungsi Rohingya di Aceh. Rencananya, ia akan bermalam di kota serambi Mekkah itu pada 20 – 22 Mei 2015 bersama tim Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Di bawah bendera Telekung Project, perempuan yang akrab disapa Kak Zila ini memang kerap melakukan perjalanan untuk kegiatan amal. Seperti ke beberapa daerah tempat tinggal anak jalanan di Malaysia, korban kebakaran, anak-anak di pedalaman Kelantan hingga ke Syria.

Fokus utamanya dalam membantu sesama adalah dalam bidang pendidikan anak. Sebab, setelah mengunjungi banyak pengungsi Rohingya yang juga ada di Malaysia, ia melihat mereka memang mampu bertahan hidup tapi mereka tetaplah warga stateless yang tidak bisa mendapat akses pendidikan. “ Padahal untuk bertahan hidup anak-anak harus bisa baca tulis,” ujar Norazila.

“ Proyek kami dinamakan School of Ukhkuwah, dalam program itu, kami memberikan pendidikan sederhana kepada anak-anak yang kurang beruntung dengan metode kekinian yang menyenangkan,” pungkasnya.

Dari Malaysia ia hanya membawa bekal yang sederhana untuk berkegiatan di Aceh, yakni beberapa buah sabun mandi. “ Dengan sabun mandi itu, kami akan mengajarkan anak-anak Rohingya di Aceh untuk melakukan thaharah (bersuci), memotong kuku, semua kegiatan sederhana yang mengingatkan mereka kepada Allah,” kata Norazila. “ Karena bila mereka kembali mengingat Allah, akan lebih kuat menghadapi musibah yang sedang dialami.”

Selain itu, Norazila juga membawa balon-balon agar anak-anak Rohingya di Aceh dapat bermain. “ Secara psikologis, anak-anak itu sangat bahagia bila melihat balon, mereka akan langsung teriak kegirangan,” ucap mantan guru bimbingan konseling di sekolah Malaysia ini.

Ia melanjutkan, kegiatan yang dilakukan untuk para pengungsi Rohingya di Aceh mungkin memang hanya hal kecil. Namun, ia berharap hal tersebut mampu menginspirasi khususnya masyarakat Malaysia.

Mengenai edukasi masyarakat tentang nilai kemanusiaan, Norazila sepenuhnya mengandalkan media sosial sebagai senjata. “ Jadi, semua kegiatan itu saya tulis dan update di akun Facebook, dengan begitu semua orang bisa tahu, karena sekarang ini dunia ada di ujung jari kita,” kata Norazila sambil menunjukkan akun Facebook Telekung Project yang sudah memiliki likers lebih dari 300.000 orang.

(Ism, Laporan: Kurnia Yunita)

Baca Juga: Derita Rohingya, Ditolak Malaysia Diselamatkan Nelayan Aceh Derita Pengungsi Rohingya Filipina Hanya Mau Tampung Pengungsi Rohingya Berdokumen Resmi

Beri Komentar