Kisah Pilu Penghafal Alquran yang Koma 168 Hari

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 22 November 2017 10:00
Kisah Pilu Penghafal Alquran yang Koma 168 Hari
Faiz merupakan salah satu korban selamat kecelakaan maut yang terjadi pada Ramadan lalu.

Dream - 'Allah..Umi...Abah'. Tiga kata itulah yang pertama keluar dari mulut santri Pusat Penghafal Alquran Al Hashimi, Muhammad Faiz Hafizuddin Mohd Izahir, setelah koma 168 hari di rumah sakit.

Ayah pemuda 17 tahun asal Malaysia itu, Mohd Izahar Kassim, mengaku tiba-tiba mendengar sang anak memanggilnya dan istrinya, Jahsuriawany Mustapha, saat subuh dua hari lalu.

" Saya sangat bersyukur karena sudah lama keluarga kami menunggu suara Faiz," kata Kassim, dikutip dari siakapkeli.my, Selasa 21 November 2017.

Menurut Kassim, putra ke duanya itu baru sadar dari koma yang sudah berlangsung sejak awal Juli. Faiz sudah mampu menggerakkan kaki dan tangannya. " Tapi tidak ada suara keluar dari mulutnya," jelas Kassim.

Kassim mengatakan, Faiz belum dapat berbicara dengan lancar. Meski begitu, dia menganggap apa yang terjadi pada anaknya merupakan anugerah yang tidak ternilai.

1 dari 2 halaman

Koma dalam 5 Bulan

Kassim menambahkan, lebih dari lima bulan anaknya dirawat di rumah sakit. Momen pada dua hari lalu adalah pertama kalinya mereka mendengar Faiz berulang kali menyebutkan Allah selain umi dan abah.

Faiz mengalami koma akibat kecelakaan tunggal yang terjadi pada 2 Juni, bertepatan dengan Ramadan tahun ini. Faiz bersama 14 orang santri dan guru Maahad Tahfiz Al Hashimi mengalami kecelakaan tunggal saat bus mereka menabrak sebuah rumah.

Dalam kecelakaan maut di Kampung Telekong, Kuala Krai, Malaysia itu, tujuh korban meninggal di tempat. Sementara Faiz mengalami luka di kepala dan patah tulang belakang.

2 dari 2 halaman

Keceriaan Hafiz Quran di Tanah Gaza

Dream - Rabu sore lalu, suasana di Rumah Tahfiz PPPA Daarul Quran Gaza, Palestina, begitu ramai. Celoteh para santri hafiz cilik bergurau terdengar begitu riuh, penuh kegembiraan.

Mereka begitu bersemangat menanti waktu berbuka puasa. Ya, Rumah Tahfiz Daqu tengah menggelar buka puasa bersama, iftor jama'i, istilahnya.

Buka puasa di Rumah Tahfiz Daqu Gaza© istimewa

Buka puasa ini merupakan agenda rutin digelar tiap hari ke-20 Ramadan di Rumah Tahfiz Daqu Gaza. Pusat pencetak generasi hafiz Quran ini kini mendidik 220 santri Gaza.

" Perlu kami sampaikan bahwa warga dan santri mayoritas adalah mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu (fakir), ada dari mereka adalah anak yatim juga berasal dari keluarga tidak mampu. Nah, dengan ini menjadikan kita memiliki ladang beramal sedekah untuk hafiz Quran di Palestina," tutur pengelola Rumah Tahfiz Daqu Gaza, Abdillah Onim.

Buka puasa di Rumah Tahfiz Daqu Gaza© istimewa

Para santri dan warga yang hadir mendapat sajian takjil berupa kurma, air mineral, minuman ringan, dan cokelat. Untuk makan besar, mereka dijamu dengan menu nasi ayam.

Sebelum berbuka, para hadirin berkumpul di halaman Rumah Tahfiz. Mereka lalu membaca Alquran secara khusyuk hingga azan Maghrib berkumandang.

Buka puasa bersama ini menjadi momen yang memberikan kebahagiaan bagi para santri. Mereka pun semakin termotivasi untuk lebih giat belajar dan membaca Alquran.

Buka puasa di Rumah Tahfiz Daqu Gaza© istimewa

" Ucapan terima kasih khusus dari anak-anak Palestina kepada para donatur, teman-teman Rumah Tahfiz PPPA Daarul Quran di Indonesia khususnya kepada KH Yusuf Mansur atas peranan dalam mencetak generasi hafiz Quran Palestina," kata Onim.

Rumah Tahfiz Daqu Gaza telah berdiri di akhir 2013. Keberadaan rumah tahfiz ini disambut hangat oleh warga Gaza. Banyak di antara mereka yang menitipkan putra-putrinya agar dibimbing di rumah tahfiz ini.

Buka puasa di Rumah Tahfiz Daqu Gaza© istimewa

Sejak berdiri, jumlah santri Rumah Tahfiz Daqu Gaza semakin bertambah. Mulai dari 60 santri di awal-awal beroperasi, kini Rumah Tahfiz Daqu Gaza telah memiliki 220 santri hafiz Alquran.

" Alhamdulillah, 40 anak Palestina berhasil hafal Quran 30 juz. Mayoritas dari mereka memiliki hafalan mulai dari 10 juz hingga 25 juz," ucap Onim.

Beri Komentar