Mahasiswa UGM Bikin Dunia Tercengang dengan Minyak Jelantah

Reporter : Eko Huda S
Minggu, 3 April 2016 09:02
Mahasiswa UGM Bikin Dunia Tercengang dengan Minyak Jelantah
Mereka menyulap minyak jelantah menjadi Biogasoline yang bisa menghidupkan mesin kendaraan bermotor.

Dream - Bau ikan asin. Jorok. Itulah yang kerap kita ucapkan tentang minyak jelantah alias minyak goreng bekas pakai. Tapi lihatlah, tiga mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) ini. Mereka membuat dunia tercengang dengan minyak yang kita anggap menjijikkan itu.

Tiga mahasiswa itu adalah Abdul Afif Almuflih dan Khoir Eko Pamudi dari Departemen Kimia FMIPA, serta Endri Geovani dari Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian. Mereka menyulap minyak jelantah menjadi Biogasoline yang bisa menghidupkan mesin kendaraan bermotor.

Berkat penelitian biogasoline minyak jelantah (JECO-Gasoline), ketiga mahasiswa itu menyabet empat penghargaan tingkat internasional. Yaitu, medali emas World Invention Intellectual Property Association (WIIPA), medali emas Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA).

Kemudian, medali perunggu Malaysian Technology Expo (MTE) 2016, dan special award dari Toronto International Society of Innovation & Advanced Skillis (TISIAS) Kanada. Selain itu, mereka juga menyabet beberapa penghargaan lain dari sejumlah kompetisi di tingkat nasional.

Menurut Abdul Afif, pemilihan minyak jelantah dilakukan untuk memanfaatkan limbah minyak habis pakai. Limbah ini belum banyak dimanfaatkan masyarakat dan hanya dibuang begitu saja. Sementara jumlahnya cukup berlimpah.

“ Minyak jelantah ini merupakan minyak goreng yang dipakai secara berulang, jika digunakan terus bisa menimbulkan efek buruk bagi kesehatan tubuh,” ujar Afif, sebagaimana dikutip Dream dari laman ugm.ac.id, Jumat 1 April 2016.

Konsumsi minyak goreng di Indonesia cukup tinggi. Apalagi menjadi penghasil minyak goreng, karena banyak perkebunan sawit. Dengan demikian, peluang memproduksi Jeco gasoline semakin terbuka lebar.

“ Penelitian produksi Biogasolin dari bahan dasar minyak goreng bekas atau jelantah ini ditujukan untuk menghasilkan bahan bakar bensin yang ramah lingkungan,” jelas Afif.

 

1 dari 1 halaman

Ide Cemerlang Itu.....

Ketiga mahasiswa itu kemudian metode yang tepat untuk memproses minyak jelantah menjadi biodiesel. Mereka memanfaatkan rekasi hydrocracking untuk mengonversi minyak jelantah menjadi Biogasolin.

“ Kami menggunakan tanah liat atau clay yaitu bentonit terpilar alumina (AI) yang mudah didapat di alam. Lalu tanah liat diaktifkan dengan logam kadium (Cd) sebagai katalisatornya,” terang Afif.

Produksi Biogasolin dimulai dengan pembuatan katalis sebagai media konversi minyak jelantah. Selanjutnya, proses produksi dilakukan melalui proses hydrocracking. Minyak jelantah dipanaskan dalam tanur listrik kemudian akan menguap mengalir melewati katalis.

Setelah itu, lanjut Afif, hasilnya akan menetes menjadi campuran Biogasolin dan Biodiesel yang selanjutnya dipisahkan menggunakan metode destilasi.

“ Hasilnya bisa memproduksi sekitar 42 persen biogasolin (bensin) dan 29 persen biodiesel (biosolar). Dengan begitu, dalam 1 liter minyak bisa memproduksi sekitar 420 ml yang terdiri dari 240 ml biogasolin dan 180 biodiesel,” papar dia.

Sementara, Endri Geovani menambahkan bahwa katalis yang mereka kembangkan menggunakan tanah liat ini dapat digunakan berulangkali. Sehingga memungkinkan masyarakat untuk memproduksi sendiri Biogasoline atau Biodiesel dari minyak jelantah maupun minyak goreng fresh.

“ Pembuatannya lebih sederhana dan proses produksi lebih cepat. Karena dalam proses pembuatannya hanya melalui dua tahap, yakni pembuatan katalis dan proses produksi menggunakan metode hydrocracking,” terang Endri.

Dia berharap, hasil penelitian yang mereka lakukan kedepan bisa dikembangkan lebih lanjut. Bahkan, dapat diproduksi sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan.

“ Kami berharap hasil penelitian ini bisa menjadi pelopor produksi biogasolin dan biodiesel dari minyak jelantah,” pungkas Endri.

Beri Komentar
Terima Kritik Pedas, Nada Zaqiyyah: Ternyata Adik Kelas Aku Sendiri