Sumber: Dok. Kemlu RI/Liputan6.com
Dream - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis data sementara terkait konflik di Sudan. Sedikitnya 459 korban tewas dan 4.072 orang terluka akibat konflik bersenjata selama berminggu-minggu di ibu kota Khartoum.
Terkait konflik yang terjadi tersebut, TNI mengirim sejumlah prajurit dari pasukan elite Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) guna memastikan kelancaran proses evakuasi WNI dari Sudan ke Indonesia.
Sebanyak 15 prajurit Kopasgat tersebut tergabung dalam tim evakuasi WNI di Sudan untuk menjaga proses evakuasi.

Sementara Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa evakuasi WNI dari Sudan tahap satu yang mencakup 542 orang sedang dalam perjalanan dari Port Sudan menuju Jeddah.
" Evakuasi tahap kedua sedang dilaksanakan dari Khartoum ke Port Sudan. Mohon doanya," demikian pesan singkat yang disampaikan oleh Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemlu, Judha Nugraha, dikutip dari Liputan6.com.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan bahwa jarak tempuh perjalanan darat Khartoum - Port Sudan memerlukan waktu sekitar 15 jam atau sekitar 830 KM melalui Kota Atbara, Damir, Mismar, dan Kota Sawakin. Terdapat sekitar 15 pos pemeriksaan di sepanjang perjalanan.
Awalnya, rencana mengevakuasi seluruh WNI akan dilaksanakan dengan memanfaatkan gencatan senjata.
" Namun demikian, karena adanya pembatasan bahan bakar untuk bus yang akan mengangkut para WNI dan evacuee lainnya maka evakuasi tidak dapat dilakukan dalam satu tahap," ungkap Retno dalam keterangannya pada Senin 24 April 2023.
Ia mengimbau kepada setiap WNI yang belum melapor untuk segera mengabarkan keberadaannya ke KBRI Khartoum agar dapat segera dievakuasi.
" Untuk itu, saya imbau agar setiap WNI yang masih berada di Sudan dan belum melaporkan diri, mohon agar segera melaporkan keberadaannya ke KBRI Khartoum agar juga dapat dilakukan evakuasi pada tahap kedua. Jadi, bersamaan kita lakukan evakuasi pada tahap kedua. Oleh karena itu, mohon dengan hormat untuk yang belum melaporkan diri segera menghubungi KBRI Khartoum," imbaunya.
Diketahui, Pertempuran antara tentara Sudan (SAF) dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) meletus sejak 15 April 2023 di Khartoum dan sekitarnya.
Konflik tersebut dipicu ketidaksepakatan antara SAF dan RSF atas reformasi keamanan militer. Reformasi mengharapkan partisipasi penuh RSF dalam militer, yang menjadi salah satu isu utama dalam negosiasi oleh pihak internasional dan regional untuk transisi ke pemerintahan sipil demokratis di Sudan.
sumber: Liputan6.com