Siarkan Kesehariannya, Kisah Gadis Difabel Sentuh Hati Dunia

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 8 Desember 2017 12:02
Siarkan Kesehariannya, Kisah Gadis Difabel Sentuh Hati Dunia
Gadis ini memberikan inspirasi bagi wanita agar tak malu dengan kondisi fisiknya.

Dream - Banyak wanita di sebagian belahan dunia rela menghabiskan uang dalam jumlah besar demi tampil sempurna. Operasi plastik jadi cara cepat bagi mereka agar lebih percaya diri dalam berpenampilan.

Mereka seolah menutup mata jika Sang Pencipta sudah menghidupkannya dalam kondisi sempurna. Mungkin lebih baik dibandingkan yang lain. Inilah pesan yang ingin disampaikan Yang Li, 27 tahun.

Gadis ini membuat haru banyak orang karena rasa percaya dirinya yang tinggi. Wajahnya memang cantik tapilihat fisiknya. Dia tidak memiliki dua tangan.

Dengan disabilitasnya, Yang tak canggung menyiarkan aktivitas kesehariannya secara langsung menggunakan ponsel. Alhasil, jutaan mata menyaksikan bagaimana Yang bersemangat menjalani aktivitas meski tidak memiliki tubuh normal.

Ini bukan pertama kalinya Yang menjadi perhatian publik. Pada 2006 lalu, gadis difabel ini sempat menjadi pembicaraan hangat setelah masuk perguruan tinggi China. Dengan keterbatasannya, Yang tentunya mengerjakan soal ujian dengan kakinya.

Gadis difabel© xinhuanews.com

Yang mampu mengerjakan semua pekerjaan manusia normal meski tak punya tangan. Dengan kedua kakinya, dia bisa mencuci, memasak, makan sampai belanja, bahkan merias diri.

" Saya belajar menggunakan makeup selama kuliah. Saat itu saya melihat teman-teman sekelas menggunakan makeup. Saya pikir mereka terlihat lebih cantik," kata Yang.

 

1 dari 3 halaman

Tampil Percaya Diri

Setelah lulus kuliah, wanita penuh inspirasi ini sekarang bekerja di sebuah perusahaan di Bengbu, Provinsi Anhui. Saat istirahat makan siang, Yang menyiarkan kegiatannya yang mandiri menggunakan ponsel.

Yang akan memegang ponselnya dengan satu kaki saat berbicara tentang hidupnya. Dia juga memperlihatkan area di sekitarnya dengan meletakkan ponsel di dada menggunakan alat semacam tongsis.

Gadis difabel© xinhuanews.com

Yang pertama kali dikenal netizen pada Juli lalu. Video pertamanya kala itu langsung viral, disaksikan lebih dari 2 juta pengikutnya.

Dia pun mendapat julukan 'bidadari tanpa sayap' dan 'perempuan penuh inspirasi'.

" Tidak seperti host lain, saya tidak pandai menyanyi, tidak bisa melucu atau berpura-pura menggemaskan di video. Saya hanya menunjukkan kepada mereka bagaimana saya menjalani hidup saya," kata Yang.

 

 

2 dari 3 halaman

Banjir Pujian Sekaligus Cibiran

Meski banyak yang memuji, tidak sedikit pula yang mengkritiknya. Yang dituduh memanfaatkan kondisinya untuk mengemis hadiah.

Yang pun membantah tuduhan itu. Dia juga tidak peduli dengan cibiran yang diterimanya.

" Orang normal bisa siaran langsung, mengapa saya tidak? Saya tidak perlu bersedih dengan komentar seperti itu," kata Yang.

" Banyak yang memberi semangat. Saya bisa melihat rasa hormat dan kebaikan hati mereka. Sebagai difabel, saya akhirnya bisa mendapatkan pengakuan dari masyarakat yang saya rindukan sejak kecil," tambahnya.

Yang kemudian menceritakan masa lalunya. Juga tentang bagaimana dia belajar mengatasi kekurangannya.

 

3 dari 3 halaman

Masa Kecil Memilukan

Lengan Yang diamputasi setelah mengalami kecelakaan terlilit kabel listrik saat masih berusia empat tahun. Ibunya mengajarinya cara menggunakan kakinya untuk melakukan hal-hal yang biasa dikerjakan orang normal, seperti menggunakan sumpit, menyikat gigi dan menulis.

Yang ingat bagaimana dulu dia membutuhkan waktu dua jam hanya untuk menyelesaikan makan. Dia juga ingat bagaimana harus memegang pena dengan kakinya yang telanjang untuk mengerjakan pekerjaan rumah di musim dingin dengan suhu minus lima derajat Celsius.

Tetapi, sang ibu terus memberinya dorongan dan semangat. Selama lebih dari 20 tahun, Yang sudah terbiasa dengan kakinya hingga tulang punggungnya berubah.

" Saat itu ibu saya mengajari saya untuk mandiri sehingga suatu hari nanti saya bisa menjaga diri saat sendiri," katanya.

" Setelah kecelakaan itu, ibu saya berhenti bekerja untuk menjaga dan merawat saya, sementara ayah harus bekerja sendirian untuk kebutuhan seluruh keluarga," lanjut dia.

" Kini, setelah mereka mulai tua, saya tidak ingin membebani mereka lagi. Saya harus hidup mandiri," pungkas Yang.

Sumber: Xinhuanews.com

Beri Komentar