Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Lelaki kelahiran Pontianak, 1958 silam itu saban harinya bekerja sebagai penjual mie ayam di depan Masjid Lautze, Pasar Baru Jakarta.
Ia adalah pria keturunan etnis Tionghoa dengan nama Ahui, yang kemudian memeluk Islam pada 2001 di masjid tempat ia jualan.
Pria yang kini bernama Muhammad Abdul mengaku tak pernah terbesit untuk menjadi muslim. Ia memang tak pernah peduli dengan agama apa pun. Baginya kehidupan hanyalah tidur, bangun, makan dan mencari uang sebanyak-banyaknya.
Tapi sikap pragmatis itu berubah 180 derajat karena sebuah mimpi menjadi muslim.

Sekitar 1997 ia bermimpi ada di sebuah ruangan besar yang menggelar pengajian dan ia berada di dalamnya. Awalnya ia mengabaikan, namun ternyata mimpi-mimpi yang berhubungan dengan Islam datang berulang kali.
Selang satu tahun kemudian, ia kembali bermimpi soal Islam. Anehnya, mimpi serupa juga dialami sang istri.
Sebelum istrinya menghadap Sang Khalik, ia bercerita tentang mimpinya di mana ia hadir dalam sebuah pengajian dan diberi hadiah Alquran.
Namun saat keluar dari tempat pengajian itu, Alquran yang ia pegang jatuh dan terbelah dua.
Selama satu tahun dua bulan Ahui mengaku tidak bisa tidur sebelum adzan subuh berkumandang. Di telinganya seperti ada bisikan-bisikan. Akhirnya ia membulatkan tekad dan mengucapkan syahadat pada 2001.
Setelah menjadi muslim, Ahui yang masih penasaran dengan bisikan bertanya kepada kepada ulama pembimbingnya. Si pembimbing mengatakan bahwa itu adalah suara orang mengaji.
Sebelum masuk Islam, Ahui menuturkan, kehidupannya begitu terpuruk didera kemiskinan. Apalagi sepeninggal istrinya.
Namun setelah ia menjadi muslim kehidupan Ahui berubah. Ia lebih bersemangat dan bangkit dari keterpurukan menjadi seorang penjual mie ayam di depan Masjid Lautze, hingga kini.
" Islam memberi cahaya terang, membantu saya bangkit,” kata Ahui dikutip Dream.co.id dari laman Mualaf Center, Kamis 11 Desember 2014. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya