Anak Buruh Tani `Bawa Pulang` Cumlaude ke Gombong

Reporter : Sandy Mahaputra
Senin, 9 Februari 2015 16:16
Anak Buruh Tani `Bawa Pulang` Cumlaude ke Gombong
Febri berhasil meraih IPK cumlaude 3,8 setelah menempuh studi selama tujuh semester di Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) UI.

Dream - Febriani Wulan Sari, gadis asal Gombong, Jawa Tengah ini membuktikan keterbatasan ekonomi bukan kendala untuk mencetak prestasi membanggkan.

Dibesarkan oleh kedua orangtua yang bekerja sebagai buruh tani, tak membuat Febriani kehilangan motivasi melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Febri, sapaan akrabnya, merupakan salah satu wisudawan peraih cumlaude dari Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) UI.

Di wisuda semester gasal 2014/2015 ini, Febri berhasil meraih IPK cumlaude 3,8 setelah menempuh studi selama tujuh semester.

Di keluarganya, Febri merupakan anak satu-satunya yang berhasil mendapatkan gelar sarjana. Bungsu dari tujuh bersaudara ini masuk ke UI melalui jalur SNMPTN.

Awalnya, ia tak pernah menyangka akan berhasil menjadi mahasiswa UI. Alumni SMA 1 Gombong ini, mengaku mendapat banyak dukungan dari sekolahnya saat pertama kali mendaftarkan ke UI.

" Kakak-kakak saya lulusan SMA, baru saya yang pertama (sarjana)," kata Febri dikutip Dream.co.id dari laman UI.ac.id, Senin 9 Februari 2015.

Setelah masuk UI, Febri berhasil mendapatkan Beasiswa Bidik Misi. Ia juga menjadi salah satu penerima beasiswa Persatuan Orang Tua Mahasiswa, Dosen, dan Alumni (Pomda) dari Fasilkom UI.

Lewat program ayah asuh, perempuan kelahiran 9 Februari 1993 ini mendapatkan bantuan biaya hidup setiap bulannya.

Minat gadis berhijab itu pada ilmu komputer pertama kali muncul setelah mengikuti sebuah olimpiade komputer sewaktu SMA.

Di Fasilkom, ia mendalami peminatan teknologi perangkat lunak. Meski awalnya memerlukan adaptasi selama kuliah, ia merasa mendapat banyak bantuan dari teman-teman, senior dan dosen di Fasilkom UI.

Banyak suka duka selama ia menempuh pendidikan di UI. Febri mengungkapkan, salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah saat menjalani magang di Nara Institute Science and Technology, Jepang. Ia berhasil terpilih untuk belajar sebagai asisten riset selama tiga bulan di sana.

" Kita harus tetap menjaga semangat belajar dan tidak menjadikan kesulitan ekonomi sebagai penghalang untuk meraih cita-cita," pesan Febry. (Ism) 

Beri Komentar