Ingat Penjual Getuk yang Jadi Selebritis? Begini Nasibnya Kini

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Kamis, 13 Juli 2017 13:40
Ingat Penjual Getuk yang Jadi Selebritis? Begini Nasibnya Kini
Dunia selebritis sempat membawanya terkenal, namun kondisi itu tak berlangsung lama.

Dream - Perempuan cantik itu duduk di tengah perlintasan Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) GOR Sumantri, Kuningan, Jakarta Selatan. Di hadapannya dua keranjang plastik tertata.

Perempuan cantik itu bernama Turinih. Sosoknya sempat viral di media sosial di tahun 2014. Saking seringnya menjadi bahan perbincangan di dunia maya, Teh Ninih, sapaan akrabnya, kerap berseliweran di berbagai acara stasiun televisi nasional.

Namanya mecuri perhatian manajemen artis Komando. Teh Ninih pun direkrutnya. Di bawah naungan manajemen artis Komando, dia membawakan lagu debut berjudul 'Selingkuh Tiga Kali'.

 Lebih Dekat dengan Ninih, Gadis Ayu Penjual Getuk

Setahun menjalani peran sebagai artis ibu kota, Teh Ninih banyak bertemu dengan selebritis yang dia idolakan. Beberapa warga masyarakat juga mulai banyak mengenalnya.

Tetapi, silau panggung hiburan meredup di akhir 2015. Kondisi itulah yang membuatnya memutuskan pulang ke kampung halamannya di Indramayu.

1 dari 4 halaman

Pulang Kampung dan Menenangkan Diri

Pulang kampung, dia manfaatkan untuk menenangkan diri.

" Sudah lama sih sudah satu setengah tahun lalu pulang kampung untuk menenangkan diri," kata Ninih saat ditemui Dream di JPO GOR Sumantri Jalan Rasuna Said Kuningan, Jakarta, Kamis, 12 Juli 2017.

Di saat menenangkan diri itu, Ninih memutuskan untuk menikah dengan seorang pria dari kampungnya. Dari pernikahan ini, Ninih dikarunia seorang anak.

 Teh Ninih saat menjadi model

Ninih menghabiskan waktu mengurus seorang anaknya yang masih berusia satu tahun. Selain itu, dia juga menyempatkan diri turun ke sawah.

Setelah merasa jenuh dengan kegiatannya di kampung, Ninih kembali menantang Ibukota. Berbekal izin kepada suaminya, dia ingin kembali lagi ke Jakarta untuk berjualan getuk.

2 dari 4 halaman

Izin Sang Suami tak Mudah

Tetapi, izin itu tak mudah terucap. Sang suami sempat menentang keinginan Ninih untuk kembali ke Jakarta. Masih ada anak kecil yang harus diasuh alasannya.

" Ya tadinya sih nggak diperbolehkan. (Tapi) dari dulu Ninih ingin tuh waktu abis ngelahirin (ke Jakarta). Kata suami nanti aja kalau (anak) udah agak gedean setahun atau dua tahun dan akhirnya minta habis lebaran," ucap dia.

 Teh Ninih saat menjadi model

Kini, Ninih kembali berjualan getuk di tempat awalnya berjualan di 2014.

 

3 dari 4 halaman

Kenapa Malu?

Meski pernah wara-wiri di layar kaca, Ninih mengaku tidak malu jika dia kembali berjualan getuk.

" Iya ini kan rezeki saya, Mas. Disyukuri saja saya pun nggak malu. Saya juga jualan baru 8 hari," ucap dia.

 Lebih Dekat dengan Ninih, Gadis Ayu Penjual Getuk

Kini di Jakarta, Teh Ninih kembali memulai harinya: berjualan getuk. Suami dan anaknya dia tinggal di Indramayu. Untuk kesehariannya di Jakarta, dia tinggal bersama bibinya.

4 dari 4 halaman

Mimpi Ninih, Gadis Penjual Getuk di `Jantung` Jakarta

Dream - Hari baru lewat tengah malam. Warga Ibukota sudah lelap di peraduan. Namun, di sudut permukiman padat Pejompongan, Jakarta Pusat, sekelompok perempuan muda baru memulai kehidupan. Mereka dengan tangkas mengupas singkong. Juga merajang aneka sayuran. Mengolahnya menjadi getuk dan pecel. Menu dari desa.

Satu di antara para perempuan itu adalah Ninih. Gadis belia asal Indramayu, yang tengah ramai dibincangkan di sosial media. Gadis cantik penjual getuk di Jantung Jakarta.

Bersama sang kakak, Lina, gadis berusia 18 tahun itu juga turut mempersiapkan menu dagangan itu. " Saya bantuin bikin juga, mengupas singkong dan marut kelapa buat dagangan nanti pagi," kata Ninih kepada Dream, Rabu 26 November 2014.

Ninih dan kawan-kawannya beranjak dari kontrakan sempit itu kala hari masih remang-remang tanah. Dia harus sampai di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, sebelum matahari merekah. Sebuah keranjang dijinjing di pinggang. Berisi penuh dagangan yang telah disiapkan sejak tengah malam itu.

" Setelah sholat Subuh saya berangkat. Kadang naik ojek, tapi kalau sudah nggak ada, ya naik taksi sama yang lain ramai-ramai," ujar Ninih sambil tersipu.

Ninih dan rombongannya --yang sama-sama datang dari Indramayu, Jawa Barat itu-- menggelar jajanannya di atas sebuah halte bus Transjakarta di Jalan HR Rasuna Said. Di atas jembatan penyeberangan orang itulah mereka membuka `booth`. Menunggu pelanggan yang kebanyakan merupakan pegawai di kawasan perkantoran itu.

 Ninih

Sebelum matahari di atas ubun-ubun, dagangan Ninih biasanya sudah ludes terjual. Bahkan terkadang dia sudah melenggang pulang sebelum pukul 09.00 WIB pagi. Maklum, orang yang lalu-lalang di kawasan Kuningan itu adalah orang-orang sibuk. Mereka tak sempat sarapan. apalagi memersiapkan bekal. Makanan yang dijajakan Ninih dan kawan-kawannya inilah yang menjadi harapan mereka untuk mengganjal perut.

Jika hari libur, Ninih tak berdagang di kawasan perkantoran ini. Dia berpindah lapak. Biasanya berjualan di kawasan Monas, tempat manusia menyemut di hari bebas kerja. Hari Sabtu dan Minggu, Ninih biasa berada di kawasan tugu berpuncak emas itu.

Meski berparas ayu, Ninih tak malu berdagang di jalanan. Dia tak peduli kulitnya akan menjadi kusam karena sengatan matahari. Dia juga tak risih kala tubuh dibanjiri peluh. Yang penting, pundi-pundi uang terus terisi. Masih ada uang untuk makan dan berkulakan bahan jajanan. Syukur-syukur jika ada sisa untuk ditabung. Untuk membantu ekonomi keluarga di kampung.

Sebelum mengadu nasib ke Jakarta, anak ke tiga dari empat bersaudara ini pernah menjadi pelayan warung Tegal di daerah Bekasi. " Tapi nggak lama. Habis itu saya pulang lagi ke kampung," tutur Ninih kala menyiapkan dagangan itu.

Meski demikian, berjualan getuk bukanlah cita-cita gadis lulusan sekolah dasar ini. Ninih merasa masih perlu meningkatkan pendapatan untuk menopang perekonomian keluarga. Sehingga berniat menjadi tenaga kerja Indonesia ke Taiwan. Dan sebuah pabrik plastik di sana telah siap menampungnya.

" Pengen cari pengalaman saja. Nggak mau kalah sama yang lain. Kalau kakak dan temen-temen saya lainnya bisa, kenapa saya nggak. Mau jadi dokter kan nggak bisa. Ingin cari pengalamanlah pokoknya, sekalian bantu orangtua," kata Ninih.

Beri Komentar
Rumah Emas Selamat dari Tsunami, Ini Amalan Sang Pemilik