Tukang Parkir Bangun Sekolah Gratis: "Ini Proyek Akhirat"

Reporter : Syahid Latif
Sabtu, 19 September 2015 16:00
Tukang Parkir Bangun Sekolah Gratis:
"Saya bilang ini adalah proyek akhirat, bukan proyek untung. Jadi yang penting saya ikhlas menjalankannya,"

Dream - Undang Suryaman (39), seorang tukang parkir di kawasan kampus Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjajaran (Unpad), memiliki hati mulia. Akrab disapa Jek, Undang nekat membangun sekolah taman kanak-kanak (TK) dan Taman Pendidikan Alquran (TPA) gratis. Padahal penghasilannya pas-pasan.

Kemulian Jek yang sudah 23 tahun menjadi tukang parkir tersebut seakan mengubah pandangan negatif pada profesi yang dilakoninya. Kebanyakan orang beranggapan bahwa tukang parkir itu urakan dan sering berkelahi, karena sebagian besar waktunya dihabiskan di jalan.

Tetapi kenyataannya tidak demikian, apa yang dilakukan Jek layaknya seorang berpendidikan tinggi dan memiliki wawasan sangat luas, serta memiliki visi dan harapan yang besar untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.

Jek mengatakan, ide  tersebut mulai muncul ketika melihat anak-anak usia sekolah tidak mendapatkan haknya untuk mendapatkan pendidikan. Kata dia, mereka yang seharusnya belajar malah menghabiskan waktu untuk bermain dan membantu orangtuanya bekerja.

" Saya tanya mereka, bukan tidak mau sekolah tapi orangtuanya tidak punya biaya untuk menyekolahkan," kata Jek saat berbincang beberapa waktu lalu.

Menurut Jek, sekolah gratis tersebut diberi nama TK-TPA Al-Raudatul Jannah yang lokasinya berada di Kampung Babakan Loak, RT 03, RW 12, Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Sekolah gratis ini sudah berjalan selama 4 tahun. Awalnya proses belajar mengajar dilakukan di sebuah masjid yang berada di kampungnya.

Besarnya antusiasme dari masyarakat dan bertambahnya murid membuat masjid itu tak bisa lagi menampung. Jek pun memutuskan menyewa sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dari masjid yang awalnya dijadikan belajar anak-anak.

" Tapi setelah berjalan beberapa tahun, saya khawatir tidak sanggup membayar uang sewa, jadi pindah ke rumah mertua saya," ucap dia.

Jek menuturkan, meski dia memanfaatkan rumah mertuanya untuk sekolah gratis itu, bukan berarti dia bebas dari biaya sewa rumah. Jek tetap harus membayar sebesar Rp2,5 juta per tahun. Uang itu murni dikeluarkan dari kantongnya sendiri.

" Kalau saya tidak bayar ke mertua kan tidak enak. Masalahnya masih ada adik-adik istri saya dan keluarga lainnya. Untuk menjaga kepercayaan dan silaturahmi, saya tetap bayar kontrakan ke mertua," terang dia.

Alasan utama Jek menyewa rumah mertua karena berharap kelonggaran soal pembayaran uang kontrakkan untuk sekolah tersebut. Kata dia, kalau masalah uang, urusan dengan keluarga tidak seketat dengan orang lain. " Jadi apabila belum ada uang waktu pembayarannua kan bisa sedikit diulur," tutur Jek.

Ini Proyek Akhirat....>>>>

1 dari 2 halaman

Ini Proyek Akhirat, Bukan Cari Untung

Ini Proyek Akhirat, Bukan Cari Untung © Dream

Ruangan sederhana

Jek mengatakan, rumah kontrakkan yang digunakan untuk sekolah itu tidak besar, hanya sekitar 7x4 meter. Kemudian ditambah ruangan masjid yang panjangnya sekita 20x5 meter. Kata dia, antara rumah kontrakkan dan masjid itu jaraknya hanya beberapa meter saja.

Selain itu, ruangan kelas yang digunakan pun tidan seperti sekolah pada umumnya yang menggunakan bangku. Ruanganya hanya diberi alas kemudian diberi papan tulis untuk guru menjelaskan.

" Semuanya sederhana tapi yang penting bermanfaat," terang dia.

Selalu hidup cukup

Jek menegaskan, dari sekolah gratis yang dia dirikan tidak mengambil untung sedikitpun. Bahkan untuk membeli buku bacaan dan buku iqro untuk belajar anak-anak harus merogoh dari kantongnya sendiri.

Meski demikian, dia tidak pernah menganggarkan secara rinci uang yang didonasikan untuk sekolah gratisnya tersebut. " Semuanya mengalir begitu saja asal semua kebutuhan untuk belajar anak-anak sekolah tercukupi," tutur Jek.

Bapak empat orang anak tersebut mengatakan, meski kebutuhan keluarganya sangat banyak ditambah lagi untuk biaya TK gratis yang dia didirikan, tetapi tidak pernah merasa kekurangan.

Kata dia, karena semuanya dilakukan dengan sepenuh hati dan penuh dengan ketulusan, apabila ada kebutuhan mendesak pasti tercukupi dengan segera. " Saya juga tidak tahu, uangnya pasti ada. Jalannya pasti ada, pokoknya kita yakin," kata Jek.

Jek menceritakan, penghasilannya sebagai tukang parkir tidak banyak, apabila dirata-ratakan, setiap harinya dia hanya mendapat sekitar Rp50 ribu. Jumlah tersebut dia bagi untuk biaya hidup keluarga, biaya anak-anaknya sekolah dan donasi untuk sekolah gratis yang didirikannya.

" Saya bilang ini adalah proyek akhirat, bukan proyek untung. Jadi yang penting saya ikhlas menjalankannya," terang dia.

(Laporan: Rohimat Nurbaya)

2 dari 2 halaman

Tukang Parkir yang `Menggaji` Guru

Tukang Parkir yang `Menggaji` Guru © Dream

Guru sukarelawan

Jek menjelaskan, guru yang mengajar di sekolah gratis yang didirikannya berjumlah tujuh orang. Tiga orang untuk mengajar sekolah TK dan empat orang untuk mengajar TPA, termasuk salah satu anaknya yang saat ini masih duduk di bangku SMK.

Kata dia, beruntung semua guru semunya memiliki pemikiran sama dengannya, tidak ada satu pun guru yang memikirkan penghasilan. Dari tujuh orang guru tersebut memiliki latar belakang yang berbeda. Ada yang memang lulusan sekolah guru TK dan ada pula yang bertitel sarjana.

" Ada satu lulusan sastra Jerman Unpad dia yang menawarkan diri. Awalnya ngajar di sebuah SMP, tetapi demi mengajar di tempat saya, dia memilih untuk mengabdi bersama saya, tempat ngajar lamanya dia tinggalkan," ucapnya.

Dapat sumbangan

Jek menceritakan, seiring waktu berjalan akhirnya banyak orang yang mengetahui tentang keberadaan sekolah gratis yang didirikannya. Hal itu pun berbuah manis baginya dan meringankan sedikit bebannya untuk membiayai sekolah gratis tersebut.

Kata dia, untuk saat ini ada sekitar 50 siswa yang belajar di sekolah gratis yang didirikannya. Sekitar 30 orang orangtua siswa berkomitmen bersedia membayar uang iuran sebesar Rp25 ribu per bulan. Uang tersebut digunakan untuk untuk membeli buku bacaan dan buku iqro. Serta perlengkapan lainnya.

" Kalau yang 20 orang semuanya gratis, istilahnya subsidi silang lah. Kalau ada uang ya bayar kalau tidak ada uang tidak apa-apa," terangnya.

Sambil bercanda, Jek mengatakan dia juga sedikit memanfaatkan sifat ibu-ibu yang terkadang memiliki rasa gengsi meski serba pas-pasan. Kata dia, biasanya apabila satu orangtua murid yang bayar diikuti yang lainnya.

Dia menegaskan, tapi apa yang dilakukannya tersebut benar-benar untuk kebaikan supaya kelangsungan sekolah gratis yang didirikannya tersebut tetap ada. Tapi, dia juga selalu menekankan kepada ibu-ibu supaya tidak benar-benar memaksakan apabila tidak memiliki uang.

" Kan kalau ibu-ibu biasanya gengsian, apabila ada satu yang bayar tidak mau kalah, jadi banyak yang menyumbang," terangnya.

Ternyata, ketulusan hati Jek mendirikan sekolah TK gratis tersebut tenar sampai ke kalangan mahasiswa dan alumni Unpad. Sehingga terkadang para mahasiswa terutama di Fikom Unpad terkada mengadakan acara bakti sosial yang diperuntukan untuk sekolah gratis yang didirikan Jek.

" Semuanya digunakan untuk membeli perlengkapan belajar mengajar di sekolah itu," katanya.

Jek menambahkan, dengan adanya sumbangan-sumbangan tersebut memberikan titik terang untuk para guru yang mengajar. Meski jumlahnya tidak besar tetapi ada uang yang bisa dibawa pulang setiap bulannya.

" Sekarang para guru bisa digaji Rp70 ribu-Rp100 ribu per bulan," ucap Jek.

Selalu optimis

Disampaikan Jek, dia selalu optimis dalam menjalani kehidupan, sehingga apapun yang terjadi tetap dilakukan tanpa memikirkan rintangan yang menghadang.

Hasilnya, setelah sukses dengan TK gratisnya, kini diikuti oleh Taman Pendidikan Alquran (TPA) yang dia dirikan bersamaan dengan sekolah gratis itu.

" Kalau murid TPA saat ini hampir 130 orang. Tapi mereka belajar setelah sekolah formal," terangnya.

Kata Jek, murid-murid TPA yang belajar di tempatnya kebanyakan usia sekolah dasar dan SMP. Pelajaran di TPA yang ditekankan adalah belajar agama Islam seperti, membaca iqro, membaca Alquran dan hafalan Alquran.

" Itu juga semuanya gratis. Mereka membawa perlengkapan belajar sendiri," terangnya.

Kemudian karena jumlah murid TPA sangat banyak, terpaksa untuk sebagian ditampung di masjid yang letaknya tidak jauh dari sekolah gratis yang didirikan Jek.

" Kalau murid TPA ini, yang masih iqro di masjid dan yang sudah alquran di rumah saya," ucap Jek.

Beri Komentar