Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Sumber Foto: Pppa.or.id
Dream - Siang itu, nampak perempuan berjilbab ungu tengah asyik bercengkrama dengan para ibu di warung yang tak terlalu besar. Hanya ada dua meja besar dan beberapa bangku panjang di dalamnya. Obrolan tampak berlangsung gayeng alias menyenangkan. Sesekali terdengar ledakan tawa.
“Monggo, silakan masuk,” ujar perempuan berkerudung ungu itu. Dia mempersilakan tim PPPA Daarul Qur’an Malang masuk ke dalam warung dan memperkenalkan diri.
Perempuan itu adalah istri Pak Amin, penggagas “Warung Shodaqoh” yang terletak di Kota Batu, sekitar alun-alun. Warung ini beroperasi saban Jumat. Dan siang itu, tim PPPA Daarul Qur'an ingin bertemu dengan Pak Amin.
“Pak Amin sedang ke luar. Biasanya jam segini memang sudah mulai berkurang pengunjungnya, yang ramai sebelum Jumatan dan sesaat setelah Jumatan,” ujar istri Pak Amin.
Ada alasan di balik pemilihan nama “Warung Shodaqoh”. Warung yang berdiri sejak akhir 2015 ini sama sekali tak memungut biaya bagi siapapun yang ingin mengisi perut. Berawal dari adanya bangunan milik mertua yang tak difungsikan, timbul ide memanfaatkan bangunan. Berangkat dari kebutuhan harian yang cukup banyak dengan jumlah pemasukan yang mepet, terpikir di benaknya untuk “mengeluarkan” lebih.
Pemikiran yang memang tidak umum dibanding dengan orang lain. Di kala orang lain justru berpikir untuk menambah pemasukan, mereka berpikir sebaliknya. Justru ketika merasa kurang, sejatinya yang harus dilakukan adalah “mengeluarkan” lebih. Itulah awal mula berdirinya “Warung Shodaqoh”.
Bukan tanpa halangan dalam menjalankan “Warung Shodaqoh” ini. Sebelumnya, warung itu diberi nama “Warung Dhuafa”. Dengan niatan, setiap orang yang melihat, paham bahwa warung ini memang ditujukan untuk yang membutuhkan.
Namun, langkah ini tidak seperti yang diharapkan. Hanya segelintir orang yang mau mampir ke warung ini, meskipun sudah diberi embel-embel gratis dan sepuasnya.
Setelah ditelisik, ternyata kebanyakan orang gengsi untuk mampir dan masuk ke warung ini. Tak semua orang mau dianggap sebagai kaum dhuafa. Beralih strategi, nama warung dhuafa pun diganti menjadi "Warung Shodaqoh". Alhamdulillah, ternyata pergantian nama ini memberi efek yang positif. Respon masyarakat bertambah.
Namun, halangan tak berhenti disitu saja. Berbagai pandangan negatif ternyata kerap mengiringi perjalanan “Warung Shodaqoh”. Anggapan bahwa warung ini didanai oleh ormas atau parpol tertentu sampai anggapan bahwa warung ini hanyalah salah satu siasat promosi tertentu.
Seperti pepatah berkata, anjing menggonggong kafilah berlalu. Inilah yang pemilik lakukan. Tak menghiraukan suara miring di sekitarnya, beliau tetap dengan fokus menjalankan “Warung Shodaqoh”. Pak Amin dan istri akan menjadikan “Warung Shodaqoh” sebagai tempat mengaji dan menghafal Quran.
Baca selengkapnya kisah Warung Shodaqoh Pak Amin di tautan berikut ini.
Advertisement

Mengapa Ada Pusar Bodong dan Pusar Masuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Deforestasi Amazon Brasil Turun ke Level Terendah, Ini 5 Pelajaran yang Bisa Ditiru Indonesia

Cuma 10 Menit Olahraga Sehari Bisa Bikin Tidur Lebih Nyenyak, Ini Temuan Peneliti

Sering Tersengat Listrik Saat Memegang Gagang Pintu? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya

Buah Kalengan Ternyata Bisa Menyehatkan, tetapi Perhatikan 2 Hal Ini Sebelum Membelinya


Jangan Remehkan Obrolan Basa-Basi, Ternyata Bisa Bantu Mengurangi Kesepian dan Menjaga Kesehatan