Ini Jawaban Saat Anak Tanya 'Adik Kok Bisa Ada di Perut Ibu?'

Reporter : Cynthia Amanda Male
Selasa, 5 November 2019 12:03
Ini Jawaban Saat Anak Tanya 'Adik Kok Bisa Ada di Perut Ibu?'
“Pada prinsipnya, ketika anak bertanya, maka harus dijawab".

Dream - Anak cenderung memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Saat sudah bisa berkomunikasi dengan baik, mereka akan bertanya banyak hal pada orangtua dan lingkungan sekitar mereka. Tidak semua hal bisa dijawab dengan mudah.

Salah satu pertanyaan yang seringkali sulit dijawab orangtua adalah bagaimana bisa ada adik di perut ibu.Sebagian orangtua mungkin akan berusaha mengalihkan topik, tidak menjawab atau berjanji menjelaskannya lain kali. Namun hal ini tidak dianjurkan oleh Psikolog, Vera Itabiliana.

“ Pada prinsipnya, ketika anak bertanya, maka harus dijawab. Nggak bisa ketika umur 20 baru diceritakan,” kata Vera dalam acara Nivea Sentuhan Ibu beberapa waktu lalu.

1 dari 5 halaman

Jangan Menunda untuk Menjawabnya

Jangan Menunda untuk Menjawabnya © Dream

Jika ingin menunda, orangtua harus menentukan waktu untuk menjelaskan hal tersebut dan menepatinya agar anak tidak bertanya pada orang lain atau mencari jawabannya sendiri.

“ Tentukan spesifik waktunya kapan biar mereka nggak bertanya di tempat lain atau langsung tanya om Google. Jadi harus dijawab. Boleh ditunda, tapi ditentukan waktunya dan ditepati," ujar Vera.

Kalau ingin menghindari pertanyaan tersebut, orangtua bisa bertanya kembali pada anak. “ Paling gampang, tanya balik dulu ‘menurut kamu gimana caranya?,” tutur Vera.

 

2 dari 5 halaman

Ini Jawabannya

Ini Jawabannya © Dream

Ada baiknya juga untuk mengetahui sejauh mana pemahaman anak agar bisa mengatur pola jawabannya. Orangtua juga sebaiknya mencari tahu seberapa jauh anak tahu seputar hal seksual.

“ Jadi harus tahu kapasitas anak, seberapa detail dia bisa mencerna informasi. Supaya kalau bisa, dia diedukasi pertama kali dari orangtua dan nggak salah informasi,” ungkap pendiri komunitas Ayo Dongeng Indonesia, Ariyo Faridh.

Sebagai referensi, Vera mencoba mengutarakan jawaban yang bisa diberikan pada anak. “ Jadi, ayah dan ibu saling jatuh cinta, saling suka. Lalu, kami menikah dan berdoa sama Tuhan. Ada kamu deh, di perut Bunda. Kita main deh sama-sama,” pungkasnya.

3 dari 5 halaman

Bolehkah Orangtua 'Memata-matai' Medsos Anak Remajanya?

Bolehkah Orangtua 'Memata-matai' Medsos Anak Remajanya? © Dream

Dream - Konsep melarang, aturan yang ketat, 'haram' membantah, jadi gaya pengasuhan yang boleh dibilang cenderung 'dimentahkan' oleh anak remaja milenial. Bukan malah membuat mereka menurut, justru sebaliknya.

Anak remaja jadi lebih suka memberontak, dan cenderung kehilangan rasa hormat. Orangtua saat ini memang harus terus belajar dan up to date terkait isu yang berkembang pada anak remaja. Terutama seputar media sosial.

Banyak yang memata-matai akun media sosial anak remajanya. Bahkan ada yang sampai membuat akun palsu demi bisa berteman di media sosial dengan anak remajanya.

Kenyataannya, aktivitas di media sosial anak dapat memberikan banyak petunjuk kepada orangtua. Terutama terkait pergaulan mereka atau apakah anak sedang mengalami kesulitan atau tidak.

 

4 dari 5 halaman

Fakta penggunaan media sosial pada remaja

Fakta penggunaan media sosial pada remaja © Dream

Remaja usia 12 hingga 15 yang menggunakan media sosial lebih dari tiga jam perhari, berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan mental. Hal ini menurut studi yang dipublikasikan oleh JAMA Psychiatry. Permasalahan kesehatan mental ini meliputi depresi, kecemasan, dan agresi.

Selain itu, media sosial juga dapat mempengaruhi pilihan perguruan tinggi dan pekerjaan di masa depan. Riset juga menunjukkan, media sosial mempengaruhi remaja untuk mengonsumsi narkoba walaupun hal ini jarang terjadi.

Sebanyak 45% remaja mengatakan mereka adalah pengguna media sosial yang online secara konsisten. Dengan fakta demikian, penting bagi orangtua untuk memantau normal anak remajanya media sosial.

 

5 dari 5 halaman

Apakah Boleh Untuk Mengintai Anak Remaja Kita?

Apakah Boleh Untuk Mengintai Anak Remaja Kita? © Dream

Gail Saltz, clinical associate professor of psychiatry di Rumah Sakit New York-Presbyterian, mengungkap kalau memata-matai cenderung berkonotasi negatif. Menurutnya, yang sebaiknya dilakukan orangtua adalah memantau anaknya.

" Memantau adalah mengecek aktivitas anak seminggu sekali sedangkan memata-matai, orangtua melakukannya setiap hari," ungkap Saltz.

Lisa Strohman, seorang psikolog remaja memberikan trik. Orangtua dapat menggunakan aplikasi, untuk memantau anak, tapi hal ini harus dilakukan secara terbuka. Bukan diam-diam apalagi menggunakan menggunakan akun palsu.

" Misalnya, bisa buat perjanjian. Mama senang kasih kamu ponsel tapi ada syaratnya ya, kita harus berteman di media sosial. Bukan untuk apa-apa, cuma untuk memastikan kakak/ adik selalu aman," ujar Strohman.

Laporan: Keisha Ritzska Salsabila/ Sumber: Parents

Beri Komentar