Latih Anak Hadapi Konsekuensi, Terapkan 4 Hal Ini

Reporter : Mutia Nugraheni
Senin, 5 Desember 2022 08:01
Latih Anak Hadapi Konsekuensi, Terapkan 4 Hal Ini
Penting bagi orangtua untuk mengetahui konsekuensi yang tepat bagi anak, baik itu positif atau negatif.

Dream - Anak-anak seringkali menguras emosi orangtua dan sulit diatur. Terkadang, hal ini mengharuskan ayah dan bunda harus bersikap dengan memberikan batasan, aturan, dan konsekuensi kepada anak.

Seringkali konsekuensi yang diberikan orangtua tidak efektif atau bahkan tak didengarkan oleh anak. Penting bagi orangtua untuk mengetahui konsekuensi yang tepat bagi anak, baik itu positif atau negatif.

Konsekuensi yang tepat akan memotivasi anak untuk berperilaku dan bersikap baik kedepannya. Berikut 4 tips agar konsekuensi yang diberikan ke anak menjadi efektif.

Konsisten
Pastikan orangtua memberikan konsekuensi yang konsisten untuk anak. Baik itu konsekuensi positif atau negatif, hal ini hanya akan berhasil jika ditegakkan secara konsisten.

Jika tidak, anak akan berpikir bahwa mereka dapat mengubah pikiran orangtua dengan merengek dan mengamuk. Maka dari itu, jika anak melanggar aturan, beri konsekuensi negatif kepadanya agar anak tidak mengulanginya lagi.

 

1 dari 4 halaman

Jelaskan Konsekuensi dengan Detail

Cara terbaik untuk menetapkan batasan, aturan, dan konsekuensi dengan anak adalah dengan membuatnya secara spesifik dan jelas. Dengan ini, anak tidak dapat menyalahkan orangtua jika mereka melanggar aturan.

Ibu dan anak© Shutterstock

Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan menetapkan batasan waktu yang spesifik. Misalnya, anak tidak boleh main gadget selama 24 jam. Cara lainnya adalah dengan menggunakan konsekuensi sebagai cara untuk melakukan sesuatu hal positif. Misalnya, anak baru bisa main gadget ketika mereka sudah menyelesaikan pekerjaan rumah mereka. Hal ini akan membiasakan kebiasaan dan perilaku baik.

 

2 dari 4 halaman

Berikan Konsekuensi dengan Segera

Memberikan konsekuensi lebih baik dengan segera, jika tidak, hal ini tidak akan begitu efektif. Anak perlu langsung menyadari bahwa konsekuensi tersebut berkaitan dengan tindakan mereka. Jika tidak ditegakkan secara langsung, kemungkinan anak sudah melupakan apa perbuatannya.

Anak menangis© Shutterstock

Sesuai Usia
Menegakkan disiplin kepada anak dibutuhkan pendekatan yang sesuai dengan umurnya. Jangan sampai anak tidak paham tentang tujuannya. Pastikan bahwa konsekuensinya adalah sesuatu yang bisa diikuti dan dipahami oleh anak.

 


Laporan: Meisya Harsa Dwipuspita/ Sumber: MomJunction

3 dari 4 halaman

Mau Tahu Cara Orangtua Jepang Disiplinkan Buah Hatinya?

Dream - Jepang dikenal dengan masyarakatnya yang memiliki kedisiplinan tinggi. Hal ini bahkan mereka bawa ketika tinggal di negara lain dan jadi sebuah citra yang sangat baik.

Kedisiplinan memang jadi hal yang tak bisa dipisahkan dari warga Jepang, sejak mereka kecil. Penerapan disiplin bukan dimulai di area publik atau penuh dengan paksaan atau karena hukuman, tapi memang sudah jadi gaya hidup.

Keluarga jadi dasar utama membentuk kedisiplinan anak-anak di Jepang. Kate Lewis, seorang ibu asal Amerika Serikat yang tinggal di Jepang, sangat terkesima dengan displinnya anak-anak di Jepang. Ia menuliskan pengalamannya saat membesarkan buah hatinya dan berusaha mengadaptasi nilai kedisiplinan pada orangtua di sana.

" Saya bukan satu-satunya ibu Amerika yang menanyakan pertanyaan ini kepada diri saya sendiri. Menemukan balita Jepang yang berperilaku buruk menjadi semacam permainan dengan teman ibu internasional lainnya setiap kali kami membawa anak-anak kami ke taman dan museum. Jika kami melihat balita Jepang sedang mengamuk di depan umum, kami akan menghela napas lega. Bukan hanya anak-anak kami. Itu milik semua orang. Namun orang tua Jepang sepertinya tidak ikut campur sama sekali. Anak itu akan duduk di tanah, menangis dan berteriak di taman bermain atau taman, dan orangtua tampaknya relatif tidak peduli," tulis Lewis, dikutip dari Savvytokyo.com.

 

4 dari 4 halaman

Tak Permalukan Anak

Anak dibiarkan dulu tenang, dan orangtua tak berusaha keras untuk ikut campur. Hal lain yang selalu diterapkan adalah seni Shitsuke (disiplin). Orangtua tetap mendisiplinkan anak, menegur tapi mencari ruang privat dan bukan di depan publik karena anak akan malu.

" Di lain hari, kereta yang sibuk, dan kali ini ada anak lain yang mengamuk untuk pulang. Sang ayah dengan cepat menarik seluruh keluarganya dari gerbong kereta dan ketika pintu ditutup dan kereta melaju pergi, saya melihatnya berjongkok di peron. Orangtua jongkok sampai mensejajarkan tinggi dengan anak dan menunggu anaknya tenang untuk berbicara, sambil menemani dan memastikan anak aman," ungkap Lewis.

Tak semua orangtua bisa dan terbiasa melakukan ini karena memang dibutuhkan pengelolaan emosi dari orangtua dulu untuk menghadapi anak yang juga sedang emosi. Lewis pun bertanya pada temannya yang orang Jepang bagaimana mereka menegur anak-anaknya saat berulah.

" Saya bertanya 'bagaimana cara membentaknya?'. Dia mendemonstrasikan, menyebut nama anaknya dengan cepat dan penuh dengan peringatan. 'Ini bekerja dengan sempurna' katanya padaku," ungkap Lewis.

Beri Komentar