Pesan Imam Ghazali, Paksa Anak Selalu Belajar Bisa Kurangi Kecerdasannya

Reporter : Mutia Nugraheni
Minggu, 22 Januari 2023 06:01
Pesan Imam Ghazali, Paksa Anak Selalu Belajar Bisa Kurangi Kecerdasannya
Satu hal yang tak boleh dilupakan dan juga sangat dibutuhkan anak, adalah bermain.

Dream - Orangtua selalu punya harapan-harapan terbaik untuk buah hatinya. Terutama dalam hal agama dan pendidikan. Setiap hari kita selalu mengingatkan anak untuk mengaji dan sekolah.

Satu hal yang tak boleh dilupakan dan juga sangat dibutuhkan anak, adalah bermain. Dikutip dari BincangSyariah.com, Imam Al-Ghazali menyebutkan dalam kitab Ihya Ulumuddin, juz 3, halaman 73;

Imam Ghazali© Bincang Syariah


Artinya: “ Seharusnya bagi seorang pengajar mengizinkan anak untuk bermain setelah proses pembelajaran dilakukan, yakni permainan yang baik dan tidak melelahkan. Karena sesungguhnya melarang anak untuk bermain dan memaksanya untuk terus belajar hanya akan mematikan hati dan mengurangi kecerdasannya serta mempersulit kehidupannya. Pelarangan tersebut justru bisa membuat anak berkilah dari belajar”.

Anak tetap butuh bermain dan waktunya memang harus diseimbangkan dengan waktu belajar. Jangan sampai beban pelajaran membuat kebutuhan anak akan bermain, tak terpenuhi.

 

1 dari 4 halaman

Aturan dan Kesepakatan

Buat aturan dan kesepakatan dengan anak, terkait waktu main dan belajar. Tentukan juga hukuman yang diberikan jika anak melanggar. Dalam Islam, hukuman bagi anak yang tidak ada dalil langsung dari syariat disebut dengan ta’zir. Ta’zir bisa diterapkan orangtua dan guru terhadap anak-anak didik mereka.

Dalam ta’zir, seseorang yang menghukum tidak boleh sembarangan dan harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariat. Syekh Wahbah Az-Zuhaili mengatakan di dalam kitab Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu, juz 7, halaman 5599;

Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu, juz 7, halaman 5599© Bincang Syariah


Artinya: “ Ta’zir disyaratkan harus orang yang berakal karena melakukan tindakan asusila yang tidak ada ketentuan hukumnya di dalam syariat. Oleh karena itu yang dita’zir harus orang yang berakal, laki-laki atau perempuan, seorang muslim atau non muslim, baligh atau anak kecil yang berakal.

 

 

2 dari 4 halaman

Dari keterangan tersebut, ta’zir atau memberi hukuman terhadap anak hanya dilakukan dalam rangka untuk mendidik, bukan menyakiti. Jangan sampai memberi hukuman fisik yang menyakitkan dan membuat anak trauma.

Penerapan hukuman yang berlebihan sebenarnya tidak diperbolehkan di dalam syariat. Bila berlebihan, orang yang menta’zir harus bertanggung jawab dan mengganti rugi. Keterangan yang sama disampaikan oleh Syekh Wahbah Az-Zuhaili di dalam kitab Al-Fiqh Al-Islamiy Wa Adillatuhu, juz 7, halaman 5605;

Al-Fiqh Al-Islamiy Wa Adillatuhu, juz 7, halaman 5605© Bincang Syariah


Artinya: “ Apabila seorang ayah memukul anaknya, suami memukul istrinya, atau seorang guru memukul muridnya dalam rangka mendidik, lalu terjadi cedera karena hal tersebut, maka Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i berpendapat bahwa hal tersebut menyebabkan ganti rugi" .

Menghadapi anak memang dibutuhkan " tarik ulur" . Ada kalanya harus tegas, tapi di beberapa waktu sebaiknya bersikap longgar. Penjelasan selengkapnya baca di sini.

3 dari 4 halaman

Hukum Islam Gugurkan Kandungan karena Down Syndrome

Dream - Perkembangan teknologi dalam dunia kedokteran sudah sangat pesat. Salah satunya adalah deteksi dini kondisi kesehatan janin sebelum lahir. Lewat tes dan pemeriksaan tertentu, bisa diketahui secara detail bila ada kelainan bawaan seperti down syndrome (DS).

Bila janin ternyata mengalami kelainan tersebut atau gangguan lain yang membuatnya tak bisa tumbuh dengan baik tentunya membuat khawatir orangtua. Terkait hal ini dan jika ingin membuat keputusuan soal kehamilan, rekomendasi dokter adalah yang utama.

Yahya Zainul Ma'arif yang lebih akrab disapa Buya Yahya, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, menjelaskan kalau terkait hal apa pun, seseorang harus bertanya pada ahlinya. Bila terkait kesehatan janin dan ibu hamil, tentunya dokter kandungan.

Buya Yahya© Instagram Buya Yahya

Buya Yahya/ Foto: Instagram Buya Yahya

" Dalam segala hal, tanyakan kepada ahlinya. Untuk menentukan itu janin baik atau tidak baik, bukan saya, jadi harus dokter. Tapi untuk bertanya hukum boleh tanya kepada kami," ujar Buya Yahya, dikutip dari YouTube channel Al-Bahjah TV.

Menurutnya, jika dokter merekomendasikan tindakan tertentu pada janin, seperti mengugurkan, apa pun kondisinya demi alasan kesehatan, baru kemudian ditanyakan pada ustaz atau ulama soal hukumnya. Hal ini mengingat kondisi tiap kasus berbeda-beda.

" Kalau memang nanti menurut petunjuk dokter tidak baik untuk janin itu dibiarkan untuk berlanjut, bukan kita batasi dengan satu jenis, bermacam-macam penyakit, apa pun. Maka selagi keputusan dokter, bukan menurut Kyai fulan atau Ustad fulan, bukan. Keputusan dokter baru ke ranah hukum (Islam)," ungkap Buya.

 

 

4 dari 4 halaman

Ada Syarat yang Harus Dipenuhi Jika Gugurkan Janin

Bila memang kondisi janin tidak baik dan demi alasan kesehatan janin direkomendasikan untuk digugurkan, menurut Buya Yahya dibolehkan, namun ada syaratnya. Syaratnya adalah usia janin tak boleh di atas 4 bulan.

" Kalau menurut keputusan dokter janin tersebut tidak layak dikembangkan dan membahayakan ibunya atau janin itu sendiri tidak baik, maka disepakati nggak ada khilaf. Selagi di bawah 4 bulan ditiupkan ruh, maka boleh digugurkan karena keadaan janin yang semacam itu atau membahayakan ibunya," ungkap Buya Yahya.

Lihat penjelasan selengkapnya dalam video berikut.

 

Beri Komentar