Muslimah Inggris: Melepas Hijab Bagai Membuang Bayi

Reporter : Syahid Latif
Jumat, 30 Mei 2014 08:00
Muslimah Inggris: Melepas Hijab Bagai Membuang Bayi
Aslam yang susah payah memutuskan berhijab sempat ingin menanggalkannya. Namun muslimah karier itu batal melepas pakaian muslimah itu.

Dream - Memutuskan berhijab bagi muslimah di negara Barat sungguh tak mudah. Apalagi muslimah itu merupakan perempuan karier. Mereka bahkan harus menimbang-nimbang, memilih berhijab atau mementingkan karier.

Tengoklah pengalaman Syima Aslam. Muslimah yang bekerja sebagai eksekutif marketing di sebuah perusahaan Bradford, Inggris. Perempuan ini mengaku tak mudah saat memutuskan untuk berhijab tiga belas tahun silam.

" Sebelum mengambil keputusan itu, saya sempat merenungkan keinginan saya untuk berhijab selama beberapa waktu," tutur Aslam dikutip Dream.co.id dari Guardian, Kamis 29 Mei 2014.

" Alasan saya untuk benar-benar mempertimbangkan keputusan tersebut cukup sederhana: saya bekerja di lingkungan perusahaan sebagai direktur akuntansi yang bertugas menjaga kemitraan perusahaan saya di London," tambah dia. 

Berhijab adalah keputusan pribadinya. Namun begitu, dia tetap saja khawatir sikap ini akan menjadi batu sandungan dalam kariernya. Padahal, pekerjaan itu telah lama juga dia rintis.

" Saya tidak tahu bagaimana reaksi orang-orang di lingkungan kerja ketika melihat perubahan saya, dari seorang wanita yang outgoing menjadi muslimah berhijab, terutama pasca peristiwa 9/11 di Amerika," katanya.

Namun akhirnya dia nekat. Aslam menghadap manajer perusahaan tempatnya bekerja dan bertanya apakah keberatan jika dirinya berhijab. Tak hanya manajer, Aslam juga menemui kliennya untuk mengatakan bahwa dirinya akan mengenakan penutup kepala.

Aslam justru mendapat jawaban beragam. Sang manajer terkejut dan balik bertanya apakah akan menutup rambutnya dengan jel. Sementara para kliennya bertanya apakah hijab itu sebagai tanda Aslam akan menikah. Padahal kala itu dia sudah menikah. " Mereka sepertinya tidak menyangka bahwa ini adalah kemauan saya sendiri," tutur dia.

Dia mengakui, sebelum berhijab tingkat keimanannya sering pasang surut. Namun semuanya berubah ketika Aslam membaca penjelasan tentang terjadinya embrio dalam Alquran. " Singkat kata, momen yang membuka mata tersebut terasa seperti wahyu yang membuat hati saya mantap mengenakan hijab," kata dia.

Dia menyadari masih ada perdebatan tentang hijab. Apakah harus menutup kepala saja ataukah juga wajah dengan menyusakan mata. Tapi akhirnya Aslam memutuskan untuk berhijab dengan tidak menutup wajahnya.

" Yang pasti, hijab dalam budaya Islam bertujuan untuk tampil secara sopan dalam berpakaian. Dengan begitu perhatian publik tidak terhenti pada penampilan luar, namun lebih tertuju pada inner beauty seseorang," tutur Aslam.

Setelah berhijab, hati Aslam malah tidak tenang. Rasa-rasanya hijab itu malah menjadi beban.

" Setelah berjuang dan memutuskan untuk memakai hijab, saat itu saya justru ingin melepasnya. Karena sejak bekerja di dunia marketing dan penjualan, saya tidak bisa menutup mata, bahwa hijab saya mulai membebani pekerjaan saya," tutur Aslam.

Pantas saja Aslam merasa terbebani. Sebab sejak berhijab itu orang-orang yang dia temui dalam rapat lebih banyak berbicara dengan rekannya. Padahal, Aslam merasa punya kemampuan. " Akibatnya, saya harus berusaha lebih keras untuk membuktikan bahwa sayalah yang memiliki kemampuan yang mereka butuhkan," kata dia.

Cibiran tak hanya datang dari orang non-muslim. Bahkan seorang pengusaha muslim di Bradfot turut menyindir dengan pedas. " Seperti putri-putri saya, meski percaya diri dan pandai berbicara, Anda tetap merupakan wanita berhijab, dan banyak orang yang tidak menyukainya," kenang dia.

Sementara bujukan agar Aslam melepas hijab juga datang dari rekan-rekannya. " Klien akan menghabiskan 40 menit pertama dalam pertemuan kalian dengan melihat penampilanmu, baru mendengarkan penjelasanmu pada 20 menit terakhir. Itu artinya kamu membuang waktu," kata Aslam menirukan bujuk rayu teman-temannya.

Akhirnya, berdiamlah Aslam di kamar. Lama dia mematut diri pada cermin di dinding. Maka dibuatlah keputusan untuk keduakalinya. " Saya memutuskan untuk tetap mengenakan hijab ini," kata Aslam dengan mantap.

Bagi Aslam, hubungannya dengan hijab lebih dari sekedar kenyamanan. Melainkan sebuah kecintaan. " Saya tahu bahwa hubungan saya dengan Tuhan tidak ditentukan oleh sepotong kain yang ada di kepala saya. Namun melepas hijab akan sama rasanya seperti membuang bayi beserta air mandinya," tutur Aslam.

Meski demikian, Aslam mengaku bisa memaklumi bila ada muslimah yang melepas hijab karena tekanan. Sebab, dia juga pernah berposisi seperti itu. " Saya juga tidak bisa menjamin, seandainya situasi ekonomi sangat mendesak, saya tidak akan melakukan hal yang sama seperti mereka," kata dia. (Ism)

Beri Komentar