Kisah dari Puncak 5 Gunung Indonesia

Reporter :
Jumat, 22 Oktober 2021 15:47
Kisah dari Puncak 5 Gunung Indonesia
Indonesia menjadi negara yang memiliki gunungapi ketiga terbanyak di dunia. Yuk lihat beberapa cerita saat mendaki gunung-gunung di Indonesia!

Dream - Indonesia menjadi rumah ratusan gunung. Menurut Katadata, setidaknya ada 139 gunung berapi di penjuru negeri ini. Indonesia menjadi negara ke tiga di dunia dengan jumlah gunung api terbanyak. 

Dari sekian banyak gunung di Indonesia, 28 di antaranya sudah pernah dijelajahi oleh EIGER Adventure saat melakukan Ekspedisi 28 Gunung pada tahun 2017. Kegiatan ini dilakukan bersama 28 tim terpilih untuk menjajaki berbagai kawasan gunung yang terbentang dari ujung Sumatera hingga Papua. 

Ekspedisi ini menjadi salah satu momentum spesial karena berhasil membacakan teks Sumpah Pemuda di 28 titik tertinggi di nusantara secara bersamaan. Kegiatan itu bahkan berhasil memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dengan pencapaian " Pembacaan Teks Sumpah Pemuda Secara Serentak di Kawasan Gunung Indonesia Terbanyak" .

Sebanyak 28 gunung tersebut dipilih karena dianggap mewakili keanekaragaman hayati medan tropis Indonesia, mulai dari bagian barat, tengah, hingga timur, yang memiliki karakteristik tropis berbeda-beda.

“ Banyak dari gunung-gunung yang didaki dalam ekspedisi tersebut tidak awam di telinga para pendaki maupun masyarakat Indonesia pada umumnya,” ujar Galih Donikara, EIGER Adventure Service Team Manager, dalam keterangan tertulis.

Ekspedisi berusaha membuktikan bahwa apapun bisa dilakukan asalkan melalui persiapan yang matang. 

Berikut ini ada sepenggal cerita dari 5 gunung yang didaki pada ekspedisi ini:

1 dari 5 halaman

Gunung Halau Halau

Gunung Halau Halau© Eiger

Terletak di Kalimantan Selatan di jajaran Pegunungan Meratus, Gunung Halau Halau tercatat di peta sebagai Gunung Besar. Gunung ini berada di perbatasan tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kabupaten Tanah Bumbu.

Gunung Halau Halau hanya memiliki ketinggian 1.901 mdpl, terbilang rendah dibandingkan rata-rata gunung lainnya. Namun uniknya, titik ketinggian awal pendakiannya (desa terakhir) dimulai dari 200 mdpl yang merupakan khas pegunungan Kalimantan, tidak seperti di pegunungan lain dimana titik awal pendakiannya rata-rata sudah berada di atas 1.000 hingga 2.000 mdpl.

Sebelum ekspeditor memasuki Desa Kiyu, yang merupakan titik terakhir sebelum memulai pendakian ke Gunung Halau Halau, ekspeditor menemui tulisan “ Selamat Datang di Wilayah Hak Kelola Hutan Adat Desa Kiyu Putusan MK/35/PUU-X/2012, INI HUTAN ADAT KAMI, BUKAN HUTAN NEGARA” yang menjadi penanda bahwa hutan ini dirawat oleh masyarakat sekitar. 

Masyarakat Dayak Kiyu percaya bahwa hutan dan tanah adat bisa menghidupi keluarga mereka. Praktik berladang hanya boleh dilakukan di kawasan kelola saja dan tidak diperbolehkan menebang kayu di wilayah yang keramat, sebab diyakini jika hutan musnah adat juga akan hilang.

Menuju puncak Gunung Halau Halau, ekspeditor disuguhkan jalur yang menguras energi dengan medan tanjakan curam dan keadaan hutan semakin lembab. Sayangnya selama ekspeditor melakukan perjalanan menuju puncak, banyak ditemukan sampah berserakan diberbagai titik.

2 dari 5 halaman

Gunung Rore Kautimbu

Rore Kautimbu© Eiger

Gunung Rore Kautimbu merupakan salah satu gunung yang sering dikunjungi oleh pendaki lokal di Kota Palu, namun masih awam di telinga banyak masyarakat Indonesia. Memiliki ketinggian kurang lebih 2.400 mdpl, menurut pengalaman ekspeditor lokasi gunung ini terletak di daerah operasi Tinombala yang erat kaitannya dengan aksi terorisme, sehingga mengharuskan setiap pendaki untuk melapor ke pos operasi tinombala yang berada di Desa Wuasa, tepatnya di Polsek Lore Utara dan juga di Pos Palang Brimob Sedoa agar para pendaki dapat mengetahui informasi terbaru seputaran aktivitas gunung dan terhindar dari aksi terorisme di area tersebut.

Ketika melakukan pendakian, ekspeditor berada di tengah-tengah vegetasi yang sangat rapat namun jalur pendakian yang sangat jelas dan terbuka karena area ini merupakan tempat warga untuk mengambil hasil hutan berupa rotan dan damar.

Gunung Rore Kautimbu memiliki curah hujan yang cukup tinggi dan cepat berubah, sehingga perlu membawa jas hujan jika ingin melakukan perjalanan ke gunung ini. Dalam perjalanan, sekitar 1 jam dari Pos Helipad, ekspeditor menemukan lokasi habitat Tarsius, merupakan primate endemik yang hidup disekitar kawasan Sulawesi dan sangat dilindungi.

Puncak Gunung Rore Kautimbu memiliki trianggulasi yang dibuat dari kayu dan ditopang oleh susunan batu yang di beri semen, dengan tulisan “ Gunung Rore Kautimbu ketinggian 2.400 mdpl”. Namun disayangkan, informasi mengenai Gunung Rore Kautimbu masih sangat minim sehingga menciptakan banyak persepsi berkaitan dengan letak dan ketinggian gunung. 

Ekspedisi 28 Gunung yang dilakukan ke Gunung Rore Kautimbu menghasilkan kesimpulan bahwa Gunung Rore Kautimbu yang selama ini didaki dan diketahui sebagai gunung yang berada dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu merupakan puncakkan awal Gunung Torenali dengan ketinggian 2.519 Mdpl. Sedangkan lokasi Gunung Rore Kautimbu yang sesungguhnya berada jauh di sebelah utara dari posisi Gunung Torenali dan tidak lagi berada dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu.

3 dari 5 halaman

Gunung Masurai

Gunung masurai© Eiger

Gunung Masurai terletak di Provinsi Jambi, di bawah pengelolaan Balai Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kaki Gunung Masurai, nama Masurai memiliki arti ‘emas yang terurai’. Gunung Masurai yang memiliki ketinggian 2.933 mdpl merupakan gunung vulkanik yang sampai saat ini masih menunjukkan aktivitas vulkaniknya.

Perjalanan dimulai dari Desa Sungai Lalang, yang berada di tengah-tengah antara Gunung Masurai dengan Gunung Nilo di ketinggian 1.416 mdpl. Perjalanan menyusuri desa memiliki kontur yang cenderung landai, kemudian memasuki jalan setapak yang sebagian sudah dibeton dan sebagian lagi masih berupa jalan tanah sampai dengan batas antara kebun dengan hutan kaki Gunung Masurai.

Vegetasi sepanjang perjalanan dari camp 1 sampai puncak utama Gunung Masurai didominasi oleh tanaman khas ketinggian yaitu pohon Cantigi dan hampir semua pohon-pohon di jalur ini diselimuti oleh lumut yang sangat hijau dengan tingkat kelembaban tinggi hingga tanah yang ekspeditor pijak hampir menyerupai lumpur. Bahkan di beberapa titik terdapat lubang-lubang di tanah berada diantara akar-akar pepohonan yang berisi air endapan tawar dan dapat dikonsumsi.

4 dari 5 halaman

Gunung Tambusisi

Gunung tambusi© Eiger

Gunung Tambusisi memiliki ketinggian 2.422 mdpl secara administratif terletak di desa Tambayoli Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Seperti karakteristik gunung di Sulawesi yang mempunyai ketinggian lebih dari 2.000 mdpl, Gunung Tambusisi yang memiliki ketinggian 2.422 mdpl memiliki hutan heterogen yang lebih luas daripada hutan homogennya.

Jalur pendakian dimulai dari Desa Tambayoli, Kecamatan Soyojaya, Kabupaten Morowali Utara, yang terletak di sebelah selatan Gunung Tambusisi menggunakan perahu kayu, membelah Teluk Tomori. Di beberapa titik, ekspeditor disuguhi dengan pemandangan rumah khas masyarakat adat Suku Taa yang tersusun rapi, dan melewati jalur dengan vegetasi yang bervariasi, dari savanna, cemara gunung, belukar bambu, semak, pakis hutan hingga balutan lumut.

Menuju Pos 6 sebelum puncak, setiap orang harus menjaga jarak karena banyak jalur bebatuan lepas yang harus dilewati. Bahkan ada satu jalur dimana ekspeditor harus scrambling di medan dengan kemiringan 50-60 derajat dan minim tempat berpegangan sehingga mengharuskan menggunakan bantuan tali.

Tantangan terberat untuk tim saat itu adalah, salah satu anggota yang terus-terusan diganggu oleh makhluk halus sepanjang perjalanan. Namun, semangat untuk mencapai puncak dan mengikrarkan teks Sumpah Pemuda menjadi penyemangat perjalanan saat itu.

Tibalah mereka di puncak Gunung Tambusisi pada jam 11.30 Wita, dengan cuaca yang tiba-tiba berubah gelap dan mendung. Meskipun begitu, pembacaan teks Sumpah Pemuda tetap dilakukan, dipimpin seorang pendaki wanita yang saat itu bergabung.

5 dari 5 halaman

Gunung Mekongga

Gunung mekongga© Eiger

Gunung Mekongga merupakan gunung tertinggi di pegunungan Mekongga dengan ketinggian 2.620 mdpl yang membentang di sisi utara wilayah Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara. Kawasan pegunungan ini merupakan jajaran Pegunungan Verbeck yang puncak-puncaknya terdiri dari jenis batuan karst dataran tinggi.

Desa Tinukari merupakan desa terakhir yang dilalui sebelum dusun terakhir menuju ke Gunung Mekongga yang masuk dalam Kecamatan Wawo. Yang menarik, di tengah perjalanan banyak didapatkan kepingan-kepingan mobil bekas. Ketika memasuki pos 6, ekspeditor disuguhkan dengan pemandangan Danau Coca-Cola, danau luas yang warnanya mirip dengan minuman bersoda. Menuju Pos 8, ekspeditor melewati hutan lumut, jalur yang semakin menanjak dan terjal, sehingga mengharuskan ekspeditor untuk beristirahat dan tidak memaksakan diri.

Setibanya di puncak pada tanggal 28 Oktober, setelah membacakan teks sumpah pemuda, tim Mekongga mendapatkan panggilan melalui alat komunikasi yang digunakan dari Bapak Ridwan Kamil yang saat itu menjabat sebagai Walikota Bandung.

Beri Komentar