Alkimia: Ilmu Kuno yang Dipelajari Berabad-Abad, Adakah Hubungannya dengan Kimia Modern?

Reporter : Abidah
Senin, 5 Oktober 2026 08:00
Alkimia: Ilmu Kuno yang Dipelajari Berabad-Abad, Adakah Hubungannya dengan Kimia Modern?
Alkimia mungkin sudah lama ditinggalkan sebagai cara memahami materi secara ilmiah, tapi jejaknya tetap hidup dalam kimia modern.

DREAM.CO.ID - Sebelum ada laboratorium dengan tabung reaksi steril dan tabel periodik yang tergantung di dinding kelas, manusia sudah lebih dulu mengutak-atik logam, cairan, dan mineral lewat sebuah praktik yang disebut alkimia. Selama berabad-abad, alkimia jadi salah satu disiplin ilmu paling serius di dunia, dipelajari oleh cendekiawan, raja, hingga ilmuwan besar yang namanya kita kenal sampai sekarang. Tapi apa sebenarnya alkimia itu, dan benarkah ia jadi cikal bakal kimia modern?

Bukan Sekadar Sihir Mengubah Logam Jadi Emas

Gambaran populer soal alkimia biasanya berhenti pada satu hal: usaha mengubah logam biasa seperti timah atau timbal menjadi emas. Bagian itu memang benar, tapi hanya sepotong dari cita-cita besar para alkemis. Alkimia sebenarnya adalah gabungan filsafat, praktik eksperimen, dan spiritualitas yang bertujuan memahami serta menyempurnakan materi, termasuk tubuh dan jiwa manusia sendiri.

Para alkemis meyakini alam semesta tersusun dari elemen-elemen dasar yang bisa diubah dari satu bentuk ke bentuk lain lewat proses tertentu, mirip logam yang bisa " disempurnakan" menjadi emas. Selain mengejar emas, mereka juga mencari " batu bertuah" atau philosopher's stone, benda mitos yang dipercaya bisa mengubah logam apa pun menjadi emas sekaligus menyembuhkan segala penyakit dan memperpanjang umur manusia. Sebagian alkemis lain mengejar elixir of life, ramuan yang diyakini bisa memberi keabadian.

1 dari 3 halaman

Alkimia Tumbuh di Banyak Peradaban

Alkimia bukan monopoli satu bangsa. Praktik serupa berkembang secara terpisah di Mesir kuno, Tiongkok, India, dan dunia Islam, sebelum akhirnya menyebar ke Eropa lewat penerjemahan naskah-naskah Arab pada abad pertengahan.

Di Mesir kuno, alkimia berkaitan erat dengan proses pembalseman jenazah dan pengolahan logam untuk keperluan keagamaan. Di Tiongkok, alkimia justru lebih condong ke pencarian keabadian lewat ramuan dan meditasi, terkait erat dengan ajaran Tao.

Sementara di dunia Islam abad ke-8 hingga ke-13, ilmuwan seperti Jabir ibn Hayyan justru meletakkan fondasi metodologi eksperimen yang jauh lebih sistematis, mencatat proses distilasi, kristalisasi, dan sublimasi dengan detail yang kelak sangat memengaruhi ilmu kimia.

Ketika naskah-naskah alkimia dari dunia Islam diterjemahkan ke bahasa Latin, Eropa abad pertengahan dan Renaisans pun ikut menyerap tradisi ini. Bahkan kata " alkimia" sendiri berasal dari bahasa Arab, al-kimiya, yang diserap ke bahasa Latin sebagai alchymia.

 

2 dari 3 halaman

Ilmuwan Besar yang Juga Seorang Alkemis

Salah satu fakta yang cukup mengejutkan bagi banyak orang adalah betapa banyak tokoh besar sains modern yang ternyata juga mendalami alkimia. Isaac Newton, fisikawan yang merumuskan hukum gravitasi dan gerak, justru menghabiskan lebih banyak waktu menulis naskah tentang alkimia dibanding fisika. Naskah-naskah alkimia Newton yang ditemukan setelah kematiannya menunjukkan betapa seriusnya ia menekuni bidang ini, meski karyanya di bidang itu jauh kurang terkenal dibanding hukum gerak dan optikanya.

Ini menunjukkan bahwa pada masanya, alkimia bukan dianggap sebagai takhayul pinggiran, melainkan bidang keilmuan yang sah dan dianggap sejajar dengan astronomi atau matematika.

3 dari 3 halaman

Dari Alkimia Menuju Kimia Modern

Hubungan antara alkimia dan kimia bukan sekadar kebetulan nama yang mirip. Kimia modern memang lahir dari rahim alkimia, meski lewat proses pemisahan yang panjang dan bertahap.

Titik baliknya sering dikaitkan dengan Robert Boyle pada abad ke-17, yang dalam bukunya The Sceptical Chymist mulai mempertanyakan asumsi dasar alkimia tentang elemen dan mendorong pendekatan yang lebih berbasis eksperimen terukur serta bisa diverifikasi ulang. Antoine Lavoisier pada abad ke-18 melanjutkan pergeseran ini lewat penemuan hukum kekekalan massa dan penyusunan sistem penamaan unsur kimia yang lebih sistematis, langkah yang akhirnya memisahkan kimia sebagai ilmu pengetahuan modern dari alkimia yang penuh muatan mistis dan filosofis.

Meski begitu, banyak alat dan teknik laboratorium yang kita kenal sekarang, seperti distilasi, kristalisasi, dan filtrasi, sebenarnya diwariskan langsung dari praktik para alkemis. Bahkan konsep unsur kimia sebagai bahan dasar penyusun materi juga berakar dari gagasan alkimia tentang elemen-elemen fundamental, meski isinya kemudian dikoreksi total oleh sains modern.

Alkimia mungkin sudah lama ditinggalkan sebagai cara memahami materi secara ilmiah, tapi jejaknya tetap hidup dalam kimia modern, baik lewat peralatan laboratorium, istilah-istilah teknis, maupun semangat eksperimen yang terus disempurnakan dari generasi ke generasi. Alkimia bukan sekadar cerita usang tentang usaha sia-sia mengubah logam jadi emas, melainkan babak penting dalam perjalanan panjang manusia memahami dan mengendalikan materi di sekitarnya, sebuah perjalanan yang pada akhirnya melahirkan kimia seperti yang kita kenal sekarang.

Beri Komentar