Bacaan Doa Itidal Lengkap Ketentuan dan Posisi Tangan yang Disunahkan

Reporter : Arini Saadah
Senin, 26 September 2022 19:02
Bacaan Doa Itidal Lengkap Ketentuan dan Posisi Tangan yang Disunahkan
Ketahui bacaan doa itidal berikut ini!

Dream - Doa itidal penting diketahui bagi umat Islam karena berkaitan dengan gerakan sholat. Itidal termasuk rukun dalam sholat, sehingga melakukannya adalah suatu keharusan.

Gerakan itidal dimulai dari posisi ruku kemudian berdiri sejenak (tuma'ninah) sebelum melanjutkan sujud. Secara lebih detail, gerakan itidal merupakan berdiri dengan memisahkan antara ruku dan sujud.

Melalui kitab Kasyifatus Saja, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan itidal adalah kembalinya orang yang sholat pada posisi sebelum ia melakukan ruku, baik kembali di posisi berdiri atau posisi duduk.

Gerakan itidal ini juga dibarengi dengan doa yang sunah dibaca. Lantas bagaimana bacaan doa itidal yang dianjurkan? Simak ulasan selengkapnya berikut ini, lengkap dengan syarat, posisi dan pengkajian ulama yang berhasil dirangkum Dream dari berbagai sumber.

1 dari 4 halaman

Syarat Itidal

Itidal perlu dilakukan dengan memerhatikan syarat-syaratnya. Inilah mengapa umat Islam wajib mengetahui dan memahaminya dengan benar dan tepat. Berikut tiga syarat yang perlu diketahui saat gerakan itidal:

  1. Tidak melakukan gerakan lain setelah bangun dari ruku kecuali hanya untuk itidal.
  2. Itidal harus dilakukan dengan tuma’ninah, di mana dengan posisi tubuh yang berdiri tegak dan tetap diam di tempat serta dalam kondisi yang tenang. Setidaknya dalam kondisi tersebut, kita disunahkan membaca doa itidal.
  3. Tidak berdiri dalam waktu yang lama melebihi lamanya ketika membaca surat Al-Fatihah. Hal ini karena itidal sendiri adalah rukun sholat yang tergolong pendek, sehingga tidak diperbolehkan untuk melakukannya dalam waktu lama.
2 dari 4 halaman

Posisi Tangan saat Itidal

Ilustrasi© Shutterstock.com

Meskipun demikian, rupanya banyak dijumpai praktik itidal yang berbeda-beda. Sebagian orang itidal dengan posisi tangan bersedekap, sementara sebagian lainnya melakukannya dengan tangan lurus di samping badan. Sehingga muncul pertanyaan, manakah yang lebih baik dan dianjurkan untuk dilaksanakan?

Mengutip dari laman NU Online, praktik itidal bisa dilihat berdasarkan hadis riwayat Muslim berikut ini:

" Wail bin Hujr melihat Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya saat memasuki shaolat sembari takbiratul ihram. Hammam memberikan ciri-ciri, posisi tangan Rasulullah (saat mengangkat kedua tangannya) adalah sejajar dengan kedua telinganya. Kemudian Rasulullah SAW memasukkan tangan ke dalam pakaiannya, menaruh tangan kanan di atas tangan kiri. Saat Rasulullah akan rukuk, ia mengeluarkan kedua tangannya dari pakaian lalu mengangkatnya, bertakbir sembari rukuk. Pada waktu ia mengucapkan 'sami'allahu liman hamidah', Rasul mengangkat kedua tangannya. Saat sujud, ia sujud dengan kedua telapak tangannya."

Akan tetapi, dalam hadis ini tidak dijelaskan mengenai posisi tangan ketika itidal. Sebab hadis ini hanya menerangkan letak tangan Rasulullah SAW ketika berdiri dari ruku.

3 dari 4 halaman

Pendapat Ulama

Hadis yang tidak spesifik di atas melahirkan kajian panjang di kalangan para ulama. Jumhur ulama mengkaji persoalan ini lebih lanjut. Imam Ramli mengutarakan pendapatnya dalam Kitab Nihayatul Muhtaj berikut ini:

" Menaruh kedua tangan di bawah dada, maksudnya kegiatan tersebut dilaksanakan pada semua posisi berdirinya orang sholat sampai ia akan ruku. (Jika akan rukuk maka dilepas). Teks tersebut tidak berlaku pada saat berdiri itidal. Pada waktu itidal, janganlah menaruh kedua tangannya di bawah dadanya, namun lepaskan keduanya. Baik saat membaca dzikirnya i'tidal, atau bahkan setelah selesai qunut."

Pendapat senada diungkapkan oleh Syeikh Al-Bakri dalam I'anatut Thalibin.

" Yang paling sempurna adalah saat mengangkat kedua tangan itu dimulai berbarengan dengan mengangkat kepala. Hal tersebut berjalan terus diangkat sampai orang selesai berdiri pada posisi sempurna. Setelah itu kemudian kedua tangan dilepaskan."

Berdasarkan kedua pendapat tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pendapat yang umum menyatakan lebih baik posisi tangan dilepaskan ketika itidal, bukan disedekapkan di bawah dada.

4 dari 4 halaman

Bacaan Doa Itidal

Setelah mengetahui ketentuan gerakan itidal di atas, selanjutnya Sahabat Dream perlu mengetahui bacaan doa itidal. Berikut bacaan doa itidal yang pertama atau disebut juga dengan bacaan tasmi:

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

Sami'allahu liman hamidah.

Artinya:

“ Aku mendengar orang yang memuji-Nya.”

Kemudian dilanjutkan dengan bacaan doa itidal berikut ini:

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

Rabbanaaa lakal hamdu mil-ussamaawaati wamil ul-ardhi wa mil-u maa syi'ta min syai-im ba’du.

Artinya:

“ Ya Allah Tuhan Kami, Bagi-Mu lah segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang yang Kau kehendaki sesudah itu.” (HR. Muslim dan Abu Awanah)

Demikian itulah bacaan doa itidal lengkap dengan ketentuannya yang perlu dipahami umat Islam. Pembahasan di atas membantu kita untuk menyempurnakan gerakan itidal yang artinya gerakan sholat jadi lebih sempurna. Wallahu a’lam.

Beri Komentar