Cerita Singkat Sultan Baabullah, Raja Ternate yang Berjuang Usir Penjajah Protugis di Maluku

Reporter : Arini Saadah
Kamis, 11 Agustus 2022 16:00
Cerita Singkat Sultan Baabullah, Raja Ternate yang Berjuang Usir Penjajah Protugis di Maluku
Sultan Baabulah merupakan penguasa yang mampu menaklukkan sekaligus mengusir penjajahan Portugis dari bumi Maluku.

Dream - Ceritakan secara singkat tentang Sultan Baabulah? Pertanyaan tersebut sering muncul dalam mata pelajaran sejarah. Jika ingin menjawabnya, simak cerita singkatnya berikut ini.

Sultan Baabulah merupakan sultan ke-7 dan penguasa ke-24 di Kesultanan Ternate, Maluku Utara. Sultan Baabulah disebut sebagai penguasa paling terkenal karena mampu menaklukkan sekaligus mengusir penjajah Portugis dari bumi Maluku pada 15 Juni 1575.

Sultan Baabulah lahir pada 10 Februari 1528 di Ternate, Maluku Utara. Ia adalah putra dari raja Ternate Sultan Khairun dengan istri Boki Tanjung. Ia dikenal sebagai sosok yang pemberani dan bertanggung jawab, bahkan sejak masih usia dini.

Karena telah berjuang keras mengusir penjajah yang menginjak-injak martabat masyarakat di Maluku, maka pada 10 November 2020 Presiden Joko Widodo memberi gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Baabulah.

Selanjutnya, simak cerita singkat Sultan Baabulah dalam rangkuman Dream di bawah ini.

1 dari 4 halaman

Belajar Agama Sejak Kecil

Mengetahui cerita singkat tentang perjuangan pahlawan akan menumbuhkan sikap patriotisme dan nasionalisme bagi generasi muda. Salah satunya mengenal sosok Sultan Baabullah, seorang raja di kesultanan Ternate ke-24. Nama Sultan Baabullah sudah diperkenalkan lewat pelajaran sejarah.

Ia merupakan putra sulung dari Sultan Khairun Jamilu, raja Ternate periode 1535 sampai 1570. Hidup di lingkungan kesultanan, Baabullah sudah diberikan pendidikan keagamaan sejak dini oleh ayahnya.

Ia dibekali pengetahuan keagamaan agar bisa berdakwah kepada masyarakat. Bahkan ia mengikuti ayahnya kemanapun, salah satunya saat Sultan Khairun diasingkan sementara waktu ke Goa pada 1545 sampai 1546. 

Memasuki masa remaja, Sultan Baabullah mulai membantu sang ayah menjalankan roda pemerintahan. Ia turut menandatangani surat perjanjian vasalisasi Ternate kepada Portugis pada 1560. Surat tersebut menjadi surat perjanjian tertua yang ada dalam sejarah Indonesia dengan stempel kesultanan dan masih diabadikan hingga sekarang.

2 dari 4 halaman

Konflik Ternate dan Portugis

Maluku dikenal sebagai pusat utama penghasil cengkeh yang banyak diburu oleh bangsa Eropa. Ternate pun menjadi pusat utama perdagangan cengkeh. Portugis datang dan mendirikan benteng untuk menguasai perdagangan pada 1522. Ternate pun mulai ketergantungan erat dengan bangsa Portugis dalam hal perdagangan cengkeh.

Pada mulanya, kesultanan Ternate menganggap Portugis membantu melancarkan perdagangan cengkeh karena memagang kuasa atas persinggahan di Malaka. Selain itu, Portugis memiliki senjata yang lebih unggul. Seiring berjalannya waktu, tingkah para serdadu Portugis tidak disukai oleh masyarakat Ternate. Akhirnya konflik antar Ternate dan Portugis pecah pada tahun 1560-an.

Tak hanya ingin menguasai sumber daya alam saja, Portugis juga hendak mengkristenkan masyarakat Maluku. Kaum Muslim Ambon pun meminta bantuan dari Sultan Ternate untuk mencegah bangsa Eropa mengkristenkan daerah tersebut.

Lantas Sultan Khairun Jamilu yang berkuasa pada saat itu mengirim prajurit untuk mengepung Desa Kristen Nusaniwi. Usaha pengepungan itu pun gagal karena Portugis datang dengan tiga kapalnya. Karena konflik terus berlanjut, orang-orang Portugis terpaksa meninggalkan Ambon setelah tahun 1564.

Namun pada 1569 Portugis kembali lagi ke Maluku dan menetap di sana. Peperangan masih terus berlanjut sampai 25 Februari 1570, Kapten Diogo Lopes de Mesquita mengajak Sultan Khairun datang ke kediamannya untuk bernegosisasi. 

Sultan Khairun mendatangi undangan tersebut dan datang seorang diri. Keponakan kapten, Martim Afonso Pimentel, diperintahkan untuk berjaga di sisi dalam gerbang. Ketika Sultan keluar usai perjamuan, Pimentel langsung menikamnya menggunakan belati hingga Sultan Khairun gugur.

3 dari 4 halaman

Menuntut Balas Kematian Sang Ayah

Siasat politik para penjajah adalah dengan menyingkirkan penguasa setempat. Sultan Khairun Jamilu menjadi target strategi politik Portugis agar bisa menguasai Maluku dan segala sumber dayanya.

Hingga akhirnya, Sultan Khairun Jamilu dibunuh oleh Portugis. Baabullah pun dinobatkan sebagai Sultan meneruskan perjuangan ayahnya.

Saat pidato penobatannya sebagai Sultan Ternate ke-7, Baabullah bersumpah akan membalas dendam atas kematian ayahnya.

Benar adanya, Sultan Baabullah berhasil menaklukkan bangsa Portugis pada tahun 1575. Perjuangannya bersama para prajurit saat mengusir penjajahan Portugis melekat di hati masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Maluku.

Masa pemerintahan Sultan Baabullah berlangsung pada 1570-1583. Kemenangannya mengusir penjajah Portugis membuat masa pemerintahannya paling spektakuler dalam sejarah Kesultanan Ternate.

Usai kemenangannya melawan Potugis, Sultan Baabullah melakukan invasi wilayah kekuasaannya, antara lain Mindnao, Bima-Koreh, Nove Guinea, dengan prajurit yang terdiri dari 300.000 orang. Francois Valentyn, seorang pendeta dari Belanda yang melakukan penelitian di Maluku, menjuluki Sultan Baabullah sebagai Si Penguasa 72 Pulau.

4 dari 4 halaman

Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional

Secara resmi, Sultan Baabullah mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2020 oleh Presiden Jokowi. Rupanya pengajuan rekomendasi Sultan Baabullah sebagai Pahlawan Nasional bermula sejak November 1996.

Pada saat itu, Dirjen Kebudayaan Kemdikbud dan Pemda Provinsi Maluku melakukan diskusi ilmiah “ Ternate Sebagai Bandar Jalur Sutra" . Namun demikian tak ada tindak lanjut dari diskusi tersebut.

Mengutip Historia, usulan memberi gelar Pahlawan Nasional itu baru ditindaklanjuti pada 2012. Berbagai seminar tentang Sultan Baabullah pun digelar, salah satunya di Universitas Indonesia.

Dalam seminar tersebut, sejarawan Bondan Kanumoyoso dihadirkan. Ia mengatakan Sultan Baabullah menjadi sosok pembangun kekuatan lokal untuk membendung dominasi Portugis di Maluku.

Ia juga disebut sebagai tokoh yang menginspirasi bagi sejarah kemaritiman Indonesia. Sebagai pejuang lokal yang gagah berani melawan kedatangan Portugis di Maluku, akhirnya Presiden Jokowi memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Baabullah.

 

(Dirangkum dari berbagai sumber)

Beri Komentar