Doa Talqin Jenazah dan Hukumnya Menurut Empat Mazhab, Penting Diketahui Agar Tak Salah Paham

Reporter : Arini Saadah
Selasa, 30 Agustus 2022 20:01
Doa Talqin Jenazah dan Hukumnya Menurut Empat Mazhab, Penting Diketahui Agar Tak Salah Paham
Pendapat ulama dari empat mazhab tentang hukum membaca doa talqin jenazah.

Dream - Talqin jenazah merupakan tradisi yang banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Doa talin jenazah dibaca saat jenazah seorang muslim sudah dimasukkan ke dalam liang lahat.

Kalangan ulama masih berbeda pendapat dalam menetapkan hukum membaca doa talqin jenazah. Sebagian para ahli agama itu ada yang membolehkan, sementara sebagiannya lagi mengharamkan dengan berpegang pada dalilnya masing-masing.

Ibnu Taimiyah, mengutip Bincang Syariah, termasuk salah satu ulama yang memperbolehkan membaca doa talqin jenazah. Pendapatan beliau cukup bertolak belakang karena selama ini dikenal sebagai sosok yang menjadi rujukan oleh kalangan yang mengharamkan membaca doa talqin jenazah.

Dalam artikel kali ini, Dream akan mengupas perbedaan pendapat dari empat mazhab tentang hukum membaca doa talqin jenazah. Selain itu juga akan dipaparkan urutan doa talqin jenazah yang biasa dibaca untuk melepaskan jenazah memasuki alam barzah.

1 dari 6 halaman

Doa Talqin Jenazah Dihukumi Sunnah

Pendapat pertama adalah para ulama yang menyebut hukum membaca doa talqin jenazah adalah sunnah. Ulama yang sepakat dengan pendapat ini adalah sebagian ulama mazhab Hanafi, sebagian ulama mazhab Maliki, ulama mazhab Syafi’i, dan ulama mazhab Hanbali.

Salah satu ulama dari mazhab Hanafi, Syekh Muhammad Amin Ibnu Abidin mengatakan dalam kitab Hasyiyah Raddul Mukhtar 'ala Durril Muhtar:

“ Sesungguhnya tidak dilarang mentalqin mayit setelah dikubur hanyalah karena tidak ada kemadharatan di dalamnya, bahkan terdapat manfaat. Sebab, mayit memperoleh manfaat dari pemberitahuan tersebut."

Sementara itu, Syekh Al-Mawwaq dari mazhab Maliki menyebutkan dalam Kitab At-Taj wal Iklil li Mukhtashari Khalil:

“ Jika mayit telah dimasukkan ke dalam kuburnya, maka sesungguhnya disunnahkan mentalqinnya pada saat itu. Hal ini merupakan perbuatan penduduk Madinah yang shaleh lagi baik, karena sesuai dengan firman Allah ta’ala: “ Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” Dan seorang hamba sangat membutuhkan peringatan tentang Allah saat ditanya oleh malaikat."

2 dari 6 halaman

Senada dengan itu, Imam Nawawi dari mazhab Syafi'i mengatakan dalam Kitab Al-Majmu':

“ Disunnahkan mentalqin mayit segera setelah menguburnya, di mana seseorang duduk di depan kepala mayit, dan berkata: Wahai fulan anak fulan, dan wahai hamba Allah anak hamba perempuan Allah. Ingatlah janji yang atasnya kamu keluar dari dunia, yaitu persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu baginya, sesungguhnya Nabi Muhammad adalah hamba dan rasul-NYA, surga itu benar, neraka itu benar, kebangkitan itu benar, kiamat itu pasti datang; tiada keragu-raguan di dalamnya, Allah akan membangkitkan orang yang ada dalam kubur. Dan sungguh kamu telah meridhai Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai Nabi, Al-Quran sebagai imam, Kabah sebagai kiblat, dan kaum Mukminin sebagai saudara."

Sementara Syekh Mansur bin Yunus Al-Bahuti dari mazhab Hanbali mengatakan dalam Kitab Syarh Muntahal Iradat:

“ Dan disunnahkan mentalqin mayit setelah dipendam di kuburan, karena hadits riwayat Abi Umamah Al-Bahili radhiyallahu anhu."

3 dari 6 halaman

Doa Talqin Jenazah Dihukumi Mubah (Boleh)

Pendapat kedua adalah ulama yang menghukumi mubah (boleh) yaitu sebagian ulama dari mazhab Hanafi. Syek Az-Zaila’i dari mazhab Hanafi mengatakan dalam Kitab Tabyinul Haqaiq Syarh Kanzud Daqaiq:

“ Sesungguhnya mentalqin mayit itu disyariatkan, sebab ruhnya dikembalikan kepadanya, begitu pula akalnya. Dia memahami apa yang ditalqinkan (diajarkan)."

Sementara itu, Syekh Ibnu Taimiyah mengatakan dalam Kitab Al-Fatawa Al-Kubra:

“ Mentalqin mayit setelah kematiannya itu tidak wajib, berdasarkan ijma’, juga tidak termasuk perbuatan yang masyhur di kalangan umat Islam pada masa Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para khalifahnya. Tetapi, hal itu dicritakan dari sebagian sahabat, seperti Abi Umamah dan Watsilah bin Al-Asqa’. Karenanya, sebagian ulama membolehkannya, seperti imam Ahmad. Sebagian sahabat (murid) imam Ahmad, dan sahabat-sahabat imam Syafi’i mensunnahkannya. Sebagian ulama menghukuminya makruh, karena meyakininya sebagai bid’ah. Dengan demikian, ada tiga pendapat dalam hal ini; sunnah, makruh, dan mubah. Dan pendapat yang terakhir (mubah) merupakan pendapat yang paling adil."

4 dari 6 halaman

Doa Talqin Jenazah Dihukumi Makruh

Pendapat yang ketiga menyatakan hukum membaca doa talqin jenazah adalah makruh. Pendapat ini disampaikan oleh sebagian ulama dari mazhab Maliki.

Syekh Abdul Wahab Al-Baghdadi Al-Maliki menyatakan dalam Kitab Syarhur Risalah:

“ Begitu pula dimakruhkan, menurut imam Malik, mentalqin mayit setelah diletakkan di dalam kubur."

Dari ketiga pendapat tersebut, pendapat mayoritas adalah hukum yang menyatakan kesunahan membaca doa talqin jenazah. Sebab pendapat sunnah ini didukung oleh hadits riwayat Abu Umamah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“ Bila seseorang dari kalian mati, maka ratakanlah tanah di kuburnya. Lalu hendaknya salah seorang di antara kalian berdiri di atas kuburnya, kemudian berkata: “ Wahai Fulan putra si Fulanah’. Sungguh si mayit mendengarnya dan tidak menjawabnya." (HR Thabrani)

5 dari 6 halaman

Bacaan Doa Talqin Jenazah

Mengutip dari Kitab Majmu Syarif, Kitab Perukunan Melayu dan Kitab Maslakul Akhyar karya Sayyid Utsman bin Yahya, berikut bacaan doa talqin jenazah yang bisa diamalkan:

La ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumitu, wa huwa da’imun la yamutu, bi yadihil khairu, yaf‘alu ma yasya-u, wa huwa ‘ala kulli syai-in qadirun. Kullu nafsin dza-iqatul mauti, wa innama tuwaffawna ujurakum yaumal qiyamati, fa man zuhziha anin nari wa udkhilal jannaha fa qad faza, wa mal hayatud dunya illa mata‘ul ghururi.

Artinya:

Tiada Tuhan selain Allah, tiada patut ada sekututu bagiNya. Hanya Dia yang berhak menerima pujian, Diaa yang menghidupkab dan mematikan. Dia yang seantiasa Maha Hidup, tidak pernah mati. Di genggaman-Nya ada kebaikan.

Dia Maha berkuasa untuk melakukan apa yang Dia kehendaki. Setiap yang bernyawa (jelas) akan merasakan kematian,dan ganjaran bagi kalian (yang bernyawa) akan diberikan di hari kiamat.

Maka siapa yang dianugerahi jauh dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka ia (sungguh) beruntung. Dan, kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang semu.

6 dari 6 halaman

Dilanjutkan dengan membaca doa di bawah ini:

Ya ‘abdallahi, ibna ‘abdayillahi (ya amatallahi, binta abdayillahi)

Ya ‘abdallahi, ibna Hawa (ya amatallahi, binta Hawa)

Udzkurul ahdal ladzi kharajta ‘alayhi min darid dunya, wa huwa syahadatu an la ilaha illallahu, wa anna Muhammadan Rasulullahi shallallahu a’alayhi wa sallama, wa annal mawta haqqun, wa annal qabra haqqun, wa anna na‘imahu haqqun, wa anna ‘adzabahu haqqun, wa anna su’ala Munkarin wa Nakirin fihi haqqun, wa annal ba‘tsa haqqun, wa annal hisaba haqqun, wa annal mizana haqqun, wa annas shiratha haqqun, wa anna syafa’ata Sayyidina Muhammadin shallallahu ‘alayhi wa sallama haqqun, wa annal jannata haqqun, wa annan nara haqqun, wa anna liqa’allahi ta’ala li ahlil haqqi haqqun, wa annas sa’ata atiyatun la rayba fiha, wa annallaha yab‘atsu man fil quburi.

 

Sumber: Bincang Syariah dan NU Online.

Beri Komentar