Donald Trump Mengiyakan Permintaan Ventilator Jokowi

Reporter : Mutia Nugraheni
Minggu, 26 April 2020 10:15
Donald Trump Mengiyakan Permintaan Ventilator Jokowi
Presiden Jokowi rupanya meminta langsung ventilator pada Trump.

Dream - Kebutuhan ventilator di seluruh negara di dunia sangat mendesak di masa pandemi Covid-19. Tak terkecuali Indonesia, yang jumlah ventilatornya jauh dari kata ideal jika dibandingkan dengan lonjakan pasien.

Kondisi tersebut membuat Presiden Jokowi meminta bantuan ke Amerika Serikat (AS). Rupanya, Jokowi melakukan pembicaraan langsung dengan Presiden AS, Donald Trump. Ia meminta bantuan ventilator pada negara adikuasa ini.

Hal tersebut diketahui dari cuitan pada 24 April 2020 lalu di akun Twitter resmi Presiden Trump @realDonaldTrump. Dalam tulisannya, Trump mengungkap kalau telah berkomunikasi dengan Joko Widodo.

" Baru saja berbicara dengan teman saya, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Meminta ventilator, dan kita akan menyediakan. Sebuah kerjasama yang baik antara kita!," tulis Trump.

 

1 dari 6 halaman

Kritikan Bermunculan

Keputusan Trump untuk membantu Indonesia dalam hal penyediaan ventilator untuk pasien Covid-19 ternyata memicu kritikan keras warga AS. Hal ini tampak dari komentar yang bermunculan dari cuitan Trump tersebut.

Cuitan Trump soal permintaan ventilator

Banyak yang menganggap keputusan Trump tidak bijak, karena kebutuhan dalam negeri AS akan ventilator juga masih sangat tinggi. Seperti komentar akun @ChrisJZullo yang menulis " Anda dapat mengirim ventilator ke luar negeri tapi tak bisa menyediakan Alat Pelindung diri yang memadai di sini" .

Komentar lainnya datang dari akun @dvillella yang menulis " Teman Anda bisa mendapat ventilator, tapi gubernur di Amerika Serikat sampai harus mengiba pada Anda?" .

Kasus Covid-19 di Amerika Serikat memang termasuk tertinggi di dunia. Menurut situs John Hopkins per 26 April 2020, pasien positif di AS berjumlah 938.154, dengan jumlah korban meninggal dunia mencapai 17.126.

2 dari 6 halaman

Ventilator Portabel Karya Anak Bangsa Sedang Dites

Dream - Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang PS Brodjonegoro, mengatakan, ventilator portabel buatan anak bangsa sedang diuji di Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Ventilator portabel itu dibuat di bawah kendali Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), salah satu bagian dari BRIN.

" Kita berupaya membuat ventilator dalam negeri dan tim dipimpin BPPT sudah sampai pada tahap membuat portabel ventilator yang sudah diuji di antara dokter, saat ini sedang diuji Kemenkes. Sehabis ini, diuji di RS,"   kata Bambang, dalam keterangan resminya, Selasa 7 April 2020.

Seiring dengan banyaknya pasien Covid-19, keberadaan ventilator sangat dibutuhkan dalam jumlah besar untuk menunjang pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Sehingga, dia berharap dalam waktu dua minggu lagi ventilator portabel tersebut segera bisa diproduksi dalam jumlah yang besar.

" Paling tidak membantu untuk pasien yang non-ICU (intensive care unit) yang membutuhkan bantuan ventilator," ucap dia.

Selain itu, Bambang menyampaikan bahwa ventilator portabel tersebut hampir semuanya menggunakan komponen lokal. " Yang terpenting, TKDN (tingkat komponen dalam negeri) dari ventilator ini hampir 100 persen," ujar dia.

3 dari 6 halaman

Baca Cuitan Mau Sumbang Ventilator, Wamen BUMN Gercep Colek Elon Musk

Dream – Elon Musk, bos produsen mobil listrik Tesla, menawarkan bantuan ventilator untuk rumah sakit di seluruh dunia melalui akun twitternya @elonmusk. Cuitan Musk ternyata menarik perhatian Wakil Menteri BUMN, Budi Gunadi Sadikin.

Dalam cuitan twiternya, Tesla memiliki ventilator bersertifikat FDA dan akan memberikannya cuma dengan syarat tertentu.

" Syaratnya, ventilator harus digunakan untuk kepentingan pasien, tidak disimpan di gudang. Silakan hubungi saya atau @Tesla," cuit Elon dalam bahasa Inggris.

Menurut Musk, ventilator tersebut telah bersertifikat FDA dan dia bersedia mengirimkannya ke rumah sakit di seluruh dunia melalui sistem pesan antar Teslan di tiap region.

" Biaya antar dan mesin gratis," cuit Musk.  

4 dari 6 halaman

Tarik Perhatian Wamen BUMN

Menanggapi tawaran Musk, Wamen BUMN Budi Gunadi Sadikin, turut membalas tweet tersebut. Jumlah ventilator yang diminta pun tak main-main, mencapai 300-400 unit untuk memenuhi kebutuhan di 70 rumah sakit yang tersebar di Indonesia dan menangani pasien positif Covid-19.

Budi mengatakan Indonesia sedang membutuhkan ventilator secepatnya untuk menangani para pasien.

" Elon, kami mengelola 70 rumah sakit dengan 6.500 tempat tidur dan sedang mencari 300 hingga 400 ventilator secepatnya untuk menangani pasien baru. Harap hubungi saya di budi.g.sadikin@bumn.go.id," cuit dia dalam akun Twitternya @BudiGSadikin.

Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga membenarkan cuitan permintaan bantuan dari Budi tersebut. " Benar," ujarnya saat dikonfirmasi Liputan6.com.

(Sumber: Liputan6.com/Athika Rahma)

5 dari 6 halaman

Super Jenius! Dokter Anastesi Akali 1 Ventilator untuk 9 Pasien

Dream - Ventilator jadi barang yang sangat dibutuhkan rumah sakit di seluruh dunia dalam masa pandemi Covid-19. Alat mekanik ini berfungsi untuk membantu pasien Covid-19 yang mengalami pemburukan dan gagal napas.

Ventilator akan membantu pasien untuk bernapas. Sayangnya, jumlah ventilator sangat minim dibandingkan dengan jumlah pasien yang terus bertambah. Sebuah ide brilian muncul dari seorang dokter anastesi asal Kanada, Alain Gauthier.

Ia merupakan ahli anestesi di Rumah Sakit Distrik Perth Smiths Falls di Ontario, yang juga seorang PhD bidang Diaphragmatic Mechanics. Gauthier mengakali satu ventilator yang biasanya hanya bisa untuk satu pasien, jadi bisa dimanfaatkan untuk 9 pasien.

 

Hal ini diketahui dari unggahan Alan Drummond, rekan kerja Gauthe di akun Twitternya @alandrummond2.

 

6 dari 6 halaman

Ada Syarat Penggunaannya

Alan menyebut rekannya adalah seorang 'evil genius', Menurut kantor berita CBC, ventilator yang diakali Gauthier hanya akan bekerja pada pasien yang memiliki kapasitas paru-paru yang sama.

Memang, ada syarat khusus untuk penggunaannya. Setidaknya, lebih banyak nyawa yang bisa diselamatkan dengan alat dadakan ini.

Dr Alain Gauthier

(dr. Alain Gauthier/ Foto: CBC)

" Di titik ini, kita mungkin tidak memiliki pilihan lain. Pilihannya bisa jadi baik, kita membiarkan orang mati atau kita memberikan kesempatan kepada mereka," kata Gauthier kepada CBC News.

Gauthier muncul dengan ide itu setelah melihat video 2006 di YouTube. Dia mengatakan idenya telah dicoba sekali sebelumnya, tepatnya setelah kejadian penembakan massal di Las Vegas pada 2017.

Laporan Raissa Anjanique/ Sumber: UpWorthy

Beri Komentar