Nick De Vries Saat Jadi Juara Dunia Formula E Tahun 2021 (Dailyadvent)
Dream – Pria itu tampak tersenyum lebar. Rambut pirangnya nampak tersisir rapi ke samping. Sore itu di Monas, Jakarta Pusat, Kamis 2 Juni 2022, di acara Meet and Greet pembalap Formula E, pria itu mengenakan kostum pembalap berwarna putih. Di belakang kostumnya tertulis “ Mercedes-EQ.”
Di acara itu dia tampak diapit oleh Guberrnur DKI Jakarta Anie Baswedan dan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo yang juga Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI). Anies dan Bambang kompak mengenakan kemeja hitam lengan pendek dan celana jeans.
Hujan pada sore itu belum lama berhenti. Setelah sesi foto bareng dengan Anies dan Bambang, pria itu masuk ke dalam mobil listrik yang akan dia gunakan dalam balapan Formula E dua hari lagi di Jakarta E-Prix International Circuit (JIEC), Ancol, Jakarta Utara.
Setelah masuk ke dalam mobil, Anies mengayunkan bendera start. Maka pria itu segera menggeber mobil listrik Mercedez berwarna biru hitam itu dengan kecepatan tinggi. Tak ada asap yang keluar. Hanya ada nyala merah di bagian knalpot, bersinar merah seperti cahaya lampu.
Pria itu hanya mengedenrai dalam lintasan pendek. Tak kehilangan akal, ia pun kemudian memutar mobil Formula E itu 360 derajat dengan kecepatan tinggi. Akibatnya asap putih terlihat membumbung ke udara. Tapi asap putih itu bukan berasal dari asap knalpot, melainkan asap akibat ban mobil yang bergesakan dengan permukaaan jalan. Mereka yang hadir nampak kagum dan bertepuk-tangan.
Pria itu adalah Nyck de Vries, 27 tahun. Ia adalah pembalap yang paling hangat disambut warga Jakarta. Soalnya pembalap ini memiliki darah Indonesia dari kakek.

(Nick de Vries/Bola.net)
" Benar saya keturunan Indonesia dari kakek saya. Dia (kakek) dulu tinggal di Malang dan memutuskan pindah ke Belanda untuk menghindari perang," katanya saat jumpa pers di acara itu seperti dikutip Merdeka.
Selama di Jakarta, dia mengaku sempat mencoba sejumlah kuliner seperti pisang goreng hingga dirinya mengaku jatuh cinta dan menjadikan lemper, cemilan nasi ketan berisi suwiran ayam yang dibungkus daun, sebagai favorit.
" Makanan favorit saya lemper. Saya juga sudah mencoba pisang goreng dan rasanya sangat enak," tuturnya. Ia juga menyukai sate ayam dan nasi goreng.
Nyck juga merasa takjub dengan sambutan masyarakat Jakarta terhadap dirinya. Masyarakat Indonesia memang berharap Nyck dapat menjuarai balapan yang akan digelar dua hari lagi di Ancol.
" Sejujurnya saya agak terbebani dengan harapan masyarakat di Indonesia. Tapi saya akan berusaha maksimal membuat kalian semua bangga. Saya berharap bisa menghabiskan waktu lebih lama di Indonesia di masa depan," ungkapnya.
***
Nyck de Vries lahir di Uitwellingerga, Belanda, pada 6 Februari 1995.
Ia adalah putera dari Hendrik Jan de Vries dan Naomi Hesseling de Vries. Ia memiliki seorang adik perempuan bernama Seychelle de Vries.
Dia memulai olahraga ini karena ayahnya adalah pemilik dealer mobil dan mengajarinya cara mengemudi dan cara kerja mesin.
Dalam wawancaranya dengan Atelier Munro, Nick mengaku mulai ikut balap kart di Sneek, Friesland, Belanda ketika dia berusia 5 tahun.
Ia bersekolah di sekolah biasa di Sneek, di utara negara Belanda. Sistem pendidikan di sana wajib hadir, tetapi dia juga banyak bepergian karena bergantung pada trek balap dan acara yang berlangsung di seluruh Eropa.
Jadi, itu menjadi pilihan dilematis Nyck kecil antara tinggal di rumah dan bersekolah atau fokus pada balap. Ayahnya kemudian memutuskan untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk mendukung karir balapan Nyck: pindah ke Italia.
“ Sejak usia 13 tahun itu menjadi serius, karena ayah, saudara perempuan, dan saya sendiri pindah ke Italia dan saya mulai berpartisipasi dalam semua kompetisi balap kart besar di Eropa. Saat itulah saya mulai bersaing dengan yang terbaik di dunia,” ujarnya saat diwawancara di rumahnya saat ini di Monako.
Ia mengaku olahraga yang dia geluti sejak kecil itu sangat menyenangkan di awal. Ia menemukan arti apa itu balap dan dia menyukainya. Menurutnya, ini adalah proses organik. Dan, seiring bertambahnya usia, hobi itu mulai menjadi sesuatu yang semakin serius.
“ Olahraga balap kart menurut saya kurang dihargai oleh masyarakat umum. Ini adalah olahraga yang indah dan penting, tetapi kebanyakan orang hanya melihatnya sebagai hobi. Di mata saya ini sebenarnya lebih kecil, tapi sama menariknya, merupakan variasi dari Formula 1,” tuturnya.
Pindah ke Italia merupakan sebuah langkah penting. Karena itu menempatkan Nick tepat di tempat semua itu terjadi, dan bisa berlatih olahraga itu dengan cara terbaik. Ia juga melihat ini menjadi sebuah kekuatan motivasi: karena ayahnya, saudara perempuannya, dan dia sendiri terlibat dalam hal ini bersama-sama.
Yang dia ingat adalah dia selalu berpindah-pindah tempat. Dari satu sirkuit ke sirkuit lain. Hidup hampir seperti sirkus. Ia bergaul dengan sekelompok besar orang, dengan gaya hidup yang sama, menjalani kehidupan yang hampir nomaden. Selama tahun-tahun itu, keluarganya yang terdiri dari tiga orang ini sepenuhnya berputar di sekitar balap kart.
“ Periode ini, dari usia 13 tahun hingga 16 tahun, merupakan pengalaman yang tak terlupakan dan berhasil membawa saya ke kompetisi level tinggi, saat saya menjadi juara Eropa dan juara dunia dalam balap kart,” paparnya.
Setelah tahun kedua balap kart internasional, dia menandatangani perjanjian dengan McLaren.
Karir de Vries menjadi pembalap memang dimulai dengan menjadi juara karting WSK World Series KF3 pada 2008. Pada 2010 dan 2011 De Vries menjadi Juara Dunia Karting.
Berlanjut pada 2015 di Formula Renault 3.5 Series, ia berhasil meraih lima kali podium dan menutup musim dengan menempati peringkat tiga.
Pada tahun 2017, de Vries pindah ke kejuaraan FIA Formula 2. Ia sempat membela dua tim pada musim 2017 yakni Rapax dan Racing Engineering dan menempati peringkat ketujuh di klasemen akhir.
Setahun kemudian De Vries pindah ke tim Prema Racing di mana ia berpartner dengan pembalap Indonesia, Sean Gelael. Di akhir musim de Vries finis di posisi keempat.

(Nick saat mengendarai mobil antiknya/Alteire Munro_
Pada 2019, de Vries menjadi pembalap untuk tim ART Grand Prix. Ia pun akhirnya menjadi juara dunia FIA Formula 2.
Situasi berubah pada tahun 2020 ketika dia diundang ke Tim Formula E Mercedes-EQ, dan dipasangkan dengan pembalap Stoffel Vandoorne. Dia bergabung menjadi pembalap Formula E dari Mercedez-EQ pada musim 2020-2021.
Untuk musim 2020–21, Nyck berhasil ada di urutan terdepan untuk balapan pertama dari pembukaan musim Diriyah ePrixr. Ia kemudian memimpin setiap lap dalam balapan sehingga menuju kemenangan pertamanya dalam seri ini.
De Vries meraih kemenangan keduanya musim itu di Valencia, di mana ia adalah satu-satunya pembalap yang tidak kehabisan energi sebelum akhir balapan.
Setelah dua putaran ketika dia hanya mengumpulkan total dua poin, Nyck berjuang untuk kemenangan di kedua balapan di London ePrix dan selesai di tempat kedua di kedua balapan, sehingga memimpin kejuaraan sebelum putaran final.
Pada balapan pertama di Berlin dia tidak mencetak poin apa pun tetapi berhasil mempertahankan keunggulannya di klasemen atas pembalap.
Setelah kualifikasi 13 untuk balapan terakhir musim ini, Nyck diberi keuntungan awal ketika saingan terberatnya Mitch Evans dan Edoardo Mortara bertabrakan di awal balapan tak lama setelah start. Nyck menyelesaikan balapan di tempat kedelapan, sehingga mengamankan posisinya di peringkat teratas di kejuaraan dunia pertamanya di Formula E.
Pembalap Belanda itu mengakhiri musim dengan total dua kemenangan, empat podium dan 99 poin, unggul tujuh poin dari sang juara kedua Mortara.
Ia pun resmi menjadi juara dunia Formula E tahun 2020/2021.
***
Pada musim 2022, Nyck de Vries juga dibekap rumor spekulasi bahwa dia akan pindah ke ajang balapan Formula Satu atau F1. Hal itu terjadi ketika dia menggantikan posisi Alex Albon untuk tim Williams Racing selama latihan pertama untuk Grand Prix F1 Spanyol.
Penampilan itu menurut Eurosport menambah spekulasi bahwa ini bisa menjadi musim terakhir Nyck di Formula E di tengah pembicaraan tentang kepindahannya ke klub Formula Satu, Williams Racing.

(Nick saat mengendarai mobil F1 Williams Racing/ The SportRush)
De Vries mengaku saat ini tidak memikirkan hal lain selain balapan Formula E. " Saya sangat termotivasi dan berkomitmen untuk mencapai apa yang kami coba lakukan. Saya sangat peduli dengan olahraga dan saya memiliki banyak hasrat untuk apa yang kami lakukan. Jadi terlepas dari masa depan saya, saya jelas ingin menang dan mempertahankan gelar juara,” katanya di sela pagelaran Formula E Jakarta.
“ Jelas ada banyak rumor, dan orang-orang suka membicarakannya, tapi saya hidup di masa sekarang. Dan kami berada di Jakarta sekarang, dan kami masih memiliki delapan balapan untuk memastikan gelar itu datang kepada kami,” tuturnya.
Pembalap Belanda ini saat ini duduk di tempat keenam di Kejuaraan Formula E, tertinggal 46 poin di belakang pemimpin peringkat pertama Formula E yang juga rekan setimnya dari Mercedes-EQ, Stoffel Vandoorne.
De Vries sebenarnya telah memenangkan lebih banyak balapan daripada rekan setimnya itu di Mercedes-EQ musim ini. Ia memenangkan dua balapan sementara Vandoorne baru satu kali. Tetapi konsistensi tanpa henti Vandoorne yang membuatnya bisa memuncaki klasemen dan menjadi favorit untuk gelar juara dunia tahun ini.
“ Sudah sedikit naik dan turun,” aku Nyck merenungkan musimnya hingga saat ini.
“ Kami jelas memiliki awal yang kompetitif untuk musim ini, kemudian kami memiliki beberapa balapan yang sulit ketika kami tidak benar-benar mengeksekusi poin yang ingin kami cetak. Tapi di Formula E, segalanya bisa berbalik dengan sangat cepat,” ujarnya.
Alasan naik turun itu juga barangkali mengapa Nick de Vries tidak tampil maksimal di Formula E Jakarta.
Saat balapan Formula E digelar di Jakarta E-Prix 2022 tepat pukul 15.04 WIB, Sabtu 4 Juni 2022, Nick de Vries harus memulai balap dari urutan ke-10.
Saat balap dimulai hingga setengah jam balapan, Nick masih bisa mengamankan posisi balapnya di peringkat ke-10.
Namun, menjelang akhir balapan, ban belakang sebelah kirinya pecah ketika dia mencoba menyalip pembalap Porsche, Andre Lotterer. Alhasil karena ban kiri belakangnya pecah, Nick harus menepi dan gagal menyelesaikan balapan.
Pria keturunan Malang ini terpaksa gigit jari. Ia pun harus keluar dari balapan dan gagal menyelesaikan finis. Usai balapan Formula E di Jakarta, dia masih berada di peringkat ke enam klasemen dengan nilai 65. Jaraknya kini terpisah 56 poin dari peringkat pertama Stoffel Vandoorne rekannya di Mercedes-EQ yang memiliki nilai 121.

(Nick de Vries/Formula 1)
Seperti yang Nick ungkapkan pada Eurosport: “ Saya seperempat Indonesia, jadi saya memiliki darah Asia. Saya selalu sangat menikmati Asia karena orang-orangnya sangat baik, sangat tulus dan bersemangat tentang motorsport, jadi saya sangat senang bisa kembali.”
“ Ini jelas merupakan tantangan yang menarik dan baru bagi semua orang. Ini trek baru, tidak ada yang tahu.” ujarnya sebelum balapan..
Tapi dia gagal bersinar di Formula E Jakarta. Gagal finis jelas merupakan sebuah hasil yang buruk bagi penggemar lemper dan keturunan Malang ini. Ia gagal bersinar di ajang tanah air tempat kelahiran kakeknya. Sungguh disayangkan. (eha)