Heboh Pulau Lantigiang di Sulsel Dibeli Rp900 Juta oleh Seorang Wanita

Reporter : Mutia Nugraheni
Minggu, 31 Januari 2021 13:48
Heboh Pulau Lantigiang di Sulsel Dibeli Rp900 Juta oleh Seorang Wanita
Tanah di pulau tersebut tidak boleh ada kepemilikan dari masyarakat namun masyarakat boleh terlibat dalam pengelolaan wisata.

Dream - Kasus penjualan Pulau Lantigiang di Desa Jinato, Sulawesi Selatan sedang ramai diperbincangkan. Pasalnya, pulau ini berada Zona Perlindungan Bahari. Tanah di pulau tersebut tidak boleh ada kepemilikan dari masyarakat namun masyarakat boleh terlibat dalam pengelolaan wisata.

Pulau Lantigiang diketahui dijual kepada seorang wanita berinisial AS seharga Rp900 juta. Kapolres Kepulauan Selayar, AKBP Temmangnganro Machmud mengatakan, pihaknya telah melakukan serangkaian kegiatan penyelidikan sejak Minggu 24 Januari 2021 lalu. Polisi saat ini memeriksa 7 orang saksi.

Para saksi tersebut adalah perangkat dusun, kerabat pihak yang diduga menjual pulau dan pihak pengelola Taman Nasional. Hasil interogasi sementara, SA diduga penjual dan AS selaku pembeli Pulau Lantigiang. Pemeriksaan tersebut atas laporan pihak Balai Taman Nasional Taka Bonerate.

" Lelaki SA menjual Pulau Lantigian ke perempuan AS seharga Rp900 juta, dipanjar dulu senilai Rp 10 juta," kata AKBP Temmangnganro, Sabtu 30 Januari 2021, dikutip dari Merdeka.com.

 

1 dari 7 halaman

Panjar dari AS diterima saksi KS yang merupakan keponakan SA selaku penjual pulau. Kesepakatan dilengkapi Surat Keterangan Jual Beli Tanah Pulau Lantigiang yang dibuat oleh RT yaitu Sekretaris Desa Jinato tahun 2015.

Pulau Lantigiang berada di lokasi zona pemanfaatan. Pihak Balai Taman Nasional Taka Bonerate telah merancang masterplan pengelolaan wisata di Pulau Lantigiang dan bukan untuk diperjualbelikan.

" Rencana selanjutnya, kita akan lakukan pengambilan keterangan sejumlah saksi lagi yakni lelaki AD, Kepala Desa Jinato tahun 2015 saat transaksi itu terjadi dan RT, sekretaris desanya serta lelaki SA yang diduga sebagai penjual pulau," ujar AKBP Temmangnganro.

Laporan Salviah Ika Padmasari, Anggun P. Situmorang/ Sumber: Merdeka.com

2 dari 7 halaman

Fakta di Balik Satu-satunya Rumah di Pulau Tengah Lautan

Dream – Rumah ini bisa jadi sebagai hunian paling kesepian di dunia. Terletak di pulau yang dikelilingi lautan. Tanpa tetangga di kanan kiri, yang ada hanya hamparan rumput berbatas tebing curam.

Dikutip dari Oddity Central, Kamis 17 Desember 2020, rumah ini berada di Pulau Elliðaey (Ellirey, Kepulauan Vestmannaeyjar, Islandia. Pulau itu tak berpenguhi sejak tahun 1930-an, namun bangunan itu tetap terawat baik.

Selama bertahun-tahun, muncul rumor dan teori tentang rumah itu. Ada yang bilang rumah itu dibangun seorang pengusaha sebagai tempat penampungan saat terjadi wabah zombie. Ada juga yang menyebut rumah itu milik seorang yang agamais.

Malah, santer disebutkan bahwa rumah di Pulau Ellirey itu milik seorang penyanyi asal Islandia, Bjork. Dikabarkan bahwa artis itu memiliki tempat persinggahan di sana atau sedang bernegosiasi dengan pihak berwenang untuk membeli pulau.

3 dari 7 halaman

Ternyata, Ini Faktanya

Tak satu pun teori di atas benar. Fakta sebenarnya, rumah dengan halaman satu pulau itu merupakan pondok berburu. Pondok ini dibangun pada tahun 1950-an oleh Asosiasi Berburu Ellirey. Anggotanya datang ke pulau itu untuk berburu burung puffin.

Tak jelas bagaimana ceritanya pulau ini punya asosiasi berburu, mengingat tak ada orang yang tinggal di sana.

Yang menarik, ada keluarga yang benar-benar tinggal di Ellirey hingga tahun 1930-an. Kemudian, mereka memutuskan pindah ke daerah yang lebih padat di Islanda untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Meskipun tergolong sebagai rumah paling kesepian di dunia, pondok ini bukanlah yang ternyaman di dunia. Tak ada listrik, air ledeng, atau pipa di dalam ruangan. Kini, rumah tersebut termasuk cagar alam budaya oleh pemerintah setempat. 

4 dari 7 halaman

Menguak Potensi Tsunami 20 Meter di Selatan Pulau Jawa

Dream - Tim Riset Institut Teknologi Bandung (ITB) menyampaikan peringatan akan kemungkinan terjadi gempa yang memicu tsunami besar di selatan pulau Jawa.

Endra Gunawan, salah satu anggota peneliti tim menjelaskan, selatan Jawa memang diketahui sebagai tempat sumber gempa.

" Nah itu kita bisa deteksi, kita bisa olah, analisis. Dari analisis itu menunjukkan, ,ada potensi saat pengumpulan energi yang terjadi di selatan Jawa," kata Endra kepada Liputan6.com, Kamis 24 September 2020.

Menurut Endra, sebaran potensi gempa besar ada di selatan Jawa Barat, selatan Yogyakarta, selatan Jawa Tengah dan Jawa Timur.

" Selatan Jawa Barat itu kan belum gempa juga, paling-paling Pangandaran itu masih kecil. Tapi tidak sebesar di Aceh kan?" katanya.

5 dari 7 halaman

Dosen ITB dengan kelompok keahlian Geofisika Global ini menjelaskan, setiap daerah dengan potensi gempa, layaknya selatan Jawa, akan terus mengumpulkan energi mencapai ratusan tahun bahkan ribuan tahun.

Hingga pada waktunya akan dilepaskan. Pelepasan energi itulah yang kata Endra terwujud sebagai gempa.

" Jadi selatan Jawa Barat, selatan Jawa Tengah, selatan Jawa Timur itu semua mengumpulkan energi. Nah kalau semuanya ini, kalau ya kita asumsikan semuanya terjadi gempa pada saat yang sama (kekuatan) gempanya jadi (magnitudo) 9,1," beber dia.

Angka magnitudo 9,1, menurut Endra, itu angka kemungkinan kekuatan gempa paling kecil jika mengacu pada siklus gempa di sana yang dikalkulasi dalam rentang 400 tahunan.

Jika siklus gempanya ternyata mencapai 500 hingga 600 tahun, maka kata Endra kekuatannya bisa lebih besar lagi.

" Kenapa kita gunakan 400 (tahun)? Karena dalam publikasi berbeda dari LIPI itu ada endapan tsunami, Pak Eko dan Tim itu menemukan endapan tsunami sekitar 500 tahunan. Nah tentu kalau 400 (tahun) 9,1, kalau 500 bisa jadi naik lagi. Jadi minimal 9,1 kalau pecah semua," jelas dia.

6 dari 7 halaman

Kata Endra, kesimpulan itu didapat dari data Global Positioning System (GPS) dengan tingkat akurasi tinggi. Perbandingan dengan GPS di gawai yang biasa kita pakai itu memiliki akurasi belasan meter.

Tapi GPS yang digunakan pada penelitian tersebut, kata Endra hingga akurasi satuan milimeter. " Dari data GPS bisa menangkap prosesi tadi, siklus (gempa) itu tadi," ungkap dia.

Ilustrasi Tsunami Aceh

Endra menerangkan, angka itu didapat dengan juga mempertimbangkan sesar gempa di sana akan pecah dalam waktu bersamaan. Kemungkinan ini, menurut dia bisa saja terjadi berkaca dari gempa 2004 di Aceh yang pecahannya begitu panjang hingga mencapai Andaman.

" Tapi apakah mungkin pecahnya sebagian? Mungkin saja, contoh Nias itu kan kecil tuh hanya di Pulau Nias tidak ke Padang. Padang belum," jelas dia.

Temuan ini, kata Endra juga dihasilkan dari kombinasi berbagai data, baik data GPS, tempat terjadinya gempa, yakni dari barat Pulau Sumatera yang membentang melewati selatan Jawa, kemudian juga data seismik yang menyebutkan tak ada gempa-gempa besar yang tercatat.

" Kita deteksi dari data GPS analisisnya itu sekarang dalam pengumpulan energi itu," jelasnya.

 

7 dari 7 halaman

Gelombang Tsunami Capai 20 Meter

Dengan asumsi gempa sebesar itu, menurut temuan tim peneliti, kata Endra akan menghasilkan gelombang tsunami setinggi lebih dari 20 meter.

" Paling tinggi di Jawa bagian barat itu sekitar 20-an meter," tutur dia. Sementara ke selatan Jawa Tengah dan Jawa Timur hanya mencapai sekitar 10-an meter.

Endra menjelaskan, perbedaan ini disebabkan perbedaan zona kunciannya gempa. Tak semua zona patahan di selatan Jawa, lanjut dia memiliki kekuatan yang sama.

" Jadi masing-masing punya kekuatannya masing-masing. Nah Jawa Barat ternyata kunciannya itu yang paling besar dibandingkan di bagian tengah dan timur di Jawa Timur," ungkap Endra.

 

Beri Komentar