Keluarga (Foto: Shutterstock)
Dream - Emosi dan kemarahan yang tak terkendali bisa memunculkan hal-hal buruk. Saat level emosi begitu tinggi hubungan keluarga bisa sampai terputus. Mungkin Sahabat Dream pernah mendengar insiden seorang ibu yang tak mau lagi mengakui anak kandungnyanya dan dianggap bukan keluarga lagi.
Ada juga yang sebaliknya, seorang anak yang tak mau berhubungan lagi dengan orangtua dan memutuskan komunikasi serta tak menganggapnya lagi. Seperti dikutip dari NU Online, sikap pemutusan hubungan darah semacam itu umumnya dipicu oleh gejolak emosional yang tinggi, lepas kendali, dan egosentrisme.
Kasus yang sama juga kadang terjadi pada hubungan antarsaudara kandung, cucu-kakek, paman-keponakan, dan seterusnya. Islam melarang keras sikap semacam itu. Alquran, sunnah, dan para ulama sepakat akan pentingnya tali kekeluargaan dan menilai pengingkaran terhadapnya sebagai perbuatan dosa.
Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, bahkan secara khusus mengarang kitab berjudul at-Tibyan fî Nahyi an Muqatha'atil Arham wal Aqarib wal Ikhwan (Penjelasan tentang Larangan Memutus Hubungan Mahram, Kerabat, dan Persaudaraan) yang mengutip banyak ayat dan hadist. Salah satunya adalah Annisa ayat 1:

Artinya: " Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu"
Bahkan dalam Surah Muhammad, Allah SWT memberi peringatan keras pada mereka yang memutus hubungan kekeluargaan. Merupakan orang yang dilaknat seperti ditulikan dan dibutakan.

Artinya: “ Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka" .
Penjelasan selengkapnya baca di sini.