Keluarga Widjaya, Masih Terkaya Kedua di Indonesia Sepeninggal Eka Tjipta Widjaya

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 21 Maret 2022 20:58
Keluarga Widjaya, Masih Terkaya Kedua di Indonesia Sepeninggal Eka Tjipta Widjaya
Grup Sinar Mas kini dikelola anak dan cucunya.

Dream -  Jam baru menunjuk pukul 10 pagi. Tapi tenda putih itu sudah berdiri tegak. Untaian bunga-bunga di tempat orang lalu-lalang didominasi angrek bulan berwarna putih. Mungkin hal itu akan membuat orang menduga itu adalah acara pernikahan.

Tapi tidak. Itu bukan prosesi pernikahan. Tapi prosesi pemakaman Eka Tijpta Widjaya, pendiri Grup Sinar Mas, salah satu orang terkaya di Indonesia. Tenda putih itu berdiri di pemakaman keluarga Widjadja di Desa Marga Mulya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat,  Sabtu 2 Januari 2019 lalu.

Anak-anak Eka yang hadir, semua mengenakan pakaian putih-putih. Dari baju sampai celana.  Semua bernuansa putih. Saat memasuki area pemakaman, mereka berjalan beriringan seraya membawa foto Eka berukuran besar.

Saat acara dimulai, ratusan pelayat melantunkan puji-pujian dengan khidmat. Kegiatan itu dipimpin pendeta Johari Yohanis dari GKY Mangga Besar.

Kemudian, acara dilanjutkan oleh ungkapan kenangan singkat dari para cucu Eka Tjipta Widjaja, yang diwakili oleh Megain Widjaja, Deborah Widjaja, dan Fuganto Widjaja.

Terakhir, anak sulung Eka Tjipta, Teguh Widjaya, menyampaikan pesan-pesan dari ayahnya untuk keluarga besarnya. " Ajaran papa harus betul-betul kita ikuti. Nasihat Papa kepada kita adalah hiduplah dengan hemat dan beramal besar," kata Teguh.

Teguh lalu menyatakan, sebelum Eka Tjipta mangkat, ia berpesan supaya anak cucunya tidak hidup foya-foya dan menghamburkan uang. Menurut Teguh, Eka Tjipta tak ingin melihat keluarganya bertengkar karena berebut harta.

Namun, belum lagi makam Eka mengering, tak sampai setahun pemakaman Eka dan peringatan Teguh soal pesan ayahnya ke keluarga besarnya di pemakaman itu, salah satu anak Eka, Freddy Widjaya, mengajukan gugatan hak waris kepada lima saudara tirinya atas harta warisan dari ayah mereka mendiang Eka Tjipta.

Gugatan itu dilayangkan Freddy dengan nomor perkara 637/Pdt.G/2020/Pengadilan Negeri Jakarta Selatan terhadap akta wasiat di tahun 2008. Secara lengkap, Freddy menggugat lima saudara tirinya mulai dari Teguh Widjaja, Indra Widjaja, Muhtar Widjaja, Djafar Widjaja, dan Franky Oesman Widjaja.

Mantan sekretaris ayahnya, Elly Romsiah juga masuk dalam daftar salah satu tergugat. Indra Widjaja dan Elly Romsiah memang merupakan orang yang ditunjuk Eka sebagai pelaksana wasiat yang dibuat pada 25 April 2008.

Dalam gugatannya, Freddy meminta seluruh harta Eka Tjipta dihitung kembali termasuk dalam pembagian jatah warisannya. Dia meminta wasiat yang dibuat tahun 2008 dibatalkan, karena pembagiannya tidak adil.

Masih dalam gugatan yang didaftarkan, Freddy juga memasukkan jumlah harta Eka Tjipta yang dia ketahui. Dia memasukkan jumlah aset beberapa perusahaan Sinar Mas, totalnya ada 16 perusahaan dengan aset Rp 737 triliun!

Tapi gugatan itu belakangan ditolak. Meski sudah kalah di pengadilan, Freddy masih menuntut keadilan. Khususnya dalam rangka mendapatkan kembali status anak sah Eka Tjipta untuk dirinya.

Kasus gugatan itu masih berbuntut panjang. Freddy bahkan melaporkan lima saudara tirinya itu ke kepolisian.

Eka Tjipta Widjaya memang mempunyai 15 anak dari pernikahan dengan mendiang istri pertamanya, yaitu Trinidewi Lasuki, dan istri kedua Melfie Pirieh Widjaja.

Hingga akhir hayatnya, Eka Tjipta Widjaja diketahui memiliki empat orang istri, dan 28 orang anak berdasarkan akta wasiat nomor 60 yang di buat oleh Notaris Winanto Wiryomartani, S.H., M.Hum, di Jakarta Barat pada tanggal 25 April 2008.

Namun, terlepas dari gugat-menggugat antar keluarga itu, majalah bisnis Forbes melihat keluarga Widjaya, sebagai penerus bisnis Eka Tjipta Widjaya dan Grup Sinar Mas, masih menjadi terkaya kedua di Indonesia sepeninggal Eka. Harta keluarga Widjaya menurut Forbes diperkirakan sebesar U$ 9,7 miliar atau Rp 138 triliun!

Konflik keluarga yang sudah dikhawatirkan Eka Tjipta Widjaya saat hidup terbukti tak menggerus harta keluarga Widjaya dan Grup Sinar Mas.

Sayangnya tak ada satu pun anak Eka yang mau mengomentari capaian itu saat diminta komentarnya oleh majalah Forbes.

***

Eka Tjipta Widjaja lahir dengan nama Oei Ek Tjhong pada tahun 1921 di Quanzhou, Provinsi Fujian, China.

Ayah Eka Tjipta Widjaja adalah seorang China perantauan yang berdagang  di Makassar, Sulawesi Selatan. Eka Tjipta kemudian pindah dari China ke Indonesia bersama ibunya ketika berusia 9 tahun.

Terbelit masalah ekonomi, pendidikan terakhir Eka Tjipta hanyalah lulusan sekolah dasar di Makassar. Eka Tjipta kemudian bekerja membantu orangtuanya untuk melunasi utang.

Menurut Liputan6, ia mulai berjualan keliling di kota Makasar dengan sepedanya. Berjualan dari pintu satu ke pintu yang lain, ia menawarkan permen, biskuit dan barang lainnya di toko milik ayahnya.

Menginjak usia 15 tahun, ia menjadi pemasok kembang gula dan biskuit dengan sepedanya yang melewati hutan-hutan karena jalanan tidak sebagus saat ini. Hasil yang ia dapat hanya sebesar Rp 20. Pada masa itu harga beras masih 3-4 sen.

Eka Tjipta Widjaya© Liputan6

Saat semua berjalan lancar, ia mampu membeli becak agar barang muatannya semakin banyak. Sayangnya tak berapa lama Jepang datang ke Makassar sehingga usahanya hancur total dan ia menganggur .

Saat ia mencari peluang, ia berkeliling kota Makasar dan sampai di Paotere. Sebuah tempat di pinggir Makassar pangkalan kapal untuk ke Jawa. Ia melihat banyak barang-barang dan bahan pokok yang diangkut serta banyak tentara Jepang yang menjaga.

Akhirnya ia memiliki ide untuk berjualan makanan dan minuman untuk para tentara di kawasan itu.

Sejak saat itu ia mulai berjualan bahan-bahan pokok seperti terigu, arak Cina bahkan semen. Ia juga mulai berlayar ke Selayar, Sulawesi Selatan, untuk mencari bahan-bahan yang bisa dijual.

Eka Tjipta juga berjualan terigu, semen, gula, dan barang kebutuhan lainnya setelah tentara Jepang menyerah.

Ketika seorang kontraktor hendak memborong semen untuk membuat kuburan orang kaya, Eka Tjipta beralih profesi menjadi kontraktor pembuat kuburan. Eka Tjipta berhenti jadi kontraktor setelah semen dan beton harganya naik.

Berikutnya Eka Tjipta berdagang kopra. Eka berlayar mendatangi berbagai daerah sentra kopra agar mendapatkan kopra yang murah.

Eka Tjipta juga terus mencari peluang bisnis. Eka Tjipta berjualan gula, teng-teng, wijen, dan kembang gula. Ketika bisnis Eka Tjipta mulai laris, harga gula turun dan Eka Tjipta rugi besar.

Modal Eka Tjipta habis dan Eka Tjipta terlilit utang. Eka Tjipta terpaksa menjual jip, sedan, perhiasan keluarga, termasuk cincin kawin untuk melunasi utang-utangnya.

Ketika Eka Tjipta berusia 37 tahun, Eka Tjipta pindah ke Surabaya, Jawa Timur.  Di sana Eka Tjipta membeli kebun kopi dan kebun karet di Kabupaten Jember yang merupakan hasil kerjanya. Dari sinilah cikal bakal Grup Sinar Mas lahir.

Pada tahun 1968, penyulingan minyak nabati dan kopra pertama Sinar Mas, Pabrik Bitung Manado Oil Limited didirikan di Sulawesi Utara. Seiring dengan perkembangannya, Eka mengakuisisi pabrik soda kimia Tjiwi Kimia pada tahun 1972, yang kemudian menjadi pabrik kertas pertama Sinar Mas.

Tahun 1972 juga menandai dimulainya pilar bisnis developer dan real estate, yang dikenal dengan PT Duta Pertiwi Tbk.  Kemudian pada tahun 1982, PT Internas Artha Leasing didirikan dan berkembang menjadi perusahaan jasa keuangan yang terintegrasi. Tahun 1982 juga Eka Tjipta membeli Bank Internasional Indonesia (BII). Bermula dari dua cabang dengan aset senilai Rp 13 miliar. Setelah 12 tahun dikelola Eka Tjipta , BII menjadi 140 cabang, dengan aset bernilai Rp 9,2 triliun.  

Pada tahun 1986, Sinar Mas Forestry mengelola hutan tanaman industrinya yang pertama. PT Dian Swastatika Sentosa didirikan pada tahun 1996 untuk memasok listrik ke fasilitas-fasilitas produksi Sinar Mas di pedalaman. Pada tahun 2010, smartfren didirikan sebagai hasil merger dengan salah satu provider telekomunikasi, Fren.

Di bidang real estate, Eka Tjipta melebarkan sayap bisnisnya. Eka Tjipta juga membangun ITC Mangga Dua, dan Apartemen Green View yang berada di Roxy, serta Mal Ambassador di Kuningan. Tak ketinggalan adalah pemukiman mandiri Bumi Serpong Damai atau BSD di Tangerang.

Akibatnya kekayaan Eka terus melejit naik. Pada tahun 2018, sebelum kematiannya, majalah Forbes mencatat harta Eka Tjipta Widjaya mencapai U$ 8,6 miliar atau Rp 122 triliun!

***

Maka, meski Eka Tjipta Widjaja, pendiri Grup Sinar Mas, meninggal dunia pada Januari di usia 98 tahun dua tahun lalu, menurut Forbes, dia telah meninggalkan bisnis keluarga yang kokoh, yang telah bertahan dari gejolak ekonomi untuk terus berkembang.

Sinar Mas kini menjadi salah satu grup bisnis terbesar di Indonesia, di bidang agribisnis, makanan, komunikasi, teknologi, layanan keuangan, perawatan kesehatan, pertambangan, energi, properti, kertas, dan banyak lagi.

Grup Asia Pulp and Paper (APP), misalnya, memiliki operasi manufaktur di seluruh Indonesia dan China dan menjual produknya di lebih dari 120 negara di enam benua.

Eka pertama kali muncul dalam daftar miliarder Forbes pada tahun 1991, salah satu dari hanya tiga miliarder Indonesia dalam daftar pada saat itu, dan merupakan anggota terlama dari trio itu (dua lainnya adalah Liem Sioe Liong dan William Soeryadjaya).

Ekspansi Sinar Mas selama bertahun-tahun hanya terganggu oleh krisis keuangan Asia pada tahun 1998, ketika mengalami pukulan besar. Pada tahun 1999, utang kelompok mencapai $ 13,5 miliar, memaksa Widjaja untuk menyerahkan Bank Internasional Indonesia (BII) kepada pemerintah.

Gagal bayar utang unit kertas APP-nya juga merupakan salah satu krisis terbesar. Untuk memulihkan, Eka membayar utang dan berekspansi ke pertambangan dan telekomunikasi. Pada tahun 2005, grup ini masuk kembali ke dunia perbankan dengan mengakuisisi Bank Shinta dan menamainya Bank Sinarmas.

Setelah Eka wafat, kini bisnis Grup Sinar Mas dijalankan oleh anak-anaknya sendiri.

Teguh Ganda Wijaya, anak sulung Eka, mengelola Asia Pulp and Paper atau APP.

Indra Widjaja mengawasi investasi grup di bidang jasa keuangan dan pertambangan. Anak sulung Indra, Fuganto Widjaja, adalah CEO Golden Energy Mines.

Muktar Widjaja menangani bisnis properti. Dan Franky Oesman Widjaja mengendalikan bisnis pertanian dan makanan Sinar Mas di bawah Golden Agri-Resources. Dia juga mengelola bisnis telekomunikasi dan teknologi.

Beberapa anak Widjaja juga sudah membangun usaha sendiri. Anak Eka, Oei Hong Leong adalah miliarder yang berbasis di Singapura, dengan kekayaan bersih diperkirakan mencapai U$1,4 miliar atau Rp 20 triliun.

Frankle Djafar Widjaja mengelola perusahaan investasi yang terdaftar di Singapura Bund Centre Investment dan Sukmawati Widjaja mengelola perusahaan properti Singapura lainnya, Top Global.

Eka Tjipta Widjaya memang telah meninggal dunia. Tapi warisan yang kini dikelola anak-anaknya menunjukkan Grup Sinar Mas belum habis meski dilanda konflik keluarga. Buktinya keluarga Widjaya masih menempati keluarga terkaya kedua di Indonesia. Bukan main. (eha)

Beri Komentar