Ardito Widjono, Dokter Muda Indonesia Garda Terdepan Lawan Covid-19 di Inggris

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Kamis, 11 Juni 2020 10:01
Ardito Widjono, Dokter Muda Indonesia Garda Terdepan Lawan Covid-19 di Inggris
Ketika Ardito pertama bekerja, kasus covid-19 di London baru ada sekitar 17 ribu dengan jumlah meninggal dunia sebanyak 1.000 orang.

Dream - Ardito Widjono, dokter muda asal Indonesia, turut menjadi pasukan garis depan menanggulangi pandemi corona di Inggris. Ia ikut menangani pasien yang terinfeksi virus Covid-19 di salah satu rumah di London.

Putra pertama pasangan Argo Onny Widjono dan Endang Nurdin itu sudah sejak Maret lalu bertugas di Rumah Sakit Barnet di London Utara.

Ketika Ardito pertama bekerja, kasus covid-19 di London baru ada sekitar 17 ribu dengan jumlah meninggal dunia sebanyak 1.000 orang.

" Tak ada yang bisa memprediksi kapan corona berakhir," kata Ardito, dikutip dari Merdeka.com, Rabu 10 Juni 2020.

1 dari 5 halaman

Menyelesaikan Pendidikan Kedokteran di London

Pria yang akrab disapa Dito ini telah menyelesaikan pendidikan di Program Studi Kedokteran King's College London. Dokter muda ini awalnya bertugas di bagian ortopedi (bedah tulang) dan sebagai dokter untuk anak-anak serta orang dewasa.

" Menjelang akhir Maret 2020, setelah menghabiskan empat bulan bekerja di bedah ortopedi, saya menerima email dari direktur medis rumah sakit yang menjelaskan bahwa saya akan dipindahtugaskan ke bagian gawat darurat," katanya.

 

2 dari 5 halaman

Dokter Junior Ambil Peran

Saat itu, semua dokter muda di Rumah Sakit Barnet dengan sejumlah spesialisasi medis serta bedah ditarik untuk menangani pasien Covid-19. Kendati begitu, Dito mengaku senang sebab bisa merasakan berada di tempat yang paling dibutuhkan.

" Dan saya bangga akan dapat menggunakan keterampilan saya untuk membantu para penderita penyakit yang belum ada obatnya," ujarnya.

Ardito menceritakan, di hari pertamanya bertugas, dia ingat dengan benar bila saat itu merupakan puncak kasus Covid-19 di Inggris. Lebih lanjut Doti menjelaskan, saat itu dirinya bahkan merasa berada di tegah memasuki tugas militer sebelum pergi ke medan pertempuran.

" Banyak dari kami belum pernah melihat pasien dengan gejala Covid-19 sebelumnya dan beberapa dari kami tidak bekerja di bangsal medis selama bertahun-tahun," ungkapnya.

 

3 dari 5 halaman

Rencananya Tak Berjalan Lancar

Pria berusia 26 tahun ini mengatakan, rencana kerja yang disusunnya tidak semua bisa berjalan lancar. Setidaknya sepertiga tenaga dokter harus mengisolasi diri akibat diduga terinfeksi Covid-19.

Imbasnya, setiap pagi akan ada perombakan besar pada komposisi dokter yang bertugas. Semua ini dilakukan untuk mengisi kekosongan unit kerja serta memastikan setiap lingkungan satuan kerja memiliki staf yang memadai.

Selain itu, saat berada di lingkungan pasien, Dito dan rekan timnya sempat merasakan ketegangan. Terutama saat mengetahui masih banyak rumah sakit yang kekurangan Alat Pelindung Diri (APD) di Inggris.

Akan tetapi, kekurangan tersebut bisa cepat diatasi oleh otoritas kesehatan Inggris. Pihak mereka mengimpor APD dalam jumlah besar dari China.

 

4 dari 5 halaman

Bingung dan Frustasi dengan Hoaks yang Bertebaran

Ardito tak menampik dirinya juga merasa bingung dan frustasi. Terlebih saat informasi-informasi baru mengenai penggunaan perangkat medis baru. Tak hanya itu, Dito dan rekan timnya juga merasa frustasi akan kabar seputar kekurangan APD yang berkembang.

" Terlepas dari situasi keterbatasan APD, kami semua bertekad untuk memberikan pasien kami perawatan terbaik," ujar Dito yang meraih sarjana spesialisasi imaging sciences di tahun 2015 ini.

Dokter muda yang sempat jadi pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia United Kingdom dan pengurus Young Indonesian Professionals Association (YIPA) mengaku sudah mulai terbiasa menangani pasien Covid-19 setelah beberapa hari bertugas.

" Kami merasa lega mendapati bahwa sebagian besar pasien kami membaik dan akhirnya dipulangkan. Tetapi bagi mereka yang memburuk, itu adalah pilihan yang sulit antara perawatan intensif atau tinggal di bangsal untuk perawatan paliatif, memastikan mereka bisa senyaman mungkin meskipun menjelang akhir hidup mereka," katanya.

 

5 dari 5 halaman

Keresahan Sebagai Seorang Dokter

Dokter muda di RS Barnet ini mengaku jumlah kematian Covid-19 tidak seperti yang pernah disaksikan sebelumnya dalam kariernya. Apalagi, dirinya terkadang harus menyampaikan berita bila pasien meninggal dunia hampir setiap harinya. Baginya, ini merupakan bebas yang memilukan.

" Kami menelepon kerabat pasien setiap hari untuk menginformasikan tentang perkembangan dan mencoba memberikan kepastian," katanya.

Beri Komentar