Fenomena Matahari `Kembar 4` Gegerkan Riau

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Jumat, 12 Oktober 2018 10:03
Fenomena Matahari `Kembar 4` Gegerkan Riau
Dapat dilihat di mana saja dan pada musim apapun.

Dream - Warganet tengah dihebohkan dengan sebuah unggahan munculnya `empat matahari`. Berdasar keterangan, foto itu diambil di langit Kepulauan Riau (Kepri).

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Hary Tirto Djatmiko mengatakan, fenomena itu bernama sun dog.

" Fenomena matahari kembar seperti kembar 2 atau 4 merupakan fenomena alamiah yang biasa terjadi," kata Hary dalam keterangan tertulis kepada Dream, Kamis 11 Oktober 2018.

Ia menjelaskan, fenomena sun dog yang juga disebut mock sun (matahari semu) atau phantom sun (matahari bayangan).

Fenomena ini merupakan fenomena optis yang menampakkan titik-titik terang di langit. Fenomena ini sering muncul pada cincin halo di sekeliling matahari.

" Sun dog tampak sebagai pancaran cahaya berwarna di kiri-kanan Matahari, berjarak 22 derajat dan pada jarak yang sama di atas cakrawala, dan pada halo es," ucap dia.

Menurut Hary, sun dog dapat dilihat di mana saja dan pada musim apapun. Meski demikian, cahayanya tidak selalu tampak bersinar dan cemerlang. Sinar itu akan terlihat cerah atau jelas ketika matahari tampak rendah.

" Umumnya, sun dog tercipta dari kristal es piringan berbentuk segi enam pada awan sirus yang tinggi dan dingin, atau selama musim dingin yang amat dingin, oleh kristal es yang disebut debu intan yang tertiup di udara pada tingkat rendah," ujar dia.

Setelah itu, kristal-kristal itu berfungsi sebagai prisma yang bisa membelokkan cahaya yang melewatinya dengan defleksi minimum 22 derajat.

Kemudian, pada fase itu, jika kristal-kristal terorientasi secara acak, maka lingkaran sekeliling matahari akan terlihat yaitu 'halo'. 

" Apabila kristal-kristal terbenam di udara dan tertata secara vertikal, maka cahaya matahari terbiaskan secara mendatar. Dalam kasus ini, sun dog dapat terlihat," kata Hary.

 

1 dari 3 halaman

Ini yang Akan Terjadi Saat Matahari Padam dan Mati

Dream - Kabar sedikit melegakan datang dari para ilmuwan Inggris di Universitas Manchester. Para ilmuwan sepakat soal teori bahwa Matahari akan padam dalam 5 miliar tahun yang akan datang.

Selama ini mereka juga masih bingung dengan apa yang akan terjadi selanjutnya setelah satu-satunya bintang di galaksi Bima Sakti itu mati.

Namun temuan terbaru mereka berhasil menguak sedikit misteri yang selama ini menyelimuti kelangsungan hidup Matahari.

Profesor Albert Zijlstra dari School of Physics & Astronomy, bersama sebuah tim astronom internasional, memperkirakan Matahari akan berubah menjadi cincin raksasa yang melayang di luar angkasa ketika mati.

Cincin raksasa yang terdiri dari gas dan debu bercahaya itu kemudian dikenal sebagai nebula planeter.

Kejadian tersebut seperti mengulang peristiwa terbentuknya nebula planeter lain sebelumnya.

Nebula planeter menandai 90 persen kematian semua bintang-bintang aktif di alam semesta. Aktivitas dan jejak bintang pada akhirnya meredup dan berubah menjadi bintang kerdil putih.

Namun, selama bertahun-tahun, para ilmuwan tidak yakin apakah Matahari mengikuti jejak yang sama dengan bintang-bintang mati tersebut.

Masalahnya, Matahari dianggap memiliki massa yang terlalu rendah untuk membentuk nebula planeter yang bisa dilihat dengan peralatan yang ada.

Menurut Profesor Zijlstra, ketika sebuah bintang mati, ia mengeluarkan massa gas dan debu - yang dikenal sebagai envelope - ke ruang angkasa.

Envelope itu bisa mencapai setengah massa bintang tersebut. Proses ini akan memperlihatkan inti bintang. Pada titik ini bintang tersebut telah kehabisan bahan bakar, yang menyebabkannya padam sebelum akhirnya mati.

" Sebelum benar-benar mati, inti panas bintang membuat envelope bersinar sangat terang selama sekitar 10.000 tahun - sebuah periode yang singkat dalam ilmu astronomi.

" Proses ini yang membuat nebula planeter terlihat. Beberapa sangat terang sehingga mereka dapat dilihat dari jarak yang sangat jauh kira-kira puluhan jutaan tahun cahaya. Meskipun bintang itu sendiri terlalu redup untuk dilihat," jelas Profesor Zijlstra.

Untuk mengetahui apa yang terjadi dengan Matahari setelah mati itu, Profesor Zijlstra dan timnya mengembangkan model data bintang baru yang bisa memprediksi siklus hidup bintang-bintang.

Model ini digunakan untuk memprediksi kecerahan atau luminositas dari envelope yang dikeluarkan, terlepas dari massa dan usianya.

Penelitian Profesor Zijlstra dan timnya ini diterbitkan di Nature Astronomy edisi Mei 2018.

(Sah/Sumber: sciencedaily.com)

2 dari 3 halaman

Badai Matahari Maha Dahsyat Segera Terjadi, Dampak Mengerikan

Dream - Para ilmuwan memprediksi badai matahari super segera terjadi dalam waktu dekat. Badai itu dikhawatirkan bisa menyebabkan kerusakan yang tak terbayangkan pada aktivitas manusia di Bumi.

Menurut laman Metro.co.uk, sebagaimana dikutip Dream pada Rabu 4 Oktober 2017, badai ini bisa menghancurkan pembangkit listrik, menghentikan pasokan air, dan bahkan mematikan satelit yang sedang mengorbit.

Richard Carrington, ilmuwan dari Era Victoria, pernah mencatat fenomena badai matahari seperti dalam prediksi itu pada 150 tahun lalu. Fenomena yang kemudian dikenal sebagai Carrington Event itu terjadi pada tahun 1859.

Saat itu memang belum ditemukan telepon dan satelit. Tapi kerusakan yang ditimbulkan sangat memengaruhi aktivitas komunikasi yang saat itu sangat tergantung pada telegram.

Dilaporkan, banyak kabel telegram yang hangus dan beberapa operator mengatakan lembaran kertas telegram banyak yang terbakar.

3 dari 3 halaman

Jika Benar-benar Terjadi, Inilah Dampaknya

Situs ArXiv menyebutkan dalam sebuah makalah yang diterbitkan baru-baru ini, jika Carrington Event terjadi sekarang, maka akan menimbulkan kerusakan yang signifikan pada jaringan listrik, rantai pasokan global, dan komunikasi satelit.

" Kerugian ekonomi kumulatif di seluruh dunia bisa mencapai US$10 triliun --atau sekitar Rp134.760 triliun-- dan pemulihan penuh diperkirakan akan memakan waktu beberapa tahun," kata para pakar dalam makalah itu.

Disebutkan juga bahwa ada kemungkinan 10 persen Carrington Event akan terjadi dalam dekade ke depan. Untuk itu para pakar mengusulkan dibuatnya perisai magnet yang akan melindungi Bumi dari badai matahari sebagaimana prediksi tersebut.

" Perisai magnet itu membutuhkan dana US$100 miliar --sekitar Rp1.347 triliun-- untuk bisa mengorbit Bumi. Tapi itu lebih murah daripada harus menanggung biaya akibat badai matahari pada dekade berikutnya," jelas para pakar.

Para pakar menambahkan, biaya total untuk mengangkat objek seberat 100.000 ton itu ke luar angkasa adalah sekitar US$100 miliar atau Rp1.347 triliun, dengan asumsi bahwa biaya per kilogramnya US$1000.

" Harga tersebut masih sepadan dengan biaya total membangun Stasiun Luar Angkasa (ISS), atau 3-4 derajat lebih rendah dari PDB dunia, atau biaya membangun kerusakan ekonomi dunia akibat badai itu selama 100 tahun kemudian," pungkas para pakar dalam makalah itu. (eko)

Beri Komentar