Peran Enam Tersangka Tragedi Maut Kanjuruhan

Reporter : Okti Nur Alifia
Jumat, 7 Oktober 2022 10:59
Peran Enam Tersangka Tragedi Maut Kanjuruhan
Siapa enam tersangka tragedi Kanjuruhan?

Dream - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengumumkan tersangka dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, pada 1 Oktober 2022 ada enam orang.

" Berdasarkan gelar dan alat bukti permulaan yang cukup, maka ditetapkan saat ini enam tersangka," kata Kapolri dalam jumpa pers, Kamis, 6 Oktober 2022.

Enam orang tersebut adalah Direktur Utama PT LIB Akhmad Hadian Lukita, Kabag Ops Polres Malang Wahyu SS, Ketua Panitia Pelaksana Pertandingan berinisial AH, Security Officer berinisial SS, Danki 3 Brimob Polda Jatim berinisial H dan Kasat Samapta Polres Malang berinisial TSA.

Sigit mengatakan tragedi yang menewaskan setidaknya 131 orang itu dipicu karena tembakan gas air mata oleh polisi. Berikut ini adalah peran enam tersangka tragedi Kanjuruhan.

1 dari 7 halaman

Direktur Utama PT LIB Akhmad Hadian Lukita ditetapkan sebagai tersangka karena dia bertanggungjawab untuk setiap stadion memiliki sertifikasi dan layak fungsi. Namun pada kenyataannya stadion Kanjuruhan dianggap belum diverifikasi oleh PT LIB. Terakhir PT LIB melakukan verifikasi stadion Kanjuruhan pada tahun 2020.

Selanjutnya, Ketua Panitia Pelaksana (AH), dia tidak membuat dokumen keselamatan dan keamanan. Panitia penyelenggara seharusnya wajib membuat panduan keselamatan dan keamanan.

Lalu terjadi penjualan tiket overcapacity, harusnya 38 ribu dijual 42 ribu. Dia juga mengabaikan permintaan keamanan.

Security Officer berinisial SS bersalah atas kondisi pintu yang tidak semuanya terbuka. Ini yang menyebabkan penonton berdesakan. Seharusnya, lima menit sebelum pertandingan usai, seluruh pintu harus sudah dibuka. 

 

2 dari 7 halaman

Saudara Wahyu SS, selaku kabagops Polres Malang, dia mengetahu adanya aturan FIFA tentang larangan penggunaan gas air mata. Namun Wahyu tidak melarang ataupun pemakaian gas air mata.

Perintah untuk melakukan penembakan gas air mata datang dari oleh Polri (H) yang memerintahkan polisi melakukan penembakan gas air mata.

Terakhir, Kasat Samapta Polres Malang (TSA) juga memerintahkan anggotanya melakukan penembakan gas air mata.

Para tersangka dijerat Pasal 359 dan 360 KUHP, pasal 103 ayat 1 juncto pasal 52 UU Nomor 11 Tahun 2002 tentang Keolahragaan.

Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo juga mengatakan bahwa jumlah tersangka masih dimungkinkan untuk bertambah.

 

3 dari 7 halaman

Temuan Komnas HAM: Banyak Jenazah Korban Tragedi Kanjuruhan Mukanya Biru

Dream - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengungkapkan temuan sementara dari penyelidikan tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Komnas HAM mendapati kondisi korban yang sangat memprihatinkan.

" Pertama adalah kondisi jenazahnya banyak yang mukanya biru, jadi muka biru ini banyak. Ini yang menunjukkan kemungkinan besar karena kekurangan oksigen karena juga gas air mata," kata Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam, dalam keterangannya, Rabu 5 Oktober 2022.

" Jadi muka biru, terus ada yang matanya merah, keluar juga busa. Jadi teman-teman khususnya keluarga, Aremania, maupun relawan yang menangani jenazah memberikan informasi terkait hal tersebut," imbuhnya.

4 dari 7 halaman

Patah Tulang dan Wajah Biru

Temuan kondisi wajah biru dan mata merah juga dibarengi dengan adanya luka fisik seperti kaki patah, rahang patah, memar, dan lain sebagainya.

" Ada beberapa yang sangat memprihatinkan karena kena gas air mata adalah kondisi mata. Matanya sangat merah," ujarnya.

Bahkan, kata Anam, akibat gas air mata banyak juga dari korban yang selamat masih mengalami sakit mata selepas ditemui pihaknya.

5 dari 7 halaman

Suporter hanya Memberi Semangat

" Bahkan kami bertemu dengan salah satu korban yang, itu peristiwanya hari Sabtu, Senin bertemu kami, Senin baru bisa melihat. Matanya sakit kalau dibuka. Dadanya juga perih, sesak napas, tenggorokannya perih. Itu beberapa contoh informasi yang kami dapat," ungkapnya.

Anam menjelaskan, para suporter dan pemain Arema Malang mengaku tidak ada niat untuk membuat kericuhan. Suporter yang masuk ke lapangan hanya untuk memberikan semangat kepada para pemain usai dikalahkan.

" Jadi mereka merangsek itu memang mau memberikan semangat, berkomunikasi dengan pemain. Kami kroscek ke para suporternya, bilangnya ya kami kan mau kasih semangat walaupun mereka kalah. Ini satu jiwa. Ayo Arema jangan menyerah," tuturnya.

 

6 dari 7 halaman

Suporter Rangkul Pemain Arema

Menurut Anam, pengakuan dari Aremania itu kemudian dikonfirmasi Komnas HAM kepada para pemain Arema, terutama mereka yang terakhir kali meninggalkan lapangan.

" Ketika kami kroscek kalimat-kalimat itu juga berdialog dengan teman-teman pemain terutama pemain yang terakhir meninggalkan lapangan, itu juga disampaikan (kalimat semangat dari Aremania)," kata Anam.

Bahkan, lanjut dia, Komnas HAM mendapatkan bukti sebuah video dari salah satu pemain yang memperlihatkan tengah dirangkul oleh Aremania dikala para suporter merangsek masuk.

" Ini saya Mas, ketika saya dirangkul oleh suporter, kami pelukan dan ada satu komunikasi bahwa ini satu jiwa. Ayo jangan menyerah, jangan menyerah," kata Anam sembari menirukan apa yang disampaikan pemain itu.

7 dari 7 halaman

Anam mengatakan, dari hasil investigasinya ditemukan kalau para pemain Arema tidak ada yang mengalami luka-luka ketika kerusuhan pecah di Stadion Kanjuruhan.

" Jadi tidak ada pemain yang luka. Jadi kalau ada informasi yang bilang bahwa suporter ke sana mau menyerang pemain, itu bilang bahwa itu tidak seperti itu. Dan suporternya juga bilang bahwa tidak seperti itu," kata Anam.

Bagi Komnas HAM pengakuan dari suporter dan para pemain Arema menjadi dinamika yang sangat penting untuk ditindaklanjuti guna mengungkap Tragedi Kanjuruhan.

" Kami sedang menelusuri secara mendalam. Karena ada konstrain waktu, sekian menit itu, di lapangan. Itu sebenarnya cukup terkendali kondisinya kalau kita lihat video, informasi keterangan dari supporter, dari perangkat pertandingan, termasuk dari pemain," ucap Anam.

Beri Komentar