Warga Kotawaringin Heboh Temuan Potongan Besar Pesawat, Diduga AirAsia QZ8501

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 5 Januari 2021 11:00
Warga Kotawaringin Heboh Temuan Potongan Besar Pesawat, Diduga AirAsia QZ8501
Pesawat AirAsia QZ8501 dilaporkan jatuh pada 28 Desember 2014.

Dream - Warga Kotawaringin Barat menemukan potongan logam menyerupai badan pesawat. Potongan logam besar itu teronggok di pesisir Teluk Ranggau, Desa Sungai Cabang, Kecamatan Kumai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Video penemuan itu beredar di beberapa platform media sosial. Diduga potongan logam itu merupakan bagian dari badan pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di perairan Pangkalan Bun pada Desember 2014.

Diduga serpihan itu terbawa ombak dari titik jatuh hingga ke pesisir Sungai Cabang. Titik penemuan logam tersebut masuk dalam kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.

Kasatpolair Polres Kotawaringin Barat, Iptu Kusean Afandi, menyatakan belum dalam memastikan logam tersebut merupakan potongan pesawat atau bukan. Karena terdapat kemiripan dengan cerobong asap pada pabrik.

" Besok kita akan pastikan dengan mendatangi lokasi ditemukannya benda tersebut," ujar Kusean, dikutip dari Matakalteng.com.

 

1 dari 4 halaman

Ukuran Cukup Panjang

Dalam video yang diunggah kembali pada akun Instagram @makassar_iinfo, terlihat potongan logam berbentuk setengah tabung. Panjangnya lebih dari 9 meter dengan bagian atas sudah terpotong.

Pesawat AirAsia QZ8501 dilaporkan jatuh pada 28 Desember 2014. Dari hasil investigasi yang dijalankan Komite Nasional Kecelakaan Transportasi, didapat temuan pesawat dengan rute penerbangan Surabaya-Singapura itu berusaha terbang menanjak untuk menghindari awan tebal hingga terjadi stall atau kehilangan daya dorong.

Pesawat itu membawa 155 penumpang dan 7 awak, terdiri dari pilot dan co-pilot serta lima awak kabin. Seluruhnya meninggal dunia dalam insiden tersebut.

2 dari 4 halaman

Sebelum Jatuh, AirAsia QZ8501 Diperbaiki 51 Kali

Dream - Tim Investigasi Airasia QZ8501 mencatat pesawat tersebut sempat menjalani 51 kali perbaikan dalam setahun sebelum akhirnya jatuh pada 28 Desember tahun lalu di Selat Karimata, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. 

    Sebelum Jatuh, AirAsia QZ8501 Diperbaiki 51 Kali© Dream

    Tim menjelaskan sebenarnya pesawat Airbus A-320 ini dilengkapi sistem perlindungan untuk mencegah pesawat mengalami roll atau terguling lebih dari 33 kali. Tetapi, terdapat permasalahan lain yang menyebabkan pesawat ini terguling di udara yaitu retakan pada bagian sirip.

    " Retakan terjadi pada ruangan yang tidak ber-AC. Jadi saat parkir akan menjadi sangat panas dan berubah sangat dingin saat digunakan untuk terbang," ungkap Investigator QZ8501 Nurcahyo Utomo saat jumpa pers di gedung KNKT pada Selasa, 01 Desember 2015.

    Lebih jauh, dia mengungkapkan pesawat mengalami interval kerusakan lebih sering dalam dua bulan terakhir. Sedangkan untuk tindakan perbaikan di bidang operasi tercatat telah dilakukan selama 22 kali.

    Selain itu, sempat juga dilakukan perbaikan selama 18 kali untuk peningkatan kemampuan pengetahuan metereologi.

    " Sebenarnya semua pilot telah dilatih untuk mengendalikan pesawat dalam situasi yang genting," tutur dia. (Ism) 

    3 dari 4 halaman

    Setahun, `Sirip Ekor` AirAsia QZ8501 Rusak 23 Kali

    Setahun, `Sirip Ekor` AirAsia QZ8501 Rusak 23 Kali© Dream

    Dalam 12 bulan terakhir, terdapat 23 kali kerusakan pada rudder. Dalam dua bulan terakhir sebelum jatuh, kerusakan menjadi semakin parah.

     

    Dream - Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) mendapat catatan kondisi pesawat Airbus A-320 milik maskapai AirAsia kode penerbangan QZ8501. Dalam satu tahun terakhir sebelum jatuh, pesawat tersebut mengalami kerusakan pada sistem Rudder Travel Limiter (RTL) atau sayap kemudi atau sirip ekor belakang sebanyak 23 kali.

    " Melihat catatan perlengkapan pesawat selama 12 bulan terakhir, ditemukan 23 kali kerusakan. Dalam dua bulan terakhir kerusakan menjadi lebih sering dari rudder," ujar Ketua Tim Investigasi QZ8501 Mardjono Siswosuwarno dalam konferensi pers hasil investigasi di Gedung KNKT, Jakarta, Selasa, 1 Desember 2015.

    Mardjono mengatakan pihaknya berkoordinasi dengan pihak Airbus dalam menyelidiki kondisi ekor pesawat. Pihak Airbus memberikan simulator kerja RTL yang kemudian diperiksa oleh tim di hanggar yang terletak di Curug, Tangerang.

    Kemudian, Mardjono menerangkan proses penyelidikan dijalankan dengan membawa ekor pesawat ke pabrik Airbus di Perancis. Ini membuahkan temuan adanya robekan solder yang retak di bagian ekor.

    " Kita selidiki dan bawa ke pabrik yang ada di Paris, ada robekan solder yang retak terletak di ekor di mana ruangan tidak berAC, menjadi sangat ekstrim. Kalau parkir menjadi sangat panas, kalau terbang jadi terlalu dingin," kata Mardjono.

    Sementara berdasarkan pemeriksaan terhadap electronic module, Mardjono menjelaskan pihak operator belum mengoptimalkan penggunaan data. Data dalam electronic module tersebut tidak dianalisa dengan baik sehingga kurang memadai.

    Selain itu, kata Mardjono, Indonesia belum memiliki peraturan yang mewajibkan pilot melaporkan ketidakberesan di dalam pesawat. Sehingga kerusakan yang terjadi tidak dapat dideteksi.

    " Hal serupa terjadi pada sekitar Januari, Februari hingga September sekali, November terjadi lima kali, Desember sembilan kali," ungkap Mardjono.(Ism) 

    4 dari 4 halaman

    Detik-detik AirAsia QZ8501 Terguling di Udara


      Detik-detik AirAsia QZ8501 Terguling di Udara© Dream

    Ini membuat pesawat berada dalam posisi kemiringan mencapai 54 derajat ke kiri.

     

    Dream - Kerusakan pada sistem kemudi sirip dituding sebagai pemicu insiden. Listrik dilaporkan tidak mengalir ke bagian Rudder Travel Limiter (RTL) sehingga unit yang kerap digunakan untuk membelokkan pesawat harus dikendalikan secara manual.

    Dalam kondisi tersebut, pesawat bisa terguling hingga enam derajat per detik. Kondisi ini membuat pesawat berada dalam posisi kemiringan hingga mencapai 54 derajat ke kiri.

    Temuan ini diungkapkan investigator AirAsia QZ8501 Kapten Nurcahyo Utomo dalam keterangan pers Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) di Jakarta, Selasa, 1 Desember 2015. Nurcahyo mengatakan sebenarnya dalam kondisi tersebut pesawat relatif aman dan dapat dikendalikan.

    Tetapi, terdapat input yang membuat pesawat naik drastis dari ketinggian 32.000 kaki menjadi 38.000 kaki.

    " Hidung pesawat naik ke atas dengan sudut tertinggi 40 derajat. Ini satu kondisi di luar batasan terbang dan masuklah pesawat ke kondisi stall. Kondisi ini sudah di luar kemampuan pilot untuk melakukan tindakan recovery," jelas Nurcahyo.

    Anggota tim investigasi QZ8501 Suryanto menambahkan pesawat tampaknya sempat terguling 40 derajat. Setelah itu, pesawat mendongak ke atas dan memicu kecepatan naik menjadi 11.000 pick per menit.

    " Perubahan sikap pesawat dari datar menjadi mendongak ke atas yang membuat pesawat naik secara ekstrim," ungkap dia.

    Saat itu pramugari juga menduga sedang terjadi cuaca buruk karena pesawat mengalami getaran secara terus menerus. Kondisi penerbangan di luar batas kendali membuat pesawat terus mengalami kemiringan hingga 104 derajat sebelum akhirnya jatuh ke selat Karimata.

    Beri Komentar