Money Changer Kelabakan, Uang Rp27 M Dibawa Kabur Pegawai

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 30 Januari 2018 12:00
Money Changer Kelabakan, Uang Rp27 M Dibawa Kabur Pegawai
Pencurian ini begitu rapi, sampai-sampai tidak ada karyawan yang merasakan dampaknya.

Dream - Sejumlah jasa penukaran uang asing terkemuka di Kuala Lumpur, Malaysia, menghadapi masalah serius berupa kosongnya cadangan tunai. Penyebabnya, adanya kasus pencurian senilai 8 juta ringgit, setara Rp27 miliar saat uang tersebut didistribusikan ke gerai lainnya.

Dilaporkan Straits Times, sumber internal mengatakan seorang karyawan kabur membawa uang tunai tersebut pada Jumat pekan lalu, 26 Januari 2018. Saat itu, karyawan tersebut sedang bertugas mengantarkan uang dari kantor induk perusahaan ke sejumlah gerai.

Akibatnya, para pedagang mata uang kehabisan pasokan uang tunai. Padahal, kebutuhan uang tunai sangat besar.

Direktur Departemen Investigasi Kriminal Komersil Bukit Aman Komisaris Datuk Amar Singh mengonfirmasi kasus ini. " Saya belum bisa memberikan penjelasan lebih rinci saat ini namun saya nyatakan kami sedang menginvestigasi kasus ini," kata dia.

Berdasarkan sumber, pencurian itu kemungkinan dikerjakan orang dalam yang melibatkan lebih dari satu orang. " Ada investigasi besar untuk menguak bagaimana ini bisa terjadi," ucap salah satu sumber.

Beberapa cek yang ditemukan di enam tempat penukaran uang kenamaan di pusat perbelanjaan Kuala Lumpur menunjukkan menunjukkan motif yang tidak mencurigakan. Pada hari saat insiden ini terjadi, masing-masing gerai terlihat ramai, seperti yang terjadi setiap akhir pekan.

Dua tempat penukaran uang bahkan benar-benar disiapkan untuk melayani pelanggan di akhir pekan. Sementara di gerai lainnya terlihat sepi karena 15 dari 20 jenis mata uang dinyatakan 'terjual habis'.

Saat itu, mata uang yang tersedia hanya euro, dolar Singapura, dolar Brunei, dolar Kanada, dan dolar Selandia Baru. Ketika ditanya apakah momen terjual habis ini termasuk tidak biasa, para teler menjawab ini bukan sesuatu yang luar biasa.

" Ini hal normal bagi kami ketika semua terjual dalam satu waktu, kami tidak punya cadangan akhir pekan," kata salah seorang teler yang menolak disebut namanya.

Sejumlah karyawan bahkan tidak mengetahui adanya pencurian di industri tersebut.

Presiden Asosiasi Usaha Layanan Uang Malaysia, Ramasamy K Veeran, menolak memberikan tanggapan. Dia merasa tidak layak memberikan komentar atas kasus pencurian itu.

" Jika laporan tersebut benar, otoritas yang berwenang akan menggelar investigasi," ucap dia.

(Sah)

 

Beri Komentar