Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Jawa Barat merawat pasien anak dengan gangguan kejiwaan karena terlalu banyak bermain gawai. Direktur RSJ Provinsi Jawa Barat, Elly Marliyani, mengatakan, potensi gangguan jiwa karena penggunaan gawai terus meningkat.
" Berpotensi meningkat jika tidak ditangani. Menurut prevalensi yang ada, satu dari 10 orang mengalami orang dengan masalah kejiwaan (ODMK)," kata Elly, dikutip dari Liputan6.com, Rabu 16 Oktober 2019.
" Biasanya ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) maupun ODMK dialami remaja yang masuk umur 15 tahun, tapi dengan perkembangan zaman seperti sekarang terdapat anak kecil yang bahkan sudah dimasukkan ke rumah sakit jiwa," tambah dia.
Menurut Elly, rentang usia anak yang dibawa ke RSJ oleh orang tuanya berada pada kisaran lima hingga delapan tahun.
Anak pengguna gawai tidak bisa sepenuhnya disalahkan dalam hal ini, karena menurut Elly hampir seluruh orangtua sekarang sudah banyak yang memberikan gawai kepada anak.
Pemberian ini dilakukan awalnya agar anak bisa bermain tanpa mengganggu kegiatan orangtua dan sayangnya penggunaan ini kemudian membuat anak menjadi kecanduan.
" Jika gadget dipakai berlebihan dan menjadi ketergantungan bisa mengganggu jiwa anak tersebut. Contoh saat pemadaman listrik pada Agustus 2019, saat mati lampu anak tersebut enggak bisa diberitahu, mengamuk hancurkan pintu, itu hal yang tidak diduga. Anak kecil dapat berperilaku seperti itu gara-gara handphone-nya tidak bisa di-charge," ujar Elly.
Guna mencegah gangguan kejiwaan meningkat, Elly mengimbau agar gawai dikembalikan pada fungsinya semula sebagai sarana komunikasi.
Pemberian gawai harus diperketat kembali dengan melihat tingkatan usianya. Kembali bermain dengan permainan tradisional, dianggap sebagai salah satu solusi menekan potensi peningkatan anak dengan gangguan kejiwaan.
Menurut laporan Jabarekspres, sejak 2016, RSJ Provinsi Jawa Barat telah menangani 209 pasien anak yang kecanduan ponsel. Tingkat kecanduan yaitu bermain gim, berselancar di internet, dan bermain aplikasi lain.
Sub Spesialis Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja, RSJ Provinsi Jawa Barat, dr. Lina Budianti mengatakan, penyebab utama anak kecanduan ponsel yaitu bermain gim online secara berlebihan.
Dilihat waktunya, anak-anak itu kerap bermain game pada ponsel itu 6 hingga 8 jam per hari. Sedangkan untuk orang yang tidak kecanduan, biasanya hanya melakukan hal itu sekitar dua jam saja.
”Biasanya mereka bermain game berlebihan itu karena depresi karena sering di bully, tidak nyaman ketika berada pada keramaian, akhirnya dia mengalihakan ke main game agar mendapatkan rasa senang,” kata Lina.
Dia menyebut, pengobatan anak yang kecanduan ponsel dimulai dari pengobatan depresinya terlebih dahulu. Setelah itu, dokter akan melanjutkan terapi agar anak tidak bermain game lagi.
”Agar mereka bisa lepas dari main game itu waktunya minimal tiga bulan. Itu merupakan terapi prilakunya untuk memutus paparan main gimnya,” ucap dia.
Dream - Bermain gim yang tak diselingi waktu istirahat sangat berbahaya. Seorang mahasiswa berusia 21 di Zhejiang, China, nyaris meninggal dunia karena tak beristirahat saat bermain gim.
Dilaporkan World of Buzz, peristiwa tersebut terjadi pada 8 September 2019. Awalnya, pemuda yang biasa dipanggil Ah Wah itu berbaring di tempat tidur asramanya pada pukul 11 malam.
Dia tiba-tiba merasakan tekanan di dadanya, tercekik dan tidak bisa bernapas. Teman-teman sekamarnya yang khawatir segara memanggil ambulans.
Sekitar 10 menit kemudian, ambulans datang dan membawa Ah Wah. Paramedis memberikan pertolongan pertama tetapi Ah Wah tiba-tiba kehilangan kesadaran.
Ketika tiba di rumah sakit, Ah Wah tidak sadar. Dokter mendiagnosanya serangan jantung. Ah Wah berhasil diselamatkan karena CPR selama 10 menit.

Ah Wah menjalani perawatan (Foto: World of Buzz)
Dokter yang bekerja keras selama beberapa jam menemukan Ah Wah memiliki gumpalan darah di arteri pulmonalis-nya. Akibatnya, darah menghalangi saluran keluar jantung.
Para dokter segera memberikan obat antikoagulan kepada Ah Wah selamat. Dia akhirnya bangun dan setelah memahami cobaannya, dia meneteskan air mata dan berterima kasih kepada para dokter karena menyelamatkan hidupnya.
Direktur ICU yang bertanggung jawab atas kasus Ah Wah mengatakan, Ah Wan menderita emboli paru-paru, yang kemungkinan disebabkan kebiasaan jangka panjang dan gaya hidup yang tidak sehat.
Ah Wah mengatakan, pergelangan kakinya telah terkilir selama sebulan. Dia lalu mengistirahatkan kakinya dengan alasan bukan orang yang aktif bergerak.
Dia sepanjang hari menghabiskan waktu di kamar untuk belajar dan bermain game. Dia bahkan akan meminta teman sekamarnya untuk membeli makanan untuknya karena dia terlalu malas untuk keluar sendiri. Dokter menambahkan bahwa tingkat kematian untuk emboli paru bisa mencapai 80 persen.
Dream - Sadarkah kamu bahwa keseharian kita sudah tidak bisa lepas dari gawai atau ponsel? Mungkin saat ini kita lebih rela ketinggalan dompet di rumah daripada ketinggalan smartphone kesayangan.
Tak hanya ke kantor, gadget yang satu ini sering kali kita bawa juga saat hendak ke toilet.
Berseluncur di dunia maya -lebih tepatnya sosial media- ataupun bermain game memang menjadi rutinitas yang asyik untuk menemani di dalam toilet. Ayo mengaku, kamu juga kan?
Namun tahukah kamu jika kebiasaan bermain ponsel di toilet ternyata bisa menyebabkan masalah serius pada kesehatan.
Keasyikan bermain gadget ternyata menjadi pemicu wasir atau ambeien.
Mengutip laman metro.co.uk, Ahli bedah kolorektal, Dr. Karen Zaghiyan mengatakan kebiasaan bermain ponsel membuat orang-orang ketika BAB duduk lebih lama di toilet.
Kebiasaan ini meningkatkan tekanan pada pembuluh darah sekitar anus, yang kemudian membuat aliran darah jadi nggak lancar dan mengalami penumpukan.
Dalam jangka panjang aliran tak lancar ini bisa menyebabkan pembengkakan, rasa sakit, gatal, serta pendarahan ketika buang air besar.
" Sebenarnya, bukan main HP saat BAB yang jadi penyebab wasir, tapi duduk di toilet dalam waktu lama yang jadi penyebabnya," terang Karen.
Sebuah studi di jurnal Germ pada tahun 2017 juga menyebutkan ponsel dapat menampung bakteri seperti, Escherichia Coli dan mikroba lain yang bisa menimbulkan masalah kesehatan mulai dari perut mulas, kram, hingga diare.
Peluang pembiakan bakteri di area ponsel juga cenderung lebih besar risikonya. Ponsel bisa menghantarkan panas yang tentu membuat bakteri semakin senang untuk hidup.
Nah, menggunakan ponsel juga tidak jauh dari tangan. Kedua tangan kamu bisa kotor dan terinfeksi bakteri. Apalagi kamu bisa menularkan bakteri akibat bertukar handphone dengan orang lain.
Belum lagi, jika kamu meletakkan ponsel di bagian dudukan toilet. Hal ini membuat kuman pasti langsung menempel di ponselmu.
Untuk mencegah hal itu, orang-orang disarankan nggak membawa ponsel ke dalam toilet, serta diwajibkan mencuci tangan dengan sabun sampai ke sela-sela jari.
Jadi bagaimana Sahabat Dream, masih main HP di toilet?