Dr Jeffrey Lang
Dream - Sore itu matahari di pantai Bridgeport, Connecticut, Amerika, bersinar ramah. Lembutnya hembusan angin, mengelus rambut orang-orang yang tengah menikmati matahari sore sembari menunggu matahari tenggelam. Sunset yang indah dan melankolis membungkus pantai.
Kala itu, pertengahan 1960-an pantai masih bersih dan belum disesaki sampah. Seorang ayah tengah menyusuri pantai menggandeng anaknya. Seekor anjing membuntuti. Sesekali si anjing menganggu bocah kecil itu. Berjalan di atas pasir, suara ombak terus mengisi telinga.
Hingga sang bocah menengok ke ayahnya dan bertanya: “ Ayah, apakah Tuhan itu ada?
Ayahnya tak terkejut. Ia mahfum anak seusia itu memang sering bertanya segala hal. Sang ayah menjawab, “ Tentu saja Tuhan ada. Itulah sebabnya setiap orang beragama.” Ternyata jawaban sang ayah tak cukup memuaskan. Ia tetap gelisah dan memendam banyak pertanyaan.
Kegelisahan yang kelak akan dia bawa saat dewasa.
Jeffrei Lang, nama anak itu, lahir 30 Januari 1954 di lingkungan keluarga Katolik. " Seperti kebanyakan anak-anak di masa itu, aku selalu mempertanyakan nilai-nilai yang kita miliki. Baik itu politik, sosial, dan agama," kata Lang. " Aku memberontak terhadap semua institusi yang dianggap suci masyarakat termasuk Gereja," katanya.
Saat usia mencapai 18 tahun, Lang telah menjadi seorang yang tidak percaya pada Tuhan atau ateis. " Jika Tuhan ada, dan Ia maha penyayang dan penuh kasih, lalu mengapa ada penderitaan di muka bumi ini? Mengapa Dia tidak membawa kita ke surga? Mengapa Dia membuat sebagian orang ini menderita?." tanyanya.
Seiring pilihan sikapnya...
© Dream
Seiring pilihan sikapnya menjadi seorang ateis, minat Jeffrey Lang pada matematika tumbuh subur. Ia pun memilih matematika sebagai pilihan studinya.
Dia pun menjadi dosen muda nan cemerlang di bidang matematika Universitas San Francisco. " Matematika selalu logis. Ini terdiri dari menggunakan fakta dan angka untuk menemukan jawaban konkret," kata Lang tentang alasannya memilih matematika.
Sepuluh tahun setelah memutuskan diri jadi ateis, Lang memberi ceramah pertama di University of San Francisco sebagai seorang dosen. Di situ dia ia bertemu dengan seorang mahasiswa muslim yang menghadiri kelas matematika.
Dr Lang bertemu Mahmoud Qandeel, mahasiswa asal Arab Saudi yang menarik perhatian seluruh kelas. Ketika Lang mengajukan pertanyaan tentang penelitian medis, Qandeel menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris yang sempurna dan dengan keyakinan diri yang besar.
Mereka pun menjadi sahabat. Ia kerap berdiskusi dengan kawannya itu. Tak terkecuali berdiskusi tentang Tuhan yang keberadaannya jauh dari keyakinan Lang. Saat akan pulang ke Saudi, sebagai tanda perpisahan, Qandeel secara mengejutkan memberinya Alquran beserta terjemahannya dalam bahasa Inggris dan beberapa buku tentang Islam.
Di sela-sela kesibukannya mengajar, Lang menyempatkan diri membaca Alquran hadiah itu. Semula ia membaca penuh kecurigaan dan rasa ragu. Namun alih-alih menjadi skeptis, ia malah terpesona. Ia ditaklukkan oleh Alquran. Dua bab pertama Alquran seperti menjawab kegelisahannya selama ini tentang Tuhan.
" Pelukis bisa membuat potret mata tampak mengikuti Anda dari satu tempat ke tempat lain, tetapi dapatkah seseorang menulis sebuah kitab yang mengantisipasi perubahan-perubahan sehari-hari?,” tanyanya.
“ Setiap malam saya merumuskan pertanyaan dan keberatan dan entah bagaimana menemukan jawaban keesokan harinya (di Alquran). Tampaknya bahwa penulis sedang membaca ide-ide saya dan menulis di baris yang sesuai pada waktunya saat saya membaca berikutnya. Saya telah menemukan diri saya di halaman-halamannya ..., " ujarnya tanpa menutupi rasa kagumnya pada Alquran.
Itu tahun 1982. Ketika itu tidak banyak muslim di kampus Universitas San Francisco. Lalu Lang secara kebetulan menemukan sebuah tempat kecil di ruang bawah tanah sebuah gereja di mana ia menemui beberapa mahasiswa muslim tengah salat.
Setelah terpukau pada Alquran, ia pun dengan cukup keberanian mengunjungi tempat itu. Ketika ia keluar dari tempat itu beberapa jam kemudian, ia sudah menyatakan syahadat, sebagai sebuah proklamasi hidup baru: " Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah."
Jeffrey Lang pun berhenti sebagai ateis pada usia 28 tahun.
© Dream
Kecintaan Jeffrey Lang pada matematika tiada pernah surut. Dia menerima gelar master dan doktor matematika dari Purdue University.
Lang mengatakan bahwa ia selalu terpesona oleh matematika karena selalu menggunakan fakta dan logis. " Itu adalah cara pikiran saya bekerja, dan itu membuat frustrasi ketika saya berurusan dengan hal-hal yang tidak memiliki jawaban konkret," ujarnya.
Dan, ini yang membuat dia kagum: Alquran juga menyerukan setiap muslim untuk berpikir logis!
Waktu berlalu. Kini, Dr Jeffrey Lang menjadi Associate Professor Matematika di Universitas Kansas, salah satu universitas terbesar di Amerika Serikat.
Pada 1994, Prof Jefrey menikahi seorang perempuan Arab Saudi bernama Raika. Mereka dikaruniai tiga buah hati yakni Jameelah, Sarah, dan Fattin.
Di sela kesibukannya mengajar matematika, Jeffrey juga penulis buku yang hebat. Dia menulis beberapa buku Islam yang menjadi rujukan komunitas muslim Amerika. “ Even Angels ask; A Journey to Islam in America” menjadi salah satu bukunya yang laris. Dalam buku itu dia menulis kisah perjalanan spiritualnya hingga memeluk Islam.
Lang juga melakukan salat lima waktu secara teratur dan menemukan banyak kepuasan spiritual. Dia menemukan salat sebelum fajar merupakan ritual paling indah dalam Islam. " Seolah-olah Anda untuk sementara meninggalkan dunia ini dan berkomunikasi dengan para malaikat dan bernyanyi memuji Tuhan sebelum fajar."
Begitulah. Hidup memang sulit diterka arahnya. Dari semula seorang ateis dan mendewakan pikiran logis, Profesor Lang akhirnya mengakui ada sesuatu yang besar dan indah ketimbang rumus matematika. Dan jawaban itu dia temukan di dalam Alquran…