Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Suasana turbulensi parah viral di media sosial. Turbulensi itu terjadi saat penerbangan ALK Airlines dari Pristina, Kosovo ke Basel, Swiss.
Turbulensi itu membuat para penumpang terlontar dari kursinya. Dilaporkan Euronews, sebanyak 10 orang penumpang dan awak kabin mengalami luka-luka akibat insiden ini.
Penumpang dan awak yang cedera karena tubuh mereka menghantam langit-langit.
Dalam video, saat turbulensi terjadi terdengar penumpang berteriak. Beberapa lain berdoa dan yang lainnya menangis.
Peristiwa itu terjadi sekitar 20 menit sebelum pesawat akan mendarat.
Juru bicara EuroAirport, Basel menyebut, para personil dengan sigap menunggu di landasan pacu. Petugas membatu para penumpang yang cedera.
A #Boeing 737-300 of ALK Airlines, flight from #Pristina to #Basel with 121 people on board, encountered severe turbulence causing injuries to 10 pax, while the aircraft went around of thunderstorm area. #alkairlines
*Video by Mirjeta Basha#flightmode #aviation #avgeek #flights pic.twitter.com/AWXGxZkXdr— FlightMode (@FlightModeblog)June 17, 2019
Dream - Setelah lima tahun raib, nasib pesawat Malaysian Airlines MH370 belum juga diketahui dengan pasti.
Jejak pesawat yang terbang dari Kuala Lumpur ke Beijing pada 8 Maret 2014 itu tak pernah ditemukan.
Selama itu, berbagai teori tentang penyebab hilangnya pesawat MH370 tersebut bermunculan.
Ada yang bilang diculik alien. Namun ada yang mengatakan kapten pilot Zaharie Ahmed Shah mengalami stres.
Akibatnya Kapten Zaharie melakukan tindakan bunuh diri hingga membunuh 239 penumpang di dalamnya.
Terbaru, ada sebuah teori yang dikemukakan oleh ahli pakar penerbangan terkenal William Langewiesche.
Seperti dilaporkan The Atlantic, Kapten Zaharie kemungkinan melumpuhkan atau bahkan membunuh co-pilot sebelum menghilangkan tekanan di dalam kabin.
Caranya, Kapten Zaharie sengaja membawa pesawat naik ke ketinggian 40.000 kaki hingga kabin kehilangan tekanannya.
Pesawat yang naik ke ketinggian tersebut akan mempercepat proses penurunan tekanan di dalam kabin.
Jika kabin kekurangan oksigen, maka para penumpang bisa mati lemas secara perlahan.
Setelah itu, pesawat dibiarkan meluncur ke bawah hingga jatuh ke Samudera Hindia dan hancur berkeping-keping.
Langewiesche mengatakan pengurangan tekanan kabin sengaja dilakukan untuk mengatasi kru yang tidak patuh.
" Itu mungkin satu-satunya cara untuk menundukkan kru yang sulit diatasi saat pesawat terus terbang hingga berjam-jam," kata Langewiesche.
Menurut Langewiesche, efek pengurangan tekanan tidak akan terasa di area kabin. Namun, masker oksigen bisa digunakan.
" Masker oksigen hanya bisa digunakan selama 15 menit saat pesawat turun darurat di bawah 13.000 kaki," kata Langewiesche.
Namun jika pesawat naik atau terbang di ketinggian 40.000 kaki, maka masker oksigen tidak ada gunanya.
" Akibatnya para penumpang akan mati lemas dalam hitungan menit tanpa tersedak atau terengah-engah akibat kekurangan oksigen," jelas Langewiesche.
Namun, rekan Kapten Zaharie yang enggan disebut namanya, tidak sepenuhnya percaya sahabatnya itu sengaja bunuh diri bersama pesawat yang dikemudikannya.
" Tidak masuk akal. Sulit mempercayainya karena dia teman dekat saya. Namun itu bisa saja terjadi," katanya.
Dia memperkirakan kondisi mental Kapten Zaharie mungkin menjadi faktor yang berkontribusi terhadap keputusannya.
" Pernikahan Zaharie memang bermasalah. Dulu, dia sering pergi bersama beberapa pramugari," katanya.
(Sumber: Metro News)