Icha Saat Menjalani Wisuda (uny.ac.id)
Dream - Seorang gadis bernama Futicha Sirrulhayati Muna meninggal dunia setelah paginya diwisuda. Mahasiswi lulusan program studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Alam Universitas Negeri Yogyakarta itu mengembuskan nafas terakhirnya pada Sabtu, 29 Agustus 2015 lalu sekitar pukul 17.00 WIB.
Menurut keterangan Kepala Program Studi Biologi Evy Yulianti di laman uny.ac.id, Icha, sapaan akrab Futicha, sering mengalami pusing dan beberapa kali di bawa ke rumah sakit. Meski begitu, semangat Icha untuk menyelesaikan kuliah sangat kuat.
" Sebenarnya dia sudah agak lama merasa sering pusing dan beberapa kali diperiksakan di rumah sakit sekitar Muntilan," katanya.
Evy mengatakan Icha sebetulnya masih ceria saat menjalani bimbingan skripsi dengannya. Begitu juga saat menjalani skripsi dan yudisium dirinya tampak masih gembira.
" Tapi, setelah itu kesehatannya menurun drastis," katanya.
Mahasiswi angkatan 2011 itu, berhasil menyelesaikan studinya selama empat tahun. Bahkan dalam kondisinya yang sedang sakit dia mampu menyelesaikan tugas akhir
dalam waktu lima bulan delapan hari.
Gadis kelahiran Magelang, 30 Agustus 1993 itu lulus berpredikat cumlaude dengan indeks prestasi kumulatif 3,65. (Ism)
© Dream
Kisah Haru, Hijaber Cantik Meninggal Usai Wisuda
Dream - Jumat pekan lalu harusnya menjadi saat bahagia bagi Aminah Jennifa Ahmed dan keluarga. Sebab, Mahasiswi berhijab ini menjalani wisuda di University of Texas, Arlington, Amerika Serikat. Dua gelar sekaligus dia kantongi. Sarjana Biologi dan Bisnis.
Namun, kebahagiaan itu seolah terenggut. Sebab, sebelum acara wisuda usai, Aminah mengeluh sakit. Dia segera meninggalkan kampus dan kemudian meninggal dunia beberapa jam setelah wisuda itu.
Seperti wisudawan lain. Saat wisuda itu Amina juga tampak ceria. Dia terlihat menebar senyum saat diwisuda di atas panggung. " Kami melihat dia berjalan dan saya berteriak memberinya semangat," kata sepupu Aminah, Shahina Ahmed, sebagaimana dikutip Dream dari wfaa.com, Senin 25 Mei 2015.
Namun di balik kebahagiaan kala itu, sebuah penyakit mematikan tengah menggerogotinya. Sebelum menjalani foto wisuda, gadis yang dikenal cerdas dan periang ini mengeluh sakit.
Aminah mengutarakan kondisinya itu kepada teman-teman dan keluarga. Dia merasa tak kuat menahan sakit. Sehingga sang ayah, Shamsul Ahmed, segera memboyongnya pulang ke rumah. " Tak ada gejala, tak ada tanda-tanda. Dia bilang sakit kepala dan pulang," kata Shamsul.
Sesampai di rumah, Aminah tidur di sofa. Kondisi Aminah semakin memburuk pada pukul delapan malam. Jumat malam itu, dia mengalami sesak napas.
Keluarga dengan segera membawa Aminah ke rumah sakit. Dokter belum mengeluarkan diagnosanya. Tapi gadis itu kemudian dinyatakan meninggal dunia. Saat ini, teman-teman dan keluarganya menduga Aminah mengalami aneurisma atau kelainan pembuluh darah otak.
Proyek Amal
Kabar meninggalnya Aminah itu terang saja membuat teman-teman dan keluarga berduka. Selain cerdas, selama ini Aminah dikenal sangat aktif dalam kegiatan mahasiswa. Dia juga aktif dalam berbagai kegiatan masjid dan berbagai amal.
Salah satu proyek yang tengah dia jalankan adalah operasi mata untuk anak-anak miskin di Asia Selatan. Khususnya di negara nenek moyangnya, Bangladesh. Sejak kematian gadis cantik inilah nama proyek amal ini diubah menjadi " Aminah See."
Foto Aminah dipajang pada website proyek amal yang dibuat oleh keluarga. Dan hasilnya luar biasa. Kisah mengharukan itu rupanya menyedot orang untuk bersimpati. Lihat saja. Hanya dalam dua hari, proyek itu sudah menerima sumbangan senilai US$ 20 ribu atau sekitar Rp 263.510.000.
Komunitas amal itu berduka untuk gadis yang sangat peduli pada sesama itu. Dia diambil oleh Sang Khaliq pada hari di mana seharusnya berbahagia. Namun, Aminah telah membuat orang-orang di sekitarnya bahagia. Terutama anak-anak calon penerima bantuan proyek yang dia bangun sebelumnya. Selamat jalan Aminah. (Ism)
© Dream
Hebat, Tak Canggung Salat Saat Wisuda di Tengah Lapangan
Dream - Salat menjadi kewajiban setiap muslim. Ibadah ini memang bisa dilakukan dimana dan kapan saja. Meski dalam sebuah acara besar sekalipun.
Seperti yang dilakukan seorang pelajar saat menghadiri acara wisuda di sebuah stadium. Di tengah kegiatan yang masih berlangsung, dia menyempatkan diri salat di tengah lapangan diantara wisudawan lainnya.
Dengan khusyuk dia menunaikan ibadah salat, meski dalam suasana hingar bingar. Yang dilakukan pelajar ini menarik perhatian yang hadir dalam acara tersebut.
© Dream
Ibu Ini Gantikan Wisuda Anaknya yang Tewas Kecelakaan
Dream - Wisuda merupakan momen yang sangat ditunggu oleh setiap remaja, termasuk juga para orangtua. Momen ini begitu mengena, hingga tidak ada satupun orangtua yang mau melewatkan dengan sia-sia.
Tetapi, momen indah itu tidak terjadi pada Katherine Jackson. Ibu paruh baya ini mengenakan toga dan duduk sambil menangis di bangku anaknya ketika wisuda berlangsung di Thornton Fractional North High School, Illinois, Amerika Serikat.
Di saat peserta dan undangan lain begitu gembira, Katherine justru merasa sedih. Ini lantaran anaknya, Aaron Dunigan, 18 tahun, yang seharusnya diwisuda untuk mendapatkan diploma telah meninggal akibat kecelakaan usai menghadiri pesta perpisahan di kampusnya.
Aaron menumpang mobil temannya ketika hendak pulang usai pesta perpisahan. Tetapi, di tengah jalan mobil itu mengalami kecelakaan hingga membuatnya meninggal di tempat kejadian.
Alhasil, Katherine terpaksa menggantikan anaknya untuk mengambil sertifikat diploma. Sembari menangis, dia pun mengaku bangga lantaran anaknya tidak menirunya, yang sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi.
" Anakku tahu ibunya tidak mungkin pernah berjalan di depan panggung ini. Aku akan menjadi kakinya dan dia akan menjadi sayapku dan kita akan pergi ke sana dan mendapatkan ijazah kami," ujar Katherine kepada NBC, akhir pekan lalu.
Tidak hanya Aaron yang meninggal dalam kecelakaan itu. Seorang kakek 56 tahun bernama Juan Rivera juga meninggal.
Sementara beberapa teman Aaron yang sama-sama naik mobil nahas itu mengalami luka serius. Mereka tetap menghadiri wisuda menggunakan kursi roda.
" Anakku meninggalkan sepotong dirinya dalam diri mereka. Setiap kali aku memeluk mereka, aku merasa mereka adalah anakku," kata Katherine.
(Sumber: independent.co.uk)