Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Virus corona dapat bertahan selama tiga hari di beberapa permukaan, misalnya plastik dan baja. Para ahli mengatakan risiko konsumen terinfeksi dari menyentuh bahan-bahan itu masih rendah.
Meski demikian, dilaporkan The New York Times, para ahli menawarkan peringatan tambahan mengenai berapa lama virus bertahan di udara, yang mungkin beriimplikasi bagi pekerja medis.
Studi baru yang diterbitkan New England Journal of Medicine, menunjukkan bahwa virus hancur dalam sehari di atas kertas karton. Temuan itu mengurangi kekhawatiran di antara konsumen bahwa pengiriman pesanan dapat menyebarkan virus selama periode tinggal dan bekerja di rumah.
Ketika virus muncul dari tetesan lebih kecil dari 5 mikrometer, dia dapat tetap ditangguhkan selama sekitar setengah jam, kata para peneliti. Sebelum hanyut dan menetap di permukaan di mana virus tersebut dapat bertahan selama berjam-jam.
Temuan aerosol khususnya tidak konsisten dengan posisi Organisasi Kesehatan Dunia bahwa virus tidak diangkut melalui udara.
Virus ini hidup paling lama di plastik dan baja. Di media tersebut, virus bisa bertahan hingga 72 jam.
Tetapi jumlah virus yang layak menurun tajam selama waktu ini. Virus juga mampu bertahan di atas permukaan tembaga selama empat jam.
Selama berminggu-minggu para ahli berpendapat bahwa virus itu tidak mengudara. Tetapi pada kenyataannya, itu dapat melakukan perjalanan di udara dan tetap ditangguhkan untuk jangka waktu sekitar setengah jam.
Virus tidak berlama-lama di udara. Tetapi prosedur yang digunakan petugas perawatan kesehatan untuk merawat pasien yang terinfeksi cenderung menghasilkan aerosol.
" Setelah kamu mendapatkan pasien dengan pneumonia berat, pasien perlu diintubasi," kata Dr. Vincent Munster, ahli virologi di Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular yang memimpin penelitian.
" Semua penanganan ini mungkin menghasilkan aerosol dan tetesan."
Pada penelitian lain, yang diterbitkan 4 Maret di JAMA, juga menunjukkan bahwa virus dapat terbawa melalui udara. Penelitian yang berbasis di Singapura menemukan virus pada ventilator di kamar rumah sakit pasien yang terinfeksi.
Dr. Marr mengatakan, Organisasi Kesehatan Dunia sejauh ini menyebut virus itu tidak ada di udara, namun petugas layanan kesehatan harus mengenakan peralatan, termasuk masker respirator, dengan asumsi memang demikian.
" Berdasarkan ilmu aerosol dan temuan terbaru tentang virus flu," kata dia, " masker bedah mungkin tidak cukup."
Dr. Marr mengatakan berdasarkan fisika, aerosol yang dilepaskan pada ketinggian sekitar 1,8 meter akan jatuh ke tanah setelah 34 menit. Temuan ini seharusnya tidak membuat masyarakat umum panik.
Dream - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara, Iriana Jokowi mengumumkan hasil tes deteksi Covid-19 Kamis di Istana Bogor, 19 Maret 2020. Dari hasil yang diterima, Jokowi dan dinyatakan negatif Covid-19.
“ Saya dan Ibu Iriana sudah melaksanakan tes deteksi Covid-19 empat hari yang lalu, dan sudah keluar hasil tesnya. Alhamdulillah dinyatakan negatif,” ucap Jokowi.
Jokowi juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada tenaga medis yang sedang bekerja dan merawat para pasien yang terinfeksi Covid-19.
“ Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para dokter, para perawat dan seluruh jajaran rumah sakit, yang sedang bekerja keras penuh dedikasi dalam melayani dan merawat para pasien yang terinfeksi Covid-19,” kata Jokowi.
Jokowi juga kembali mengimbau masyarakat untuk mencegah penyebaran Covid-19 dengan belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan ibadah di rumah.
“ Semoga kita semua diberikan kesehatan yang prima,” kata dia.
Dream - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo ingin menjadikan wabah virus corona, Covid-19, bisa membangun kemandirian bangsa.
Salah satunya, produksi hand sanitizer dari beberapa perguruan tinggi dan SMK menggunakan bahan non-alkohol.
" Ini kesempatan bangsa ini mandiri. Ini kesempatan bangsa ini berdikari," kata Ganjar, Rabu, 18 Maret 2020.
Ganjar mengambil contoh Korea Selatan dalam menangani wabah virus corona. Di Negeri Gingseng itu, dalam sehari produksi masker bisa meningkat menjadi 14 juta.
" Kita mesti tiru ini," ucap dia.
Ganjar juga memantau langkah kuratif yaitu, kegiatan pengobatan untuk penyembuhan penyakit, hingga pengurangan penderitaan akibat penyakit, dan pengendalian penyakit.
Seperti terus memantau perkembangan kuratif berupa mendata persoalan penyediaan alat kuratif yang saat ini kurang.
" Sekarang kita meminta untuk dicari PIC (person in charge) siapa, contact person-nya siapa, terus kita meminta kapasitas yang ada di sana berapa. Intinya satu, kita akan sedikit memaksa agar peralatan-peralatan untuk kuratif ini, terutama alat pelindung diri (APD) ini, ada," beber dia.
Termasuk juga masker, baju hazmat, hingga Virus Media Transfer (VTM). Dia mengatakan, Jateng butuh banyak VTM. Karena itu, pihaknya juga terus mencari siapa yang bisa memproduksi banyak VTM.
" Kita akan paksa untuk produksi lebih banyak," kata dia.
Bahkan bila nanti keputusan otoritasnya di kementerian, Ganjar akan bicara langsung dengan kementerian.
" Intinya, hari ini masker, APD yang baju, VTM harus diproduksi banyak. Negara harus memproduksi banyak. Tekan seminim mungkin harga sehingga bisa dilakukan efisiensi," ujar dia.
Pemerintah daerah juga sudah siap dengan perubahan anggaran atau mendahului anggaran kaitannya penanganan dari antisipasi mewabahnya Corona. Hal itu juga telah diperintahkan mendagri.
Adapun langkah preventif yang juga dilakukan yaitu akan libatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, relawan cerdas dan pintar. Tentu mereka harus paham tentang Covid-19 agar mereka bisa melakukan sosialisasi.
Sumber: Merdeka.com/Rizlia Khairun Nisa