Pelapak e-Commerce Jual Jasa Tampar Online, Tarif Sesuai Pilihan Paket

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 8 Oktober 2021 07:12
Pelapak e-Commerce Jual Jasa Tampar Online, Tarif Sesuai Pilihan Paket
Anehnya, sudah `dipesan` oleh ratusan orang.

Dream – Seiring teknolog yang makin berkembang, cara orang berjualan juga semakin canggih. Kini penjual dan pembeli tak perlu lagi bertatap muka ketika hendak bertransaksi. Tak hanya barang, jasa pun bisa ditawarkan secara online.

Namun ada seorang penjual jasa yang menawarkan layanan tidak biasa melalui sebuah e-commerce di Malaysia. Entah iseng atau benar-benar nyata, seorang seller menawarkan jasa tampar online.  

Dikutip dari World of Buzz, Jumat 8 Oktober 2021, jasa yang terpasang di platform jual beli Negeri Jiran itu mengenalkan jasanya dengan sebutan tampol online.

Penjual memberikan layanan itu dengan mengirimkan foto telapak tangan—ya siap-siap untuk “ menghajar” dengan pesan spesial kepada si penerima.

Layanan tampar online.© World of Buzz

1 dari 6 halaman

Tarif Bervariasi Sesuai Paket

Penjual mengenakan biaya senilai 37 sen-47 sen ringgit (Rp1.292-1.641) untuk setiap tipe jasa. Untuk jasa regular, penjual akan mengirimkan foto telapak tangannya melalui WhatsApp dengan pesan yang spesial pula.

Untuk jasa “ kejutan”, penjual akan mengirimkan foto telapak tangan versi HD melalui file berkas dan akan mengejutkan si penerima.

Menariknya, sudah ada 210 pembeli yang telah memesan jasa tampol online dari penjual. Kemudian, ada 114 pembeli yang puas dan memberikan rating bintang 5!

Wah, ada-ada saja, ya, Sahabat Dream.

2 dari 6 halaman

Hati-Hati! Kecanduan Belanja Online Bisa Bikin Gangguan Mental

Dream - Festival belanja online yang menebar promo dan diskon tak hanya membuat dompet jadi kosong. Jika sudah tak bisa dikendalikan, kebiasaan belanja online ternyata bisa membuat seseorang kecanduan dan mengidap gangguan mental.

Dikutip dari World of Buzz, Jumat 15 November 2019, pakar menyebut kecanduan belanja online sebagai buying shopping disorder (BSD). Istilah ini memang terkenal sejak puluhan tahun yang lalu. Tapi, istilah BSD sesuai dengan perkembangan teknologi.

Dikatakan ada 1 dari 20 orang yang bisa terserang BSD. “ Kondisi ini sudah terlalu lama tidak dikenali,” kata psikolog Hanover Medical School di Jerman, Muller.

 

© Dream

 

Dari studi yang dilakukan kepada 122 pasien yang mencari pertolongan untuk menghentikan kecanduan belanja online ditemukan fakta ratusan pasien ini mengidap depresi dan tingkat kecemasan yang lebih tinggi.

Mereka beralasan maraknya toko online, aplikasi, dan layanan pengiriman barang telah memberikan “ rasa”. Kemajuan internet telah membuat orang semakin mudah berbelanja.

“ Maksud saya, lihatlah betapa gilanya pada hari-hari spesial, seperti 11.11 atau 11.12 di mana semua orang mengakses aplikasi kapan pun sepanjang hari dan membeli beberapa item sekaligus. Ini berarti anak yang lebih muda sekalipun menunjukkan tanda-tanda BSD,” kata dia.

Muller menegaskan bahwa BSD tidak bisa diklasifikasikan sebagain gangguan sendiri. Tapi dia termasuk ke dalam bagian yang disebut gangguan kontrol impulsif spesifik lainnya.

3 dari 6 halaman

Bisa Sebabkan Gangguan Pengendalian Diri dan Tertekan Karena Utang

Para peneliti menjelaskan BSD bisa membuat keinginan untuk membeli barang-barang dan puas saat menghabiskan uang. Tapi, ini juga bisa membuat gangguan dalam pengendalian diri, tekanan ekstrem, masalah kejiwaan lainnya, kesulitan hubungan, serta kekacauan fisik dan utang.

“ Kami berharap bahwa prevalensi belanja oline yang membuat kecanduan, akan mendorong penelitian di masa depan yang membahas karakterisitik fenomologis,fitur, dan konsep perawatan khusus,” kata Muller.

Sekadar informasi kajian ini dipublikasikan dalam jurnal Comprehensive Psychiatry.

4 dari 6 halaman

Stres Istri Belanja Online Rp601 Juta, Suami Nekat Mau Lompat dari Lantai 33

Dream - Pesta belanja online 11.11 telah berakhir. Sahabat Dream sudah mendapatkan barang incaran dan tak sabar menunggu paket itu datang? 

Pesta belanja online tak hanya dilakukan di Indonesia. Di China, pelaku e-Commerce juga menggoda warganya dengan menggelar pesta belanja 11.11 lewat event Single’s Day. Beragam promo membanjiri laman e-Commerce mulai flash sale, penjualan barang dengan harga sangat murah, sampai dengan gratis ongkos kirim.

Event pesta diskon ini bisa membuat banyak orang kalap. Tergiur dengan diskon atau promo yang ditawarkan, banyak orang yang membeli barang yang sebetulnya tak mereka butuhkan. Alhasil, pengeluaran bulanan menjadi membengkak.

Tak hanya kesehatan dompet, mental dan emosi pengguna juga akan terpengaruh. Terlebih lagi para suami.

 

© Dream

 

Dikutip dari World of Buzz, Rabu 13 November 2019, seorang pria bernama Wang dari Luzhou, Sichuan, Tiongkok, sangat tertekan setelah mengetahui istrinya, Zhan, boros saat berbelanja di Single’s Day. Saking tertekannya, dia mengaku ingin bunuh diri.

Dilansir dari China Pres, polisi menerima laporan ada seseorang yang berniat lompat dari atap bangunan 33 lantai. Kejadian ini berlangsung pada 10 November 2019 sekitar jam 8 malam waktu setempat.

Polisi menyelamatkan sang pria dan menenangkannya. Terlihat Wang sangat emosional. Polisi mengembalikan pria itu kepada sang istri yang berjanji tidak akan boros berbelanja online.

5 dari 6 halaman

Belanja hingga Rp601 Juta

Belakangan, Wang diketahui stes berat karena istrinya memiliki utang yang besar selama promosi festival 11.11. Zhan membeli barang-barang mewah seperti tas, parfum, pakaian, dan lainnya senilai total 300 ribu yuan (Rp601,13 juta).

Pria ini memutuskan untuk mengakhiri hidup karena tak tahu cara melunasi utang ratusan juta itu.

Wang mengatakan kejadian itu bukan yang pertama kali. Istrinya memang dikenal gemar berbelanja. Namun kebiasaan itu semakin membuat usai istrinya melahirkan anak ketiga setahun yang lalu. 

Saat festival 11.11 tahun lalu, istrinya telah belanja senilai 200 ribu yuan (Rp400,75 juta). Zhan memang berjanji akan mengendalikan diri dalam berbelanja, tapi tahun ini keingannya dilanggar.

Wang mengatakan hanya menghasilkan beberapa ribu yuan per bulan dan menjadi tulang punggung keluarganya. Sementara itu, sang istri dulunya bekerja di perusahaan properti. Setelah menikah dan melahirkan, dia tinggal di rumah untuk mengurus anak-anaknya.

6 dari 6 halaman

Barang-Barang Ini Selalu Laris Manis Saat Pesta Belanja Online

Belakangan, Wang diketahui stes berat karena istrinya memiliki utang yang besar selama promosi festival 11.11. Zhan membeli barang-barang mewah seperti tas, parfum, pakaian, dan lainnya senilai total 300 ribu yuan (Rp601,13 juta).

Pria ini memutuskan untuk mengakhiri hidup karena tak tahu cara melunasi utang ratusan juta itu.

Wang mengatakan kejadian itu bukan yang pertama kali. Istrinya memang dikenal gemar berbelanja. Namun kebiasaan itu semakin membuat usai istrinya melahirkan anak ketiga setahun yang lalu. 

Saat festival 11.11 tahun lalu, istrinya telah belanja senilai 200 ribu yuan (Rp400,75 juta). Zhan memang berjanji akan mengendalikan diri dalam berbelanja, tapi tahun ini keingannya dilanggar.

Wang mengatakan hanya menghasilkan beberapa ribu yuan per bulan dan menjadi tulang punggung keluarganya. Sementara itu, sang istri dulunya bekerja di perusahaan properti. Setelah menikah dan melahirkan, dia tinggal di rumah untuk mengurus anak-anaknya.

Beri Komentar