Masih Ingat Winamp? Aplikasi Ini Bakal Hidup Lagi di 2019

Reporter : Maulana Kautsar
Selasa, 16 Oktober 2018 19:45
Masih Ingat Winamp? Aplikasi Ini Bakal Hidup Lagi di 2019
Masih punya penikmat.

Dream - Kamu generasi kelahiran 1970-an hingga 1980-an yang memiliki perangkat komputer pasti tahu aplikasi Winamp. Di eranya, aplikasi pemutar musik digital Winamp jadi program yang harus ada di komputer.

Aplikasi musik yang mulai diluncurkan pada April 1997 itu menjadi aplikasi untuk memutar file musik berformat MP3.

Seiring waktu bergulir, aplikasi ini terseret kemunculan program pemutar musik yang lebih modern. Sampai akhirnya pengelola Winamp memutuskan mengakhiri aplikasi ini.

Namun kabar terbaru muncul dari Radionomy, perusahaan yang membeli Winamp dari AOL. Sang CEO Radionomy,  Alexandre Saboudjian, akan kembali menghidupkan Winamp di tahun depan.

Alexandre bahkan sudah memberi isyarat mengenai wajah baru Winamp sejak 2014.

Dikutip dari CNet, Winamp akan kembali di 2019 dengan menawarkan aplikasi mobile audio. Winamp akan membawa semua produk suara, dari musik, podcast, hingga layanan streaming pada satu aplikasi.

" Akan ada versi yagn benar-benar baru tahun depan, dengan warisan Winamp, namun lebih lengkap. Anda dapat mendengarkan MP3 yang mungkin dimiliki di rumah, tetapi juga ke cloud, ke podcast, ke streaming stasiun radio, hingga daftar putar yang kamu buat," ujar Alexandre.

Versi baru Winap dilaporkan akan muncul di iOS dan Android. Winamp sebelumnya telah masuk ke pasar Android pada 2010, namun ditarik ke dari Google Playstore pada 2014.

Selain menyasar ponsel, Winamp juga akan hadir di layar komputer dalam versi Winamp 6.

Meski disebut telah mati, Winamp ternyata masih menyimpan penikmat. Sebanyak 100 juta pengguna di luar Amerika Serikat masih menggunakan Winamp.

Winamp sempat dimatikan pemilik lisensinya, AOL, pada 20 Desember 2013. Tetapi, pernyataan itu tak terbukti.

Pada 14 Januari 2014, radio online agregator asal Belgia, Radionomy membeli Winamp.

 

1 dari 1 halaman

IPB Kumpulkan Ilmuwan Bioteknologi Akuakultur Dunia

Dream – Dunia budidaya perairan/perikanan atau akuakultur telah memainkan peran penting dalam memasok panen perikanan global. Untuk memenuhi permintaan produk perairan, akuakultur harus dikembangkan menuju industrialisasi.

Untuk meningkatkan kualitas dan daya saing di pasar, penciptaan lebih banyak pengusaha akuakultur juga dipandang perlu.

Dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Selasa 18 September 2018, implementasi industri perikanan budidaya juga akan meningkatkan nilai, efisiensi, dan produksi.

Implementasi itu bakal mempercepat pertumbuhan produksi akuakultur dunia yang berorientasi pada tren pasar lokal dan global.

Saat ini, bioteknologi telah terbukti secara efektif dan efisien meningkatkan produksi pangan, proses produksi, dan kualitas produk. Sebagai ilmu pengetahuan terapan, bioteknologi telah menjadi daya tarik luar biasa bagi para pengusaha dan praktisi karena memberikan kesempatan tak terbatas untuk mengembangkan teknologi baru yang dapat memperkuat industri akuakultur.

Di bidang akuakultur, penerapan bioteknologi telah mampu mendukung industri akuakultur untuk meningkatkan produksi secara efisien, termasuk pengembangan kualitas yang baik, harga yang sangat kompetitif, dan pakan yang ramah lingkungan; perbaikan kesehatan organisme air, optimalisasi kualitas air dalam sistem akuakultur, serta perbaikan genetika ikan dan sistem reproduksi dalam akuakultur.

Dalam waktu dekat, pengembangan bioteknologi akuakultur diharapkan akan berperan lebih signifikan dalam memenuhi permintaan pangan global, juga mengatasi masalah ketahanan pangan dunia.

Inilah yang akan dibahas di Konferensi Internasional Bioteknologi Akuakultur (International Conference Aquaculture Biotechnology/ICAB). Konferensi ini akan digelar oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) di International Convention Center Bogor, Jawa Barat, pada 11 Oktober 2018.

Ilmuwan bioteknologi yang rencananya hadir yakni Dr Thavasimuthu Citarasu dari Manonmaniam Sundaranar University, India; Prof Dr Yuji Oshima dari Kyushu University, Japan; Dr. Kartik Baruah dari Swedish University of Agricultural Sciences, Swedia; juga Dr Habil Sonja Kleinertz dari DAAD Fellow Faculty of Fisheries and Marine Science IPB.

Selain penerapan bioteknologi dalam akuakultur, konferensi ini juga membahas kebijakan yang ditujukan untuk meningkatkan dan mempercepat pengembangan industrialisasi akuakultur.

Oleh karena itu, konferensi ini terbuka bagi siapa saja yang memiliki minat yang kuat dalam bidang akuakultur, yang mencakup akademisi, praktisi, peneliti, entrepreneurs dan pembuat kebijakan. 

Beri Komentar