(Foto: European Southern Observatory)
Dream – Salah satu bintang paling langka dan misterius, Swift J1818.0-1607, menampakkan kejadian yang unik. Swift J1818.0-1607 mengeluarkan gelombang radio staccato.
Hal ini membuat Swift J1818.0-1607, menjadi magnetar kelima yang terdeteksi memancarkan gelombang radio, namun yang tampak berbeda adalah tidak seperti keempat magnetar lainnya. Swift J1818.0-1607 justru berperilaku layaknya radio pulsar bukan sebagai magnetar.
Magnetar adalah subkategori dari bintang-bintang neutron yang memiliki medan magnet sangat kuat. Medan magnet ini seribu kali lebih kuat dari bintang neutron normal.
Ahli astrofisika Marcus Lower dari Universitas Teknologi Swinburne mengatakan, pengamatan ini dapat membantu para astronom untuk menghubungkan titik—titik antara dua klasifikasi kedua bintang mati.
“ Saya pikir ini dapat disebut sebagai mata rantai yang berpotensi hilang. Pada tahap ini masih banyak yang kita tidak tahu tentang magnetar baru ini. Tetapi ada kesamaan yang jelas antara pulsar dan magnetar ini,” ucapnya kembali.

Hal ini mengingatkan kembali pada Swift J1818.0-1607. Pada 12 Maret 2020 terdeteksi mengalami ledakan sinar gamma oleh Burst Alert Telescope yang terpasang pada Swift Observatory.
Dua hari kemudian, emisi radio terdeteksi dan analisis awal menemukan bahwa Swift J1818.0-1607 adalah pulsar berputar tercepat yang ditemukan hingga saat.
Menggunakan teleskop radio Parkes Observatory di Australia, Lower dan timnya juga melakukan pengamatan.
" Sepintas, pulsar radio yang dipancarkan oleh Swift J1818.0-1607 terlihat sangat mirip dengan magnetar radio lainnya. Mereka sangat sempit dan kadang-kadang terdiri dari beberapa semburan milidetik," kata Lower.
Bahkan, ledakan radio pulsar itu memiliki kemiripan yang mencolok dengan salah satu pulsar bernama PSR J1119-6127 mengalami ledakan radio sendiri. Dan spektrum ledakan itu tampak sangat mirip dengan spektrum dari Swift J1818.0-1607.
Selain itu, Lower menjelaskan, kedua bintang tersebut memperlihatkan pencerahan radio yang serupa.
" Kemiripannya dengan pulsar yang lebih awal memancarkan gelombang radio membuka banyak petunjuk tentang kemungkinan asal-usulnya, bagaimana magnetar berevolusi dari waktu ke waktu dan validitas asumsi kami sebelumnya tentang emisi radio magnetar,” ungkap Lower.
(Sumber: sciencealert.com)
Advertisement
Ayo Dongeng Indonesia, Gerakan Relawan yang Hidupkan Lagi Tradisi Bertutur


WhatsApp Bakal Luncurkan Fitur Chat Lintas Aplikasi, Pengguna Eropa dapat Giliran Pertama

Sadari Damkar Lebih Dipercaya Publik untuk Urusan Darurat, Kapolri Mau Sempurnakan Hotline 110

Dompet Dhuafa Heartventure, Berbagi Bersama Content Creator di Pelosok Samosir


Sadari Damkar Lebih Dipercaya Publik untuk Urusan Darurat, Kapolri Mau Sempurnakan Hotline 110
Throwback Serunya Dream Day Ramadan Fest bersama Royale Parfume Series by SoKlin Hijab


Rentetan 9 Gempa Guncang Aceh, BMKG Ingatkan Waspada Aktivitas Seismik di Sekitar Simeulue

WhatsApp Bakal Luncurkan Fitur Chat Lintas Aplikasi, Pengguna Eropa dapat Giliran Pertama

Ayo Dongeng Indonesia, Gerakan Relawan yang Hidupkan Lagi Tradisi Bertutur

Aktor Gary Iskak Meninggal Dunia, Sang Istri Memohon Konten Video Kecelakaan Almarhum Tak Disebar

Paniki, Kuliner Ekstrem Khas Sulawesi Utara dari Daging Kelelawar