Kedai Seni Djakarte, Cara Berbeda Nikmati Kota Tua

Reporter : Ratih Wulan
Rabu, 6 Januari 2016 20:15
Kedai Seni Djakarte, Cara Berbeda Nikmati Kota Tua
Konsep kafe yang dibuat senyaman mungkin membuat pengunjung betah berlama-lama menghabiskan waktu di tempat ini.

Dream - Wisata sejarah Kota Tua yang eksotis tengah naik daun. Ratusan wisatawan domestik dan mancanegara silih berganti menyusuri kawasan cagar budaya yang terletak di Jakarta Barat ini.

Deretan bangunan bersejarah terus dilestarikan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta sebagai bukti sejarah nusantara. Di tengah kawasan, sebuah bangunan berdiri megah. Museum Fatahilah yang berdampingan dengan Museum Wayang dan Museum Keramik.

Gedung tua Kantor Pos Indonesia dan Gedung Jasindo yang bersebelahan dengan Cafe Batavia menambah kesan antik kawasan ini. Di antaranya, tampak sebuah bangunan yang tak kalah menarik. Kedai Seni Djakarte.

Letaknya yang strategis, membuat kafe dengan desain interior tempo dulu ini sangat mudah ditemukan. Bangunan dua lantai ini masih bergaya klasik serta mempertahankan keaslian bangunan sejak tahun 1913.

Susi Ratnawati, selaku pemilik kedai menjelaskan jika kafe ini dibuka sejak 2013. Sebagai generasi kedua, Susi merasa sangat bersyukur dapat melestarikan bangunan yang dulu digunakan sebagai gudang alkohol untuk keperluan medis.

" Dulu ini merupakan bagian dari kompleks bangunan kantor Batavia Zee en Brand Assurantie Mij. Awalnya garasi dari kantor asuransi yang di belakang. Kemudian berubah jadi kantor dan suami pernah ngantor di sini sampai 1963," ungkap Ratna yang dijumpai di kawasan Kota Tua Jakarta, Rabu, 6 Januari 2016.

Konsep kafe yang dibuat senyaman mungkin membuat pengunjung betah berlama-lama menghabiskan waktu di tempat ini. Terutama di bagian depan bangunan yang diteduhi pohon-pohon kelapa membuat suasana sangat sejuk.

Tak hanya itu, harga yang ditawarkan Kedai Seni Djakarte ini pun cukup bersahabat. Makanan dan minimunan dibandrol dengan harga di bawah Rp 50.000. Sehingga banyak pengunjung dari anak sekolahan hingga usai dewasa menyerbu tempat ini.

Terutama bagi anak-anak komunitas, sering mengadakan kumpul bareng di tempat ini. Susi menegaskan tidak pernah memungut biaya tambahan bagi mereka yang ingin menggunakan kedainya untuk menggelar acara.

" Kenapa nama kami Kedai, karena kami ingin membuat suasana senyaman mungkin dengan suasana rumahan. Kemudian harga juga bersahabat. Banyak juga anak komunitas fotografer kumpul di sini atau orang-orang melakukan pre-wedding," imbuhnya.

Sedangkan untuk nama seni sendiri, diakui Susi bahwa ada keinginan dari pihaknya membangun nuansa seni di kafe tersebut. Sehingga untuk sementara ini, ia menggandeng beberapa Usaha Kecil Menengah (UKM) yang menitipkan souvenir mereka.

Kemudian, untuk kapasitas pengunjung, kafe ini mampu menampung 120 pengunjung di lantai bawah dan 70 pengunjung di lantai dua. Pada hari-hari biasa, kedai ini dibuka mulai pukul 10.00 hingga 21.00 WIB.

" Kalau weekend kita balik buka pukul sembilan tutup pukul sepuluh," tutur Susi.

Beri Komentar