Anak Pasangan Petani dan ART Ini Lulus Cumlaude

Reporter : Ahmad Baiquni
Sabtu, 30 Januari 2016 09:01
Anak Pasangan Petani dan ART Ini Lulus Cumlaude
Nur Fatimah lulus dengan IPK 3,93. Dia merupakan anak dari pasangan buruh tani dan asisten rumah tangga.

Dream - Segurat senyum tampak di wajah Nur Fatimah, 22 tahun. Gadis kelahiran Batang, 11 Juni 1993 itu tengah merayakan momen membahagiakan, lulus dari Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang, Jawa Tengah.

Kebahagiaan mahasiswi Fakultas Dakwah dan Komunikasi ini semakin genap lantaran Fatimah dinobatkan sebagai lulusan terbaik. Dia meraih predikat cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,93.

Penobatan pada Kamis, 28 Januari 2016 itu disaksikan langsung oleh sang ayah, Mukhari, 47 tahun, yang merupakan seorang buruh tani dan ibunya, Suwanti, yang berprofesi sebagai Asisten Rumah Tangga (ART).

" Saya tidak menyangka putri kedua saya ini menjadi yang terbaik. Saya menangis dan bangga sekali," ujar Mukhari, dikutip dari laman walisongo.ac.id, Jumat, 29 Januari 2016.

Pasangan Mukhari dan Suwanti merupakan keluarga yang sangat kekurangan. Mungkin banyak yang berpikir penghasilan keduanya tidak akan cukup membiayai kuliah Fatimah.

Sebagai buruh tani, Mukhari hanya berpenghasilan sebesar Rp450.000 per bulan. Sedangkan Suwarti memiliki penghasilan sebesar Rp250.000 per bulan.

Meski begitu, keduanya tidak pernah merasa kecil hati. Mereka begitu ikhlas menjalani kehidupannya dan terus berdoa agar anaknya dapat menempuh pendidikan sampai tingkat setinggi mungkin.

" Jadi, kira-kira saya sehari mendapatkan uang Rp13.500, sebagai buruh tani saya tetap bangga, karena anak saya bisa sekolah sampai ke universitas, bahkan bisa melanjutkan sampai ke jenjang yang lebih tinggi," kata Mukhari.

Atas prestasinya itu, Fatimah diganjar beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang Magister oleh Rektor UIN Walisongo. Alhasil, tanpa harus menunggu jeda, Fatimah segera melanjutkan pendidikan.

Fatimah memang tergolong sebagai mahasiswi yang rajin. Dia juga melibatkan diri dalam pelbagai kegiatan kemahasiswaan seperti menjadi anggota Lembaga Pers Mahasiswa MISSI, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Walisongo TV, serta Radio Mitra Berdakwah dan Salawat (MBS) Dakwah.

" Semua itu bisa diraih jika kita pandai manajemen waktu belajar. Saya mengatur jadwal kuliah dan aktivis di buku catatan harian saya. Kalau Subuh belajar untuk mata kuliah yang nanti akan diajarkan, kalau malam buat belajar organisasi seperti menulis," kata Fatimah. (Ism) 

 

 

Beri Komentar