Dedikasi Guru Avan Datangi Rumah Siswa Tak Punya Ponsel dan TV Buat Belajar

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Rabu, 22 April 2020 12:42
Dedikasi Guru Avan Datangi Rumah Siswa Tak Punya Ponsel dan TV Buat Belajar
Banyak murid dari Guru Avan kesulitan belajar di rumah karena tak punya fasilitas.

Dream - Pandemi virus corona semakin mengkhawatirkan. Hal ini mengharuskan pemerintah mengambil beberapa kebijakan demi menekan persebaran virus.

Salah satu kebijakannya yaitu tetap berada di rumah untuk minimalisir aktivitas. Kebijakan itu juga berlaku dalam lingkungan pendidikan, para murid diharuskan belajar dirumah dengan metode online.

Namun bagaimana dengan murid yang tidak bisa mengakses internet dan belajar online?

Dalam kondisi tersebut, tatap muka antara guru dan murid harus tetap dilakukan secara manual. Metode inilah yang digunakan oleh guru bernama Avan Fathurrahman.

Informasi tersebut didapatkan melalui akun Facebook pribadinya. Ia merupakan guru di Sekolah Dasar Negeri Batuputih Laok 3, Sumenep, Jawa Timur.

Avan ini menceritakan perjuangannya harus tetap mengajar di tengah pandemi corona melalui unggahan facebooknya.

 

1 dari 5 halaman

Murid Tak Punya Fasilitas Belajar di Rumah

Avan rela mendatangi rumah siswanya satu persatu dengan jarak tempuh yang sangat jauh. Hal ini ia lakukan karena adanya keterbatasan teknologi. Setelah kebijakan Mendikbud, Avan kebingungan dengan metode belajar online.

" Sudah beberapa minggu saya berada dalam posisi yang dilematis. Bukan masalah rindu. Tapi tentang imbauan Mas Mentri, agar bekerja dari rumah. Ini jelas tidak bisa saya lakukan, karena murid saya tidak punya sarana untuk belajar dari rumah. Mereka tidak punya smartphone, juga tidak punya laptop. Jikapun misalnya punya, dana untuk beli kuota internet akan membebani wali murid," tulisnya.

Bahkan dirinya bercerita ada sebagian orang tua murid yang mengusahan mencari pinjaman uang untuk membeli telepon pintar. Kemudian, hal itu hendak dilarang oleh Pak Avan lantaran hanya membebani pihak orang tua.

" Karena mendengar kabar bahwa rata-rata, anak-anak harus belajar dari HP cerdas. Saya terkejut mendengar penuturannya. Lalu pelan-pelan saya bicara. Saya melarangnya. imbuhnya.

Avan juga mengimbau kepada murid dan wali murid untuk belajar di rumah dengan menggunakan buku-buku pelajaran yang telah dipinjamkan dari pihak sekolah.

" Saya memberikan pemahaman bahwa belajar di rumah, tidak harus lewat HP. Siswa bisa belajar dari buku-buku paket yang sudah dipinjami dari sekolah," tambah Pak Avan.

 

2 dari 5 halaman

Berkeliling Dari Rumah ke Rumah

Akhirnya dengan ketulusan hatinya, Pak Avan rela berkeliling ke rumah siswa yang jaraknya tidak saling berdekatan. Proses pembelajaran keliling tersebut dilakukannya tiga kali dalam satu minggu.

" Saya bilang, bahwa sayalah yang akan berkeliling ke rumah-rumah siswa untuk mengajari. saya memang harus keliling ke rumah-rumah siswa, setidaknya 3 kali dalam seminggu. Medan yang saya tempuh juga lumayan jauh. Selain jarak antar rumah siswa memang jauh, jalan menuju ke masing-masing rumah siswa bisa dibilang kurang bagus. Bahkan jika hujan, saya harus jalan kaki ke salah satu rumah siswa," ucapnya

 

3 dari 5 halaman

Orang Tua Tak Bisa Temani Siswa Belajar

Avan sadar bahwa keputusan yang ia lakukan melanggar kebijakan pemerintah, tapi ia tidak bisa membiarkan muridnya belajar di rumah tanpa pengawasannya.

" Saya sadar ini melanggar imbauan pemerintah agar tetap bekerja dari rumah. Tapi mau gimana lagi? Membiarkan siswa belajar sendiri di rumah tanpa saya pantau, jelas saya kurang sreg. Bukan tidak percaya pada orang tua mereka. Tapi saya tahu, bahwa sekarang mereka sibuk. Ini masa panen padi," jelasnya.

Apa lagi, para wali murid tidak selalu bisa mendampingi anak-anaknya belajar. Wali murid tersebut harus bekerja di ladang atau memanen pagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

" Setiap hari orang tua siswa itu harus bekerja ke sawah. Ikut gotong-royong panen padi dari tetangga yang satu ke tetangga yang lain. Kebiasaan ini mereka bilang " otosan" . Jadi anak-anak harus belajar sendiri. Malam, mereka ke langgar. Maka sayalah yang harus hadir untuk mendampingi mereka begiliran meski sebentar," ungkapnya.

 

4 dari 5 halaman

Tak Semua Siswa Miliki TV

Seharusnya tugas Pak Avan sedikit lebih mudah dengan adanya saluran televisi edukasi yang diusung Mendikbud. Namun, Pak Avan masih merasa miris dengan keadaan beberapa muridnya yang tidak memiliki televisi dirumahnya.

" Saat TVRI menyediakan tayangan edukasi untuk siswa, saya sedikit lega. Kemudian dengan penuh semangat, saya menjelaskan pada siswa dan orang tuanya untuk mengikuti pelajaran di TVRI itu. Ini akan membantu, pikir saya. Tapi, lagi-lagi saya harus menelan ludah. 3 dari 5 siswa saya tidak punya Televisi di rumahnya," terangnya.

Menurutnya, tindakan yang dilakukan bukanlah hal yang baik. Apalagi dengan melanggar beberapa kebijakan pemerintah. Dirinya hanya ingin semuanya berjalan dengan baik tanpa ada kesenjangan pendidikan.

" Saya harus melanggar imbauan pemerintah. Jadi jelas, saya belum menjadi guru yang baik. Tidak memberikan contoh yang baik bagi siswa karena melanggar imbauan pemerintah. Saya bukan tidak takut corona. Takut juga. Tapi gimana lagi?" ungkap Pak Avan.

 

5 dari 5 halaman

Ramai Dibicarakan Warganet

Terlihat dari unggahannya di akun facebook pribadinya pada Kamis (16/4/20) tersebut, Pak Avan mendapatkan respon dari ribuan warganet. Unggahan tersebut sudah ada 5 ribu komentar dukungan bagi Pak Avan dan 10 ribu kali dibagikan.

" Sehat terus pejuang pendidikan, tidak ada yang bisa membalas hanya Allah yang mampu. Terima kasih banyak pak guru semoga menjadi contoh untuk yang lainnya :')," komentar salah satu warganet yang bernama Ressy Anggraeni.

Sumber: /Denny Marhendri

Beri Komentar