Fakta Mencengangkan di Balik Gadis Pemandu Sorak Korea Utara

Reporter : Sugiono
Sabtu, 24 Februari 2018 16:05
Fakta Mencengangkan di Balik Gadis Pemandu Sorak Korea Utara
Pengalaman menegangkan mantan anggota pemandu sorak Korea Utara saat menjalani pelatihan.

Dream - Sebuah pengakuan mengejutkan terkait 'pasukan' pemandu sorak Korea Utara di Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang diungkapkan oleh seorang mantan anggotanya.

Han Seo-hee, seorang pembelot Korea Utara, mengatakan bahwa pasukan pemandu sorak yang dijuluki Army of Beauties oleh dunia internasional itu sebenarnya adalah alat untuk propaganda.

Gadis 30 tahun yang sekarang tinggal di Korea Selatan itu menceritakan tentang kehidupan di balik Army of Beauties kepada BBC dalam sebuah wawancara.

Menurut Seo-hee, dia dan anggota pemandu sorak lainnya dilatih untuk memiliki pemikiran bahwa mereka berada di garis depan untuk mempromosikan ideologi Juche.

Juche adalah sebuah kepercayaan yang disponsori negara yang digunakan rezim Korea Utara untuk mempromosikan agenda sosialis dan nasionalisnya.

" Kami dipisahkan untuk menjalani berbagai jenis pelatihan psikologis. Kami diberitahu bahwa kami tidak boleh terkejut atau tercengang oleh dunia lain," kata Seo-hee.

Yang paling penting, kata Seo-hee, adalah pelatihan khusus agar tidak melupakan negara asal. Meskipun untuk sesaat.

" Dan kami juga tidak boleh lupa bahwa kami ada di sana untuk menghormati Jenderal Kim (Jong-un)," tambah Seo-hee.

Menurut Seo-hee, dia dan teman-temannya tidak hanya ditugaskan untuk memberikan semangat pada para atlet. Tapi diperintahkan untuk masuk ke hati musuh-musuh Korea Utara.

Suki Kim, seorang penulis keturunan Korea-Amerika, mengatakan kepada Business Insider bahwa para anggota Army of Beauties diambil dari sekolah-sekolah menengah atas di Korea Utara.

" Mereka dipilih oleh rezim pemerintah untuk mewakili negara itu di luar negeri," kata Kim.

Kata Kim, mereka seperti mengikuti sebuah kontes kecantikan, namun bukan dalam artian sebenarnya.

" Mereka ikut bukan karena kemauan tapi karena paksaan. Sebagai warga negara Korea Utara mereka tidak punya pilihan lain. Jadi ketika kita melihat gadis-gadis muda ini bersorak, mereka melakukannya bukan dari hati," tambah Kim.

Kata Kim lagi, mereka datang ke sana bukan karena kemauan mereka, tapi itu adalah perintah dari rezim pemerintah Korea Utara.

(Sumber: Business Insider)

Beri Komentar