Hukum Foto dalam Islam Bisa Haram Jika Mengandung Unsur Fitnah

Reporter : Widya Resti Oktaviana
Sabtu, 15 Januari 2022 06:01
Hukum Foto dalam Islam Bisa Haram Jika Mengandung Unsur Fitnah
Hasil foto adalah objek sebenarnya dan bukanlah objek baru yang menyerupai ciptaan Allah SWT.

Dream – Berfoto kini telah mejadi gaya hidup yang tidak bisa dilepaskan dari sebagian besar orang. Apalagi didukung dengan perkembangan teknologi, munculnya smartphone dengan beragam spesifikasi semakin mempermudah setiap orang untuk mengabadikan foto terbaik kapan saja dan di mana saja.

Tidak hanya itu, keberadaan media sosial pun turut membuat aktivitas berfoto semakin tinggi. Sahabat Dream bisa memotret diri sendiri maupun objek lain untuk kemudian diposting di media sosial sebagai ajang eksistensi diri.

Namun, bagaimana sebenarnya Islam memandang tentang aktivitas berfoto ini? Karena ada sebagian pihak yang berpendapat bahwa hukum foto dalam Islam adalah haram. Hal tersebut tidak terlepas dari dalil yang dijadikan sebagai acuannya. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa hukum foto dalam Islam boleh dengan syarat-syarat tertentu.

Oleh karena itu, bagi umat Islam pun penting untuk mengetahui penjelasan terkait boleh dan tidaknya foto dalam Islam. Sehingga mereka tak lagi ragu ketika melakukan aktivitas tersebut, apalagi bagi mereka yang memiliki hobi fotografi.

Untuk mengetahui penjelasan secara lebih lengkap terkait hukum foto dalam Islam, berikut sebagaimana telah dirangkum oleh Dream melalui bincangsyariah.com dan nu.or.id.

1 dari 2 halaman

Gambar dari Kamera Tidak Menghasilkan Objek Baru

Gambar dari Kamera Tidak Menghasilkan Objek Baru© Unsplash.com

Sebelum membahas tentang hukum foto dalam Islam, terlebih dahulu akan dibahas terkait hasil foto tersebut yang diambil dengan menggunakan kamera. Di mana saat sahabat Dream sedang memotret, tentu ada objek yang menarik perhatianmu. Misalnya saja pemandangan, makanan, benda tertentu, orang lain yang ingi difoto, atau diri sendiri.

Nah, saat memotret itu tentu gambar tersebut adalah nyata adanya. Bukanlah menghasilkan suatu objek baru yang menyerupai ciptaan Allah SWT. Tetapi hanya sebatas merekam objek yang ada di sudah ada di depan mata. Seperti dikutip dari bincangsyariah.com, gambar atau pun foto yang dihasilkan dari kamera adalah ibarat gambar hasil cermin.

Hal ini pun dijelaskan dalam sebuah kitab yang bernama Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu yang isinya sebagai berikut:

والسبب في إباحة الصور الخيالية: أن تصويرها لا يسمى تصويراً لغة ولاشرعاً، لما تقدم من بيان معنى التصوير في عهد النبوة، ولأن هذا التصوير يعد حبساً للظل أو الصورة، مثل الصورة في المرآة والصورة في الماء

Artinya: Sebab kebolehan gambar kamera adalah karena proses menggambarnya tidak disebut menggambar secara bahasa maupun syariat, sebagaimana penjelasan mengenai menggambar di zaman kenabian. Juga karena gambar dari kamera hanya mereka bayangan atau gambar, sebagaimana gambar dalam cermin dan dalam air.”

2 dari 2 halaman

Hukum Foto dalam Islam

Hukum Foto dalam Islam© Unsplash.com

Lalu, bagaimana hukum foto dalam Islam? Apakah hal ini diperbolehkan atau tidak? Seperti dikutip dari bincangsyariah.com, aktivitas fotografi atau berfoto dengan menggunakan kamera dalam fikih sendiri disebut dengan al-tashwirus syamsi. Dan menurut Syaikh Wahbah Al-Zuhaili, gambar yang dihasilkan dari kamera tidaklah dilarang Islam. Dalam artian hukum foto dalam Islam adalah boleh.

Hal ini pun dijelaskan dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu sebagai berikut:

أما التصوير الشمسي أو الخيالي فهذا جائز، ولا مانع من تعليق الصور الخيالية في المنازل وغيرها، إذا لم تكن داعية للفتنة كصور النساء التي يظهر فيها شيء من جسدها غير الوجه والكفين، كالسواعد والسيقان والشعور، وهذا ينطبق أيضا على صور التلفاز

Artinya: Adapun kamera gambar dari hasil kamera atau lukisan itu boleh, dan tidak ada larangan untuk menggantungkan gambar animasi di rumah dan lainnya selama tidak mendatangkan fitnah seperti gambar perempuan yang tampak sesuatu dari tubuhnya selain wajah dan kedua telapak tangan, seperti pergelangan tangan, betis, dan rambut. Ini juga berlaku pada gambar televisi.”

Sama halnya jika melakukan aktivitas selfie. Seperti dikutip dari nu.or.id, selfie sendiri adalah hal yang diperbolehkan. Tetapi bisa menjadi haram jika hasil selfie tersebut menimbulkan fitnah dan mengundang orang lain untuk berkomentar negatif. Pendapat ini berdasarkan pada hasil Bahtsul Masail para santri se-Jawa dan Madura di Pondok Pesantren Lirboyo pada 15 April 2015.

Pernyataan tersebut dijelaskan lebih lanjut berikut ini:

الفقه الإسلامي وأدلته الجزء الرابع, ص: ٢٢٤الكتاب: أما التصوير الشمسي أو الخيالي فهذا جائز، ولا مانع من تعليق الصور الخيالية في المنازل وغيرها، إذا لم تكن داعية للفتنة كصور النساء التي يظهر فيها شيء من جسدها غير الوجه والكفين، كالسواعد والسيقان والشعور، وهذا ينطبق أيضا على صور التلفاز  . وما يعرض فيه من رقص وتمثيل وغناء مغنيات، كل ذلك حرام في رأيي

Artinya: Adapun hukum gambar dari hasil kamera itu boleh selama tidak mendatangkan fitnah seperti gambar wanita yang tampak sesuatu dari jasadnya selain wajah dan kedua telapak tangan.”

الكتاب: توشيح على ابن قاسم, ص:١٩٧ الفتنة هي ميل النفس ودعاؤها إلى الجماع أو مقدماته والشهوة هو أن يلتذ بالنظر

Artinya: Yang dinamakan fitnah adalah ketertarikan hati untuk melakukan zina atau pendahuluannya dan mengundang orang lain untuk berkomentar yang negatif.”

Dengan begitu, hukum foto dalam Islam adalah boleh, selama foto yang dihasilkan tidaklah mengandung unsur fitnah. Tetapi jika foto tersebut mengundang fitnah, maka hukumnya pun bisa menjadi haram.

Beri Komentar