Perbedaan Nabi dan Rasul: Pengertian, Keutamaan, dan Penjelasan Rasul Ulul Azmi

Reporter : Arini Saadah
Senin, 3 Agustus 2020 12:00
Perbedaan Nabi dan Rasul: Pengertian, Keutamaan, dan Penjelasan Rasul Ulul Azmi
Nabi dan Rasul jelas memiliki perbedaan yang perlu dipahami oleh umat muslim supaya tidak salah kaprah dalam mengartikannya.

Dream – Perbedaan Nabi dan Rasul sudah dijelaskan secara rinci oleh para ulama Muslim. Umat Muslim wajib hukumnya meyakini keberadaan Nabi dan Rasul meskipun belum pernah bertemu sekalipun.

Nabi dan Rasul jelas memiliki perbedaan yang perlu dipahami oleh umat muslim supaya tidak salah kaprah dalam mengartikannya. Namun, Nabi dan Rasul dikatakan oleh para ulama sebagai manusia-manusia pilihan Allah SWT.

Dengan mengetahi perbedaan Nabi dan Rasul maka umat Islam bisa meneladani perilaku dan ucapan Nabi dan Rasul di kehidupan sehari-hari. Sebab Nabi dan Rasul merupakan suri tauladan umat Islam sepanjang waktu.

Untuk mengetahui dan memahami secara lebih jelas tentang perbedaan Nabi dan Rasul, kali ini Dream akan mengulas pengertian, perbedaan dan keutamaan Nabi dan Rasul secara gamblang dilansir dari berbagai sumber.

1 dari 7 halaman

Pengertian Nabi dan Rasul

Ilustrasi© Pixabay

Sebelum melangkah ke pembahasan tentang perbedaan Nabi dan Rasul, alangkah baiknya kita ketahui terlebih dahulu pengertian Nabi dan Rasul.

Pengertian Nabi dan Rasul telah dijelaskan keberadaannya sebagai utusan Allah di dunia. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt yang tertuang di dalam Alquran surat Al-Hajj ayat 52.

“ Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, kecuali apabila ia mempunyai sebuah keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Nabi merupakan sebuah kata yang berasal dari kata Bahasa Arab Naba yang artinya “ dari tempat yang tinggi”. Pengertian Nabi adalah seorang manusia dari hamba Allah Swt yang diberikan kepercayaan berupa wahyu dari Allah Swt untuk dirinya sendiri dan tidak wajib menyampaikan kepada umat manusia.

Sedangkan kata rasul berasal dari kata Bahasa arab risalah yang artinya penyampaian. Sehingga Rasul adalah seorang laki-laki yang mendapat wahyu dari Allah Swt untuk dirinya sendiri dan wajib menyampaikan wahyu tersebut kepada umat manusia.

2 dari 7 halaman

Jumlah Nabi dan Rasul

Ilustrasi© Pixabay

Bilangan para Nabi dan Rasul memanglah sangat banyak. Ada pendapat ulama yang menyebutkan jumlah Nabi adalah 124.000 orang sedangkan jumlah Rasul ada 312 orang.

Akan tetapi yang sudah diceritakan di dalam kitab suci Alquran dengan riwayatnya masing-masing berjumlah 25 orang. Sehingga 25 Nabi dan Rasul itulah yang wajib kita yakini.

“ Dan sesugguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada pula yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang Rasul membawa suatu mukjizat melainkan dengan seizin Allah.” (QS. Al-Ghafir ayat 787).

Mereka (25 Nabi dan Rasul) itu adalah: Adam, Idris, Nuh, Hud, Sholeh, Ibrahim, Luth, Ismail, Ishaq, Ya’kub, Yusuf, Ayyub, Syu’aib, Musa, Harun, Dzulkifli, Dawud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’, Yunus, Zakariya, Yahya, Isa, Muhammad Saw.

3 dari 7 halaman

Perbedaan Nabi dan Rasul

Ilustrasi© Pixabay

Ada perbedaan antara Nabi dan Rasul. Ulama mengatakan Nabi adalah seorang yang diberi wahyu oleh Allah dengan suatu syariat namun tidak diperintahkan untuk menyampaikannya, akan tetapi mengamalkannya sendiri tanpa ada keharusan untuk menyampaikan.

Sedangkan Rasul adalah seorang yang mendapat wahyu dari Allah dengan suatu syariat dan ia diperintahkan untuk menyampaikan kepada manusia dan mengamalkannya. Setiap Rasul sudah pasti seorang Nabi. Namun seorang Nabi belum tentu Rasul. Berikut beberapa perbedaan Nabi dan Rasul yang akan kami paparkan di bawah ini:

Perbedaan Nabi dan Rasul yang pertama, Nabi menerima wahyu dari Allah Swt untuk dirinya sendiri. Sementara Rasul menerima wahyu dari Allah Swt untuk dirinya dan wajib disampaikan kepada umatnya.

Kedua, Nabi diutus kepada kaum yang sudah beriman, sementara itu Rasul diutus kepada kaum yang belum beriman.

4 dari 7 halaman

Perbedaan Nabi dan Rasul Selanjutnya

Ilustrasi© Pixabay

Perbedaan Nabi dan Rasul yang ketiga, jumlah Nabi sangat banyak, yaitu menurut salah satu pendapat mengatakan sekitar 124.000 orang. Sedangkan jumlah Rasul lebih sedikit, yaitu menurut salah satu pendapat ada 312 orang. Namun yang wajib diyakini ada 25 Rasul yang tercantum di dalam Alquran.

Keempat, Nabi belum tentu Rasul, namun semua Rasul sudah pasti seorang Nabi.

Perbedaan Nabi dan Rasul yang kelima adalah Nabi mendapat wahyu hanya melalui mimpi. Sedangkan Rasul menerima wahyu melalui mimpi, melalui malaikat, serta dapat melihat dan berkomunikasi secara langsung dengan malaikat penyampai wahyu.

Perbedaan antara Nabi dan Rasul yang keenam adalah beberapa Nabi dibunuh di tangan kaumnya sendiri. Sedangkan Rasul diselamatkan oleh Allah dari berbagai macam pembunuhan yang dilancarkan oleh kaumnya.

Terakhir, perbedaan Nabi dan Rasul dilihat dari keteguhan hati diluar batas kewajaran manusia. Sebab Rasul memiliki ketabahan yang luar biasa, khusunya lima Nabi dan Rasul yang tergolong dalam kelompok Ulul Azmi, yaitu para rasul yang memiliki ketabahan hati yang luar biasa, kesabaran tak terbatas, meski ujian dan cobaan datang dari Allah Swt, namun tetap teguh menyampaikan ajaran kepada umatnya.

5 dari 7 halaman

Keutamaan Nabi dan Rasul

Ilustrasi© Pixabay

Rasul memiliki tugas sebagai utusan Allah Swt untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia menjadi lebih baik. Mengingat tugas Rasul yang sangat berat tersebut, Rasul Allah tentu harus memiliki keutamaan berupa sifat-sifat yang wajib ada pada diri mereka.

Sifat-sifat wajib beserta sifat mustahil bagi Rasul adalah:

Pertama, Rasul sudah pasti bersifat Shidiq yang artinya benar atau jujur. Tidak mungkin Rasul memiliki sifat Kadzib atau suka bohong.

Kedua, sifat wajib bagi Rasul adalah amanah artinya dapat dipercaya, tidak mungkin seorang rasul bersifat khianat.

Ketiga, sifat wajib bagi Rasul selanjutnya adalah Tabligh artinya menyampaikan. Tidak mungkin Rasul bersifat kitman atau menyembunyikan ajarannya.

Sifat yang keempat adalah fathonah artinya cerdas, tidak mungkin Rasul bersifat pelupa.

6 dari 7 halaman

Penjelasan Rasul Ulul Azmi

Ilustrasi© Pixabay

Dari 25 Nabi dan Rasul, terdapat 5 di antara mereka memiliki ketabahan yang luar biasa sehingga disebut sebagai rasul Ulul Azmi.

Nabi Nuh ‘alaihi salam

Nabi Nuh as adalah putra Nabi Idris as. Sepeninggal nabi Idris, kaumnya banyak yang melakukan penyimpangan dan kembali menyembah berhala. Sehingga Nabi Nuh harus mengatasi kaumnya yang menympang tersebut dengan sabar dan telaten.

Diceritakan, bahwa Allah akan mengirimkan bencana besar kepada kaum Nabi Nuh as. Bencana tersebut berupa banjir bandang yang akan menenggelamkan seluruh kaumnya. Maka dari itu, Nabi Nuh as diperintahkan untuk membuat sebuah kapal yang besar untuk menyelematkan kaumnya.

Namun, pembuatan kapal dan peringatan akan adanya bencana tersebut justru membuat Nabi Nuh as diejek, dihina, dan ajakannya ditolak mentah-mentah oleh kaumnya, termasuk putranya sendiri bernama Kan’an.

Alhasil, Nabi Nuh as hanya bisa menyelamtkan kaumnya yang masih beriman serta binatang-binatang dari bencana banjir bandang. Kisah Nabi Nuh tersebut diabadikan dalam firman Tuhan surat Al-‘Ankabut ayat 14.

“ Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada Kaumnya, makai a tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.”

Nabi Ibrahim ‘alaihi salam

Beliau tinggal ketika masa kekuasaan raja Namrud yang sombong dan mengaku sebagai Tuhan. Suatu ketika Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala di kota. Mengetahui aksi Nabi Ibrahim tersebut, Raja Namrud murka dan membakarnya hidup-hidup. Namun kobaran api yang dahsyat itu sama sekali tidak membakar tubuh nabi Ibrahim.

7 dari 7 halaman

5 Rasul Ulul Azmi

Ilustrasi© Instagram @Rumahzakat

Nabi Musa ‘alaihi salam

Nabi Musa lahir saat masa kekuasaan Raja Fir’aun. Saat itu Raja Fir’aun memerintahkan untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang baru dilahirkan karena ditakutkan akan menghancurkan kepemimpinannya.

Saat itulah Nabi Musa dilahirkan. Ibundanya, Yukabad mendapatkan mimpi untuk menghayutkan bayi laki-lakinya di sungai Nil.

Lantas bayi tersebut ditemukan oleh istri Raja Fir’aun, Asyiyah. Ia memohon kepada Raja Fir’aun supaya dierbolehkan merawat bayi tersebut dan mengangkatnya sebagai putranya. Saat menginjak dewasa, Nabi Musa mulai menunjukkan pemberontakan terhadap kesewenangan Raja Fir’aun yang kejam.

Kisah paling fenomenal, saat dikejar bala tantara Raja Fir’aun, Nabi Musa memukul tongkatnya di sungai Nil sehingga membelah sungai menjadi jalan raya untuk menyeberangi sungai yang dalam itu. Namun saat Nabi Musa sudah tiba di daratan, ia memukulkan kembali tongkatnya dan bersatulah sungai yang membelah tadi hingga menenggelamkan bala tantara Fir’aun yang masih berada di tengah sungai Nil.

Nabi Isa ‘alaihi salam

Nabi Isa as adalah putra Maryam. Melalui perantara malaikat Jibril, Nabi Isa menerima wahyu berupa kitab suci Injil untuk menyampaikan ajaran sebagai penyempurna kitab sebelumnya. Nabi Isa bisa meniupkan roh kepada burung dari tanah liat, menyembuhkan penyakit parah, serta membuat orang buta kembali melihat.

Nabi Muhammad Saw.

Nabi Muhammad Saw adalah rasul penutup para nabi dan menerima wahyu berupa kitab suci AL-Quran sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya dan juga sebagai pedoman bagi umat Islam di seluruh dunia sepanjang waktu.

(Sumber: Konsultasi Syariah, Merdeka.com, berbagai sumber)

Beri Komentar