Perjuangan Anak Tulang Punggung Keluarga Rawat Ibu Strok, Jadi Buruh Cuci Piring

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 28 Juni 2021 08:00
Perjuangan Anak Tulang Punggung Keluarga Rawat Ibu Strok, Jadi Buruh Cuci Piring
Masih remaja sudah harus jadi tulang punggung keluarga.

Dream - Usianya masih muda, 16 tahun. Tetapi, Nik Mohamad Alis Nik Abd Rashid sudah harus menjadi tulang punggung keluarga.

Remaja asal Kota Bharu, Kelantan, Malaysia, ini harus mengurus ibunya yang terserang stroke sekaligus menjadi tukang cuci piring agar punya pendapatan. Semua itu dia lakukan tanpa mengganggu aktivitas sekolahnya yang masih berlangsung secara online atau jarak jauh.

Sang ibu, Nik Jah Yusoff, 53 tahun, mengalami stroke sejak tiga tahun lalu. Nik Mohamad terpaksa harus menjadi tulang punggung karena sang ayah, Abd Rashid Nik Jusoh, meninggal dunia sebelum 1 Syawal lalu.

Nik Mohamad menjalani pekerjaan sebagai tukang cuci piring di sebuah rumah makan. Penghasilan itu dia gunakan untuk memenuhi kebutuhannya bersama sang ibu.

" Uang ada sedikit karena kerja malam, dapat upah cuci piring di warung makan depan rumah kakak," ujar Nik Mohammad.

1 dari 2 halaman

Membagi Waktu

Nik Mohamad mengaku dia diupah antara 10-15 ringgit, setara Rp34 ribu hingga Rp52 ribu, untuk bekerja selama 1,5 jam setiap hari. Dia mengaku aktivitasnya sama sekali tidak mengganggu jam belajar.

" Pagi saya rawat ibu untuk mandi dan sebagainya. Kemudian jam 08.00 saya belajar dan memenuhi kebutuhan ibu, lanjut belajar jarak jauh lagi," kata dia.

Sang ibu punya anak tiri yang kadang datang membantu. Tetapi, segala kebutuhannya, baik makan, minum, maupun mandi, semua diurus Nik Mohamad.

" Saya sedih juga sebab dia (Nik Mohamad) masih sekolah, sekarang terpaksa bekerja dan menjaga saya. Saya sedih melihat dia, keadaan kami sudah begini," kata Nik Jah.

2 dari 2 halaman

Persiapan Ujian Akhir

Nik Mohamad akan menjalani ujian akhir tahun depan. Sementara dia terpaksa membagi fokus untuk belajar, bekerja dan mengurus rumah.

Belum lagi, mereka tinggal di sebuah rumah kontrak. Sebulan, mereka harus membayar sewa sebesar 250 ringgit, sekitar Rp868 ribu.

Meski begitu, mereka tetap bersyukur karena kebutuhan makanan masih tercukupi. Ini karena Nik Mohamad masih bisa bekerja di tengah pemberlakuan Perintah Pengendalian Pergerakan atau lockdown, dikutip dari Astro Awani.

Beri Komentar