Siksa Anak Tiri hingga Tewas, Si Ibu Kena Azab Saat Lahiran

Reporter : Puri Yuanita
Selasa, 3 Oktober 2017 10:29
Siksa Anak Tiri hingga Tewas, Si Ibu Kena Azab Saat Lahiran
Si ibu melahirkan bayi yang memiliki tanda lahir sama dengan anak tirinya.

Dream - Setiap orang hendaknya memahami konsekuensi perbuatannya. Dia akan menerima balasan kebaikan jika berbuat baik dan mendapat ganjaran keburukan ketika melakukan hal buruk. 

Sebuah kisah nyata di bawah ini bisa menjadi renungan bagi kita tidak berlaku sembarangan. Kisah ini terjadi pada satu keluarga di China. 

Berawal saat seorang pria yang sudah memiliki anak menikah lagi dengan seorang wanita kejam. Usai sang ayah menikah dengan ibu baru, hari-hari si anak pun menjadi penuh dengan kepedihan.

Ibu tirinya kerap menyiksanya hingga suatu hari si anak memilih untuk mengakhiri hidupnya. Dia sudah tidak tahan dengan perlakuan ibu tirinya.

Karena kejahatannya, sang ibu tiri mendapat semacam ganjaran.

Berikut kisah selengkapnya:

Lin Jing-Yun, anak perempuan kecil berumur 5 tahun itu harus selalu menunduk tak berdaya karena siksaan ibu tirinya.

" Kamu mengganggu banget. Tahu nggak sih kalo mukamu tuh nggak enak diliat?

" Nyusahin saja. Pergi sana!" Kata-kata ini selalu didengar oleh Jing-Yun setiap hari dari ibu tirinya.

Kehidupan Jing-Yun sebelum ibu tirinya datang, mungkin bisa dibilang jauh lebih baik.

Mama kandung Jing-Yun tubuhnya memang tidak terlalu kuat. Dia meninggal setelah melahirkan Jing-Yun.

Ibu kandung Jing-Yung kehilangan terlalu banyak darah dan kondisi tubuh yang terus memburuk. Dengan kondisi itu, wanita tersebut melahirkan Jing-Yun dan meninggal dunia.

1 dari 3 halaman

Jadi Pembantu di Rumah Sendiri

Ayah Jing-Yun selalu bekerja di luar kota dan jarang pulang ke rumah. Karena itu, Jing-Yun dititipkan di rumah neneknya yang juga sudah tua.

Suatu hari di usia Jing-Yun yang ke-4, neneknya meninggal karena sakit. Saat itu ayahnya kemudian membawa seorang wanita berumur 30-an ke rumahnya untuk menjadi ibu tiri Jing-Yun.

Bukannya semakin terjaga, kehidupan Jing-Yun semakin terpuruk. Dia sering dipukuli dan disiksa oleh ibu tirinya.

Jadwal kerja sang ayah yang padat membuat pria itu semakin jarang pulang. Alhasil, penderitaan Jing-Yun semakin menjadi-jadi. 

Jing-Yun sering dipaksa menjadi pembantu di rumahnya sendiri. Tidak hanya itu, dia juga sering disiksa oleh ibu tirinya sendiri.

2 dari 3 halaman

Gadis Malang itu Bunuh Diri

Tubuh Jing-Yun penuh luka. Dia sering harus menahan sakit dan menangis tersedu-sedu di ruangan kecil tempatnya dikurung.

Tidak ada cahaya dan tidak ada makanan, Jing-Yun harus bertahan di bawah tekanan yang sangat tinggi. Ibu tirinya tidak peduli dan dia hanya menonton TV, menikmati hidup, sementara anak tirinya menderita di ruangan kecil itu seharian.

Kemudian demi menyenangkan hati suami, si ibu tiri hamil. Sukacita yang ada di keluarga sedikit banyak membuat mereka lupa akan Jing-Yun.

Hari demi hari, Jing-Yun semakin menderita tanpa ada seorang pun yang tahu keadaannya.

Sampai suatu hari, Jing-Yun mengumpulkan semua kesedihan dan penderitaan seumur hidupnya. Gadis cilik itu nekat mengakhiri hidupnya sendiri.

Ketika dia ditemukan, tangannya yang sudah memutih dialiri darah.

 

 

3 dari 3 halaman

Kena Azab

Semua orang kaget, mata kecilnya tampak seperti menatap kedua orangtuanya. Sukacita yang tadinya ada di antara keluarga itu tiba-tiba hilang.

Darah segar yang mengucur dari anak kecil itu membuat si ayah menyesal seumur hidup.

" Maafkan papa... Maafkan papa..." Tidak hanya itu, guncangan atas peristiwa itu membuat si ibu tiri terkaget-kaget dan melahirkan di tempat.

Yang lebih mengagetkan, bayi yang baru lahir itu punya tanda lahir yang sama persis dengan Jing-Yun.

Apakah arti kesamaan tanda lahir tersebut, apa mungkin Jing-Yun terlahir kembali untuk membalaskan sakit hatinya?

Ibu tiri pun langsung pingsan setelah melihat hal ini.

Di hari-hari berikutnya, ibu tiri Jing-Yun terus mengungkapkan, " Maaf. Maaf. Maaf."

Para dokter memeriksa keadaannya dan dia dinyatakan sakit jiwa.

Kejadian ini membuat ayah dari Jing-Yun bertekad berhenti dari pekerjaannya dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan keluarga.

Ia juga berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Wallahualam

(Sumber: www.wajibbaca.com)

Beri Komentar